Lokadata.ID

IHSG sudah turun 6,9 persen, saatnya investasi secara bertahap

Karyawan berada di depan monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (18/1/2019).
Karyawan berada di depan monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (18/1/2019). Sigid Kurniawan / Antara Foto

Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tahun ini, menjadi peluang bagi untuk menambah investasi. Terutama bagi investor dengan karakter investasi jangka panjang.

Hingga Kamis (13/2/2020), IHSG sudah turun 6,79 persen secara year to date ke level 5.871,95. "IHSG semakin menarik. Ini peluang untuk investasi secara bertahap di pasar saham Indonesia," saran Senior Portofolio Manager – Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Caroline Rusli.

Namun Caroline memberi catatan. "Identifikasi peluang investasi melalui proyeksi makro ekonomi dan analisa fundamental masing-masing emiten," imbuhnya.

Dalam jangka pendeka, Caroline menyarankan sektor saham yang lebih defensif. Terutama dengan pengaruh yang lebih kecil terhadap ekonomi global.

"Seperti sektor barang konsumsi dan semen," tambah Caroline.

Kepala Riset Praus Capital Alfred nainggolan juga merekomendasikan saham sektor barang konsumsi. Tapi, dia menambahkan sektor properti sebagai pilihan lain.

"Lingkungan sektor properti sedang baik. Suku bunga rendah, hingga pelonggaran loan to value (LTV). Bank jadi mau menyalurkan kredit pemilikan rumah (KPR)," kata Alfred.

Obligasi dan reksadana saham

Sementara itu, Bank Commonwealth merekomendasikan investor berprofil risiko moderat menambah porsi portofolio ke obligasi. Untuk investor dengan profil risiko agresif dapat memanfaatkan peluang ini untuk menambah porsi aset kelas saham.

"Melalui reksadana saham," tutur Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth Ivan Jaya.

Ivan menjelaskan, obligasi memberikan tiga keuntungan bagi investor. Pertama, investor akan mendapatkan kupon secara berkala, biasanya lebih tinggi dari bunga deposito.

Kedua, berpotensi memperoleh capital gain, jika obligasi tersebut dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Ketiga, risiko yang lebih rendah dibandingkan instrumen saham.

"Harga obligasi di pasar sekunder cenderung memiliki volatilitas yang lebih rendah dibandingkan dengan instrumen saham. Bahkan untuk obligasi yang diterbitkan pemerintah bebas risiko alias risk free,” tambah Ivan.