Lokadata.ID

Harga saham melesat, emiten lab kesehatan meraup untung saat pandemi

Warga mengikuti test swab COVID-19 pada acara Program BNI Berbagi Swab Test gratis di Jakarta, Rabu (20/5/2020).
Warga mengikuti test swab COVID-19 pada acara Program BNI Berbagi Swab Test gratis di Jakarta, Rabu (20/5/2020). Muhammad Adimaja

Di tengah pandemi Covif-19, sektor kesehatan merupakan salah satu lapangan usaha yang tengah melejit. Setelah bisnis rumah sakit, kini harga saham sejumlah emiten di subsektor laboratorium membumbung tinggi. Kinerja perusahaan lab ini juga sedang tumbuh signifikan.

Saat ini, ada dua perusahaan yang bergerak di bisnis laboratorium, yakni PT Prodia Wahyuhusada Tbk dan PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk. Prodia tercatat sudah melantai di bursa saham sejak 2016, sedangkan Diagnos Lab Utama baru mencatatkan saham perdananya (initial public offering/IPO) pada 4 Januari lalu.

Berdasarkan catatan BEI, harga saham Prodia, misalnya, naik signifikan 159,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp7.800 per lembar saham, Kamis (5/8/2021) lalu. Bahkan sejak 2 Juli lalu, harga saham perusahaan ini naik dari posisi Rp4.600 ke Rp8.750 hanya dalam waktu sepekan –meski setelahnya relatif menurun.

Harga saham Diagnos Lab Utama juga meningkat. Pada saat perusahaan ini IPO, harga sahamnya masih di posisi Rp270 per lembar saham. Saat ini, harga saham perusahaan dengan kode emiten DGNS ini sudah berada di kisaran Rp1.085 per lembar, atau melejit empat kali lipat.

Laporan keuangan Prodia menunjukkan, pendapatan perusahan pada semester pertama tahun ini naik 88,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2020 menjadi Rp1,24 triliun. Jika dibedah, pendapatan laboratorium naik 91,2 persen. Setelahnya, pendapatan segmen nonlaboratorium juga naik 61,6 persen, dan pendapatan klinik 61,5 persen.

Perusahaan dengan kode emiten PRDA ini di periode yang sama juga berhasil mencetak kenaikan laba menjadi Rp301,02 miliar. Angka ini berbanding terbalik dari rugi periode yang sama 2020 sebesar Rp12,91 miliar. Bahkan, laba Prodia pada semester satu tahun ini melampaui perolehan laba pada 2020 secara keseluruhan sebesar Rp268,75 miliar.

Dalam laporan keuangan Prodia juga disebutkan, perusahaan ini bergerak di sektor jasa pelayanan kesehatan. Perusahaan ini tercatat memiliki 263 kantor cabang serta outlet-outlet yang tersebar di seluruh Indonesia.

Diagnos Lab Utama juga memiliki kinerja yang baik. Berdasarkan laporan keuangan per Maret lalu, perusahaan ini membukukan pendapatan mencapai Rp87,87 miliar, atau tumbuh 462,2 persen secara tahunan dari periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya Rp15,63 miliar.

Laporan keuangan DGNS yang lebih rinci menunjukkan, pendapatan perusahaan tumbuh didorong oleh segmen pelanggan individu yang melompat 1.218,6 persen menjadi Rp5,52 miiliar. Setelahnya, pendapatan dari referensi dokter juga naik 247,1 persen. Perusahaan juga meraih pendapatan dari klien korporasi sebesar Rp29,66 miliar.

Diagnos juga berhasil meraih laba sebesar Rp21,79 miliar, meningkat luar biasa 1.293,8 persen dari keuntungan periode yang sama 2020 yang hanya Rp1,56 miliar. Dilihat dalam jangka panjang, selama periode 2018-2020, laba perusahaan ini rata-rata tumbuh signifikan 583,1 persen.

DGNS bergerak di sejumlah bidang, antara lain laboratorium kesehatan, pusat gambar diagnosa, laboratorium pemeriksaan darah, gudang farmasi, bank mata, bank darah, bank sperma, bank transplantasi organ, dan pelayanan penunjang medik lainnya. Perusahaan memiliki 3 kantor cabang serta 15 outlet di berbagai daerah.

Proyeksi

Direktur Utama Prodia, Dewi Muliaty mengatakan, pencapaian perusahaan pada sepanjang semester satu tahun ini mencerminkan sejumlah upaya manajemen antara lain dengan mengantisipasi ketidakpastian pasar, maupun merespons kebutuhan pelanggan.

“Saat ini, kami memiliki posisi keuangan yang kuat dan terus berupaya menghasilkan pendapatan dan laba yang solid, sehingga kami dapat terus memberikan imbal hasil yang tinggi bagi pemegang saham dan nilai tambah berkelanjutan bagi pemangku kepentingan kami,” kata Dewi dalam keterangan pers melalui keterbukaan informasi BEI, Rabu (4/8).

Menurut Dewi, selama semester pertama 2021, perusahaan telah melayani lebih dari 8 juta pemeriksaan kesehatan, terdiri dari: tes genomik, tes rutin, tes Covid-19, dan pemeriksaan kesehatan lainnya. Saat ini, perusahaan juga terlibat dalam program vaksinasi massal khususnya gotong royong dengan menyiapkan 56 cabang.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan DGNS, Fanfan Riksani mengatakan, pada 2020 lalu telah melaksanakan tes sebanyak 546.313, naik dua kali lipat dibandingkan 2019 yang hanya 255.089 kali. “Selama pandemi Covid-19, perseroan mampu meningkatkan pendapatan lewat kerja sama dengan banyak perusahaan dan fasilitas kesehatan,” kata Fanfan, Rabu (28/7).

Fanfan menyebut, perusahaan juga akan ekspansi dengan membuka baik cabang baru maupun outlet. Dia mengatakan, hingga Juli 2021, perseroan sudah menambah outlet dan cabang menjadi 24 unit. Bahkan hingga akhir Agustus 2021, perusahaan menargetkan akan ada 32 cabang dan otlet yang siap beroperasi.

Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus berpendapat, kedua perusahaan lab yang tengah mencatatkan kenaikan harga saham ini yang sejalan dengan kinerja mereka. Kondisi itu, katanya, tercermin dari peningkatan pendapatan serta laba yang mereka raih.

Nico memperkirakan, emiten laboratorium ini ke depannya masih akan prospektif dengan tetap memiliki ruang untuk tumbuh. Menurutnya, pertumbuhan kinerja mereka setidaknya bisa dilihat sampai akhir tahun ini bahkan tahun depan.

“Suka tidak suka, di masa pandemi ini ada sektor yang naik tajam tapi ada juga yang turun dalam. Sektor kesehatan salah satu yang meningkat, khususnya pada emiten laboratorium ini,” kata Nico kepada Lokadata.id, Jumat (6/8). Menurut Nico, Prodia bakal memiliki prospek yang lebih baik karena memiliki lini bisnis yang lebih beragam serta pangsa pasarnya yang cukup luas.