Lokadata.ID
Idris Gautama: Potensi bisnis pendidikan masih besar
Direktur Kampus Binus Bekasi, Profesor Idris Gautama So, saat sesi foto di Universitas Bina Nusantara Bekasi Jalan Lingkar Boulevard, Summarecon Bekasi, Jawa Barat, Kamis (12/11/2020) Aminudin Azis/Lokadata.id

Idris Gautama: Potensi bisnis pendidikan masih besar

Ia merefleksikan kultur di Kampus Binus dan strategi bisnisnya dalam menghadapi implikasi Covid-19.

Bagi Idris Gautama So, Bina Nusantara (Binus) lebih dari sekadar kampus. Ia menyebutnya rumah, karena ia belajar di sana hingga bertransformasi menjadi guru besar di bidang manajemen. Kini, rumahnya sedang hadapi banyak tantangan. “Di antaranya pembelajaran jarak jauh dan strategi bisnis kampus, yang sebenarnya sudah diantisipasi jauh-jauh hari,” ujar Direktur Kampus Binus Bekasi ini.

Di sektor pendidikan tinggi, hampir semua universitas memang terdampak pandemi Covid-19. Opini di berbagai media bahkan menyatakan akan ada kekurangan besar dalam pendapatan universitas yang memengaruhi pembelajaran dan penelitian. “Efek pandemi ini niscaya bakal terjadi kalau kita tidak siap,” tutur Idris saat wawancara dengan Heru Triyono dan Aminudin Azis di Kampus Binus Bekasi, Jawa Barat, Kamis siang (12/11/2020).

Berdiri di atas tanah seluas 3,6 hektare dua tahun silam, Binus Bekasi sebenarnya dapat menampung 20 ribu mahasiswa. Ada empat prodi yang ditawarkan: Business Management, Business Information Technology, Accounting, serta Bussines Hotel Management.

Tapi, siang itu, gedung utama, perpustakaan dan lapangan basket begitu sepi. Cukup sunyi. Hanya ada suara-suara kecil petugas kebersihan dan sekuriti di beberapa koridor. “Kita terus menyesuaikan diri dengan kenyataan baru ini. Protokol ketat sampai pandemi berlalu,” katanya.

Idris lahir di Medan, di mana ayahnya adalah karyawan swasta biasa. Ia mengatakan, amat mengagumi dedikasi ayahnya untuk membina keluarga. Saat kuliah, Idris menyambi bekerja dan itu memberinya pelajaran pertama dalam manajemen bisnis.

Dalam perbincangan, ia mengulas bagaimana kinerja Binus selama Covid-19 hingga strategi bisnisnya—selama satu jam. Berikut tanya jawabnya:

Direktur Kampus Binus Bekasi, Profesor Idris Gautama So, saat sesi foto di Universitas Bina Nusantara Bekasi Jalan Lingkar Boulevard, Summarecon Bekasi, Jawa Barat, Kamis (12/11/2020)
Direktur Kampus Binus Bekasi, Profesor Idris Gautama So, saat sesi foto di Universitas Bina Nusantara Bekasi Jalan Lingkar Boulevard, Summarecon Bekasi, Jawa Barat, Kamis (12/11/2020) Aminudin Azis / Lokadata.id

Sejauh mana Binus dapat mengembangkan strategi bisnisnya di tengah pandemi berkepanjangan ini?
Untuk diketahui, APK pendidikan tinggi saat ini mencapai 34,58 persen. Tadinya kan 33 persen. Artinya apa? Ya potensi pendidikan masih cukup besar dari segi bisnis.

Terkait pengembangan. Ya kita tetap melaksanakan rencana-rencana kita meski pandemi. Yang paling dekat adalah pembangunan kampus Binus di Semarang.

Kita sudah ground breaking Oktober lalu. Dijadwalkan, Binus Semarang akan memulai pendidikannya pada tahun ajaran 2022.

Cukup anomali ya ketika kebanyakan kampus justru kesulitan keuangan akibat pandemi…
Kita bersyukur. Karena orang percaya kepada Binus, sehingga minat mereka untuk masuk tidak berkurang. Bahkan jumlahnya lebih dari tahun lalu.

