Lokadata.ID
Iman Brotoseno: Saya ini orang bebas sekarang
Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (Dirut LPP TVRI) Iman Brotoseno saat ditemui di kantor LPP TVRI, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu siang (20/6/2020). Wisnu Agung/Lokadata.id

Iman Brotoseno: Saya ini orang bebas sekarang

Ia merasa reputasinya dibunuh karena dianggap simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang diklaimnya tak benar.

Melangkah ke ruang kerja Iman Brotoseno kita diperlihatkan barang-barang yang telah membentuk hidupnya. Ada buku-buku sejarah, lukisan ka’bah dan penghargaan Iman sebagai penulis dan sutradara.

Tapi yang mentereng adalah poster besar film “3 Srikandi”, sebuah cerita feminisme dalam balutan nasionalisme. “Saya suka buku sejarah. Bukan hanya buku seputar tragedi 65 ya. Tapi semua,” ujar Iman.

Gara-gara dituduh kiri, kontroversi memang menyerbu Iman bagai badai tornado, yang berputar pada isu itu-itu saja: konten media sosial berbau pornografi hingga tuduhan pro-PKI, yang bikin banyak alis terangkat.

Sebenarnya Iman sadar akan disorot saat menjadi Direktur Utama LPP TVRI. Sebab itu ia menutup semua akun media sosialnya, termasuk blog. Ia mendaku ingin fokus mengurus TVRI dulu—sejak dilantik hampir sebulan lalu.

“Saya mau istirahat dari medsos enam bulan,” kata Iman saat wawancara dengan Heru Triyono dan fotografer Wisnu Agung pada Sabtu siang (20/6/2020).

Setelah saling sapa di ruang kerja, Iman membawa kami menuju tempat wawancara. Tempatnya di menara pemancar setinggi 147 meter—saat matahari mengambang tepat di atas Jakarta. Ia tak sungkan duduk menyilangkan kaki di atas kursi dadakan berlapis karton.

Syahdan, Iman tak mengingkari ketidaknyamanannya soal kultur birokrasi TVRI. Bagaimanapun, ia adalah sutradara yang biasa bicara dengan kru genset sampai tukang lampu. Makanya sampai saat ini ia menolak fasilitas sopir dan ajudan, serta merasa biasa saja ketika makan di kantin bersama karyawan lain.

“Ha-ha. Pertama kali ke sini saja pakai Grab,” tutur Iman, yang mengenakan jaket jin bergambar Sukarno bertulis Vivere Pericoloso, sebuah frasa Italia yang berarti hidup menyerempet bahaya.

Selama satu jam ia menjawab berbagai pertanyaan. Mulai soal Majalah Playboy hingga pandangannya tentang PKI. Berikut perbincangannya:

Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (Dirut LPP TVRI) Iman Brotoseno saat ditemui di kantor LPP TVRI, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu siang (20/6/2020).
Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (Dirut LPP TVRI) Iman Brotoseno saat ditemui di kantor LPP TVRI, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu siang (20/6/2020). Wisnu Agung / Lokadata.id

Dengan background sebagai pekerja film, bagaimana tiga minggu Anda di TVRI?
Pasti ada gagap budaya ya. Dalam arti budaya birokrasinya—yang tentu berbeda dengan pengalaman kerja saya.

Di sini, saya harus berhadapan dengan sumber daya manusia yang mungkin belum terbiasa dengan ritme saya.

Tapi itu gak jadi masalah. Meski beberapa hal harus saya buat penyesuaian.

Ada yang perlu dibenahi dari sumber daya manusia yang ada?
Justru mereka ini punya skill luar biasa. Kalau bicara kemampuan teknik, teman-teman di TVRI itu di atas rata-rata.

Cuma, pemahaman membuat konten bagus dan mengemasnya itu yang harus diolah lagi.

Bukannya Anda pernah mengkritik SDM TVRI yang Anda bilang tua-tua di media sosial…
Itu cuitan 10 tahun lalu. Saat itu saya sebagai orang luar. Saya minta maaf karena menyinggung.

Dan di TVRI itu memang 70 persennya di atas usia 45 dari total 4800 pegawai. Itu realitas.

Bahkan, di TVRI Bandung, rata rata pegawainya di atas usia 50 tahun. Hanya satu yang berusia antara 30 – 40 tahun.

Ya, bagaimanapun, mereka harus berpacu dengan teman-teman muda di televisi lain. Harus bisa, karena skill mereka ini bagus.

Rintangan itu menyulitkan Anda?
Begini. Untuk merekrut pegawai kan tergantung Kemenkominfo ya. Jadi kita tidak bisa rekrut secara langsung.

Yang harus saya lakukan adalah bekerja dengan tim yang ada dan buat pelatihan yang membentuk mereka bisa mengemas konten dengan bagus.

Makanya saya undang Anggy Umbara, Yunus Pasolang dan Sastha Sunu untuk melatih mereka dalam sebuah workshop.

Ini pertama kali dalam sejarah, pekerja seni kolaborasi dengan TVRI untuk mengemas konten. Why not. Ke depan ada Salman Aristo untuk penulisan.

Apakah kondisi TVRI sesuai dengan bayangan Anda?
Saya tidak berekspektasi berlebihan. Tapi TVRI kan punya potensi yang harus saya kembangkan.

Apa keunggulan TVRI ketimbang stasiun televisi lain?
Salah satu kekuatan TVRI itu adalah jumlah pemancarnya. Kita ini punya 361 pemancar di seluruh Indonesia.

Mungkin kalau TV swasta cuma 60 dan itu pun di kota besar. Kalau TVRI kan menjangkau 70 persen wilayah Indonesia dari ujung Natuna sampai Merauke.

Saya punya pemahaman TVRI itu bisa jadi rujukan media. Dalam arti media yang benar.

Maksudnya untuk menangkal hoaks?
Ya kalau ada berita yang clickbait atau framing atau hoaks, yang bikin masyarakat bingung, ya merujuk ke TVRI saja.

TVRI kan gak membuat hoaks dan tidak membuat kegaduhan karena sesuai slogan kita: media pemersatu bangsa.

Mundur sedikit. Jadi, apa rujukan Anda sampai melamar jadi Direktur Utama TVRI?
Sebenarnya enggak kepikiran. Cuma beberapa teman mendorong. Mereka bilang saya bisa kali. Ha-ha.

Tapi kan permasalahan internal TVRI menumpuk, meski kini Helmy Yahya sudah cabut gugatan pemecatannya di PTUN?
Begini. Ujung-ujungnya kan televisi itu layar ya. Ini adalah soal bagaimana publik melihat konten dalam layar.

Mereka (dewas) mungkin punya harapan kepada saya terkait itu.

Ini jadi tantangan buat saya. Pencapaian saya di industri film dan iklan kan sudah cukup.

Saya rasa bisa juga bikin sesuatu untuk dunia penyiaran.

Dunia penyiaran hal baru bagi Anda?
Memang. Tapi saya orang yang belajar cepat. Saya rasa saya bisa melakukan perubahan untuk TVRI.

Anda menyangka bisa menyingkirkan nama-nama beken seperti Farid Subkhan, Charles Bonar Sirait dan Suryopratomo?
Saya sih mengikuti proses dengan normal. Bukan karena koneksi atau katebelece. Dari 36 orang, menjadi 16, kemudian 8, lalu 3 besar.

Apa yang Anda janjikan kepada pansel sehingga Anda terpilih?
Pertama. Mereka itu pasti melihat proses yang saya jalani serta visi misi saya. Mereka juga lihat latar belakang dan jaringan saya.

Apakah saya ini bisa menjalin komunikasi dengan pihak luar, seperti eksekutif atau parlemen.

Memangnya apa visi misi Anda untuk TVRI?
Menjadikan TVRI sebagai broadcast berkelas dunia.

Seperti NHK dan BBC?
Ya keduanya adalah contoh lembaga penyiaran publik yang berhasil. Bisa dibilang BBC dan NHK itu kan televisi propaganda.

Tapi mereka ini elegan. Sehingga warganya tidak merasa dipropagandain.

TVRI akan jadi televisi propaganda?
Ya propaganda yang sesuai dengan konteks yang dibutuhkan. Propaganda dalam arti positif kan bisa. Kita gak mengacu propaganda ala Orde Baru ya.

Sebagai televisi negara, saya rasa TVRI wajib mempropagandakan tentang kebudayaan, pendidikan dan persatuan.

Apakah bisa dalam waktu hanya dua tahun mewujudkan visi misi Anda?
Saya cuma punya 2,5 tahun. Tapi setidaknya saya berusaha membuat pondasi yang benar—meski ini tugas berat.