Iya. Di berbagai media, universitas-universitas di Amerika dan Inggris bahkan terancam bangkrut. Padahal standar pengelolaan kampus di sana tentu lebih baik. Apa yang terjadi?
Karena mereka banyak bergantung kepada mahasiswa luar negeri. Ya kembali lagi. Serius enggak kita mengelola kampus. Kalau Binus tentu serius dan sudah ada bukti-buktinya.

Bukti apa?
Ya ambil contoh saja. Presiden Direktur PT IBM Indonesia itu adalah Binusian tahun 2002. Dan banyak lagi alumni Binus di perusahaan-perusahaan besar. Termasuk founder Tokopedia, William Tanuwijaya.

Saya tidak mengklaim bahwa mereka bisa jadi seperti itu karena Binus 100 persen. Tidak. Itu contoh saja.

Oke. Apa pertimbangan bisnis Binus ketika mendirikan kampus di Bekasi?
Di Bekasi itu sebenarnya sudah empat tahun ya. Dua tahun awal kita masih pelajari pasar dan sebagainya. Gedung pun masih sewa.

Ternyata minat orang Bekasi untuk masuk Binus cukup tinggi. Saat kita bangun kampus Bekasi, sudah seribuan orang belajar di sini.

Apakah sesuai dengan ekspektasi?
Sebenarnya kan minat itu muncul karena orang percaya. Ya Binus memang amat serius di pendidikan.

Itu bisa dilihat dari QS World University Rankings. Binus itu sekarang nomor 7 di Indonesia. Kalau hitungan 9 besarnya, ya yang kampus swasta itu cuma Binus.

Banyak peminat untuk kuliah di Binus, tapi mungkin uang kuliah di Binus itu begitu mahal
Itu kan relatif. Kuliah kan ada segmennya dan mengelola kampus ini mirip-mirip mengelola bisnis juga. Cuma, tanggung jawab sosialnya tinggi.

Artinya kita harus menjaga profesionalisme dan kualitas. Istilah bisnisnya kan QCD, yaitu quality, cost dan delivery. Ya kalau mau kualitas kelas dunia, tentu ada konsekuensinya.

Uang kuliah mahal itu menjadi beban moral Binus terhadap alumninya?
Pertanyaan masuk akal. Begini. Binus itu enggak cuma kuliah dan lulus saja. Tapi kita tracing selama lima tahun setelah mahasiswa itu lulus.

Jadi, sebelum lulus, kita sudah menyiapkan mahasiswa untuk mudah mencari pekerjaan.

Itu jadi tugas kami. Bukan cuma masuk, bayar dan sudah selesai. Enggak.

Seperti apa program persiapan untuk mahasiswa sebelum lulus itu?
Kami punya program three plus one. Tiga tahun itu kuliah serius banget, kemudian dalam setahun, mahasiswa akan diberi pilihan--sembari internship (magang).

Pilihannya: mau jadi enterpreneur, kerja profesional, peneliti, kuliah di luar negeri atau community development.

Mana yang paling banyak diminati?
Ya mereka antusias untuk internship di semua pilihan itu. Karena kita kerja sama dengan dua ribu lebih perusahaan. Bukan magang disuruh bikin kopi atau fotokopi.

Tapi mahasiswa harus berkontribusi di tempat dia bekerja. Sehingga, sebelum lulus, mereka sudah direkrut perusahaan itu.

Direktur Kampus Binus Bekasi, Profesor Idris Gautama So, saat sesi foto di Universitas Bina Nusantara Bekasi Jalan Lingkar Boulevard, Summarecon Bekasi, Jawa Barat, Kamis (12/11/2020)
Direktur Kampus Binus Bekasi, Profesor Idris Gautama So, saat sesi foto di Universitas Bina Nusantara Bekasi Jalan Lingkar Boulevard, Summarecon Bekasi, Jawa Barat, Kamis (12/11/2020) Aminudin Azis / Lokadata.id

Bagaimana Binus beradaptasi dengan penerapan protokol dan pembelajaran jarak jauh selama ini?
Protokol kita ketat ya. Ada scan barcode dan permintaan identitas saat masuk.