Tapi saya percaya, dengan dukungan teman-teman TVRI, saya yakin bisa mewujudkan TVRI sebagai lembaga penyiaran yang punya karakter dan integritas.

Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (Dirut LPP TVRI) Iman Brotoseno saat ditemui di kantor LPP TVRI, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu siang (20/6/2020).
Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (Dirut LPP TVRI) Iman Brotoseno saat ditemui di kantor LPP TVRI, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu siang (20/6/2020). Wisnu Agung / Lokadata.id

Untuk jadi lembaga penyiaran berintegritas, apa yang jadi prioritas Anda?
Program di TVRI harus punya karakter kebangsaan, juga identitas budaya.

Dalam jangka pendek, program TVRI harus memiliki karakter sendiri yang beda dengan media lain.

Saya ingin ada program talk show yang memberikan edukasi politik, bukan sekadar ajang caci maki. Kemudian program tentang anak muda yang bisa memberi inspirasi.

Mulai dari kreator konten, start up, UMKM sekaligus merancang peluang bagi mereka untuk bertemu dengan venture capital, BUMN dan korporasi.

Saya juga membayangkan punya program yang menjadi rujukan bagi masyarakat ketika kebingungan dengan segala kesimpangsiuran informasi. Artinya konten news harus diperkuat lagi.

Sebagai pekerja film, apakah bisa bergerak leluasa dan merdeka di dalam kultur birokrasi TVRI?
Secara ide kan gak ada pembatasan. Dewas juga memberi kebebasan yang luas kepada saya untuk berkreasi.

Cuma kan masalahnya anggaran yang terbatas dari Pemerintah. Bagaimanapun, sebagian besar pemasukan TVRI ya dari APBN.

Kalau anggaran terbatas, sebuah ide belum tentu bisa dibuat dong?
Bisa disiasati. Cuma kita tidak bisa go crazy lah untuk sebuah ide-ide begitu. Ketika saya buat iklan di swasta, budget itu pasti mengikuti ide.

Di TVRI gak bisa, tapi ya harus bisa bikin program bagus. Saya sudah bertemu dengan beberapa pihak yang sepakat untuk bekerja sama soal konten. Ini bisa jadi terobosan.

Menurut Anda, program di TVRI pada zaman Helmy Yahya ada yang bagus?
Ada beberapa ya. Saya suka Jelajah Kopi. Itu kontennya serius dan gak kalah dengan konten ala-ala BBC atau Discovery Channel.

Pak Helmy juga bagus membangun corporate identity TVRI. Saya akui itu.

Anda suka dengan logo baru TVRI?
Saya enggak mempermasalahkan itu. Bagus, meski ada suara-suara bahwa itu mirip dengan logo di tempat lain. Tapi mau diapain.

Apa warisan masalah dari era Helmy Yahya yang harus segera dibenahi?
Yang paling krusial adalah kontrak-kontrak perjanjian. Ada tata kelola yang tidak beres. Beberapa program tidak ada kontraknya saat dicek.

Minggu pertama saya itu ya seperti lawyer, melototi kontrak-kontrak. Untung saya punya latar belakang sekolah hukum.

Secara personal Anda kenal dengan Helmy Yahya?
Saya pernah main bulu tangkis sama dia bareng Kepra ( mantan direktur program TVRI ) sekali dua kali tahun 2000-an. Tapi secara personal enggak terlalu kenal.

Berkomunikasi dengannya saat resmi menggantikan dia?
Enggak pernah. Mungkin suatu waktu nanti bertemu. Di sini, kalau tiap ulang tahun TVRI kan semacam ada reuni bekas-bekas direktur dan pegawai lama. Mungkin nanti kita undang.

“Sebagai televisi negara, saya rasa TVRI wajib mempropagandakan tentang kebudayaan, pendidikan dan persatuan.“

Iman Brotoseno

Lalu, bagaimana Anda menyikapi cuitan lama Anda yang muncul dan muatannya itu berbau pornografi?
Lucu saja sih. Saya kan pekerja seni, orang film. Itu adalah cara bergaul dan jokes saya waktu itu. Dan kebanyakan cuitan saya itu konteksnya adalah humor.

Kalau cuitan yang ada diksi bokep itu juga humor?
Nah yang urusan bokep itu kan saya lagi conversation dengan Iman Nugroho yang sekarang jadi pengurus AJI.

Orangnya juga aktif di Twitter. Tapi kok yang diserang cuma saya. Ini kan framing