Setiap hari, ruangan juga dibersihkan dengan disemprot desinfektan. Kita taat kepada kebijakan pemerintah dan tidak ada masalah dengan itu.

Kendala apa saja yang dihadapi dalam pelaksanaan pendidikan jarak jauh?
Nah, itu dia. Kami beruntung sudah duluan menerapkannya. Apalagi kami dikenal sebagai kampus berbasis IT kan.

Ya, sebelum pandemi pun kita sudah melakukan pembelajaran jarak jauh. Formasinya: sekian belas tatap muka, lalu tiga pertemuan dilakukan online.

Beruntungnya, kami ini swasta dan menangkap bahwa konsep online itu akan jadi tren.

Sehingga lebih fleksibel saja untuk menerapkan sistem pembelajaran tersebut—sepanjang semua ketentuan pemerintah sudah kita penuhi.

Anda sependapat bahwa value kampus swasta saat ini terkesan lebih bergengsi ketimbang negeri?
Begini. Tolong koreksi jika saya salah. Dulu itu orang lulus kan ingin jadi PNS. Nah sebagian orang beranggapan kalau lulusan negeri lebih gampang jadi PNS.

Tapi, seiring waktu, orang mulai melirik menjadi enterpreneur, ingin bekerja di perusahaan multinasional, dan lain-lain. Sehingga mereka mencari dong kampus-kampus yang memfasilitasi itu.

Atau ketika tidak diterima di negeri mereka akan melirik swasta?
Ya mereka pasti memilih swasta yang berkualitas. Paling enggak setara dengan kampus negeri yang bagus.

"Gila kalau kita ingin hasil yang beda tapi memakai cara yang sama terus menerus. "

Idris Gautama

Menurut Anda, kenapa pendidikan di Indonesia belum merata?
Ini soal akses bahan pembelajaran dan informasi ya. Kalau dulu kan di daerah kesulitan untuk akses itu. Tapi sekarang, dengan perkembangan teknologi informasi, semua bisa diatasi.

Pandemi ini kan salah satu tantangan saja. Ke depan, masih banyak lagi perubahannya. Coba perhatikan, teknologi drone dan mobil listrik.

Apa Anda yakin mobil-mobil sekarang masih beroperasi untuk 15 tahun lagi?

Termasuk tren startup pendidikan. Apakah bisa menyaingi pendidikan konvensional?
Termasuk itu. Lihat juga Gojek atau Tokopedia. Aset mereka besar padahal cuma aplikasi. Tentunya itu memengaruhi program pendidikan yang selama ini berjalan.

Kalau aset Binus ada berapa ya?
Anda tinggal hitung saja. Di Alam Sutera kita punya gedung 21 lantai. Di Kemanggisan ada 8 lantai plus asrama. Kemudian Bandung dan Malang. Silakan hitung. Ha-ha.

Apakah sejak berdiri 40 tahun lalu Binus pernah mengalami kerugian?
Ya kalau struggle pasti ada. Apalagi pas di awal-awal. Mungkin model bisnisnya belum ditemukan yang cocok gitu lho.

Di daerah Grogol, dekat Kemanggisan sana kan sudah ada perguruan tinggi-perguruan tinggi terkenal.Makanya model bisnis kita berbeda dengan mereka.

Prinsipnya begini: if you are doing the same thing again and again and you want the different result that is insanity.

Jadi, gila kalau kita ingin hasil yang beda tapi memakai cara yang sama terus menerus.

Apa yang beda dari Binus dari konsep model bisnisnya?
Prinsipnya itu kita terus berinovasi dan mengkritisi apa yang kita lakukan. Terus-menerus. Caranya? Ya kita belajar dari berbagai perguruan tinggi. Kita kan punya 130 partner dari seluruh dunia.

Nama Anda unik. Idris Gautama. Apa artinya?
Tidak ada arti khusus. Idris itu nama nabi yang boleh berkunjung ke surga saat masih hidup. Gautama adalah nama Buddha, seseorang yang sudah mencapai kesadaran agung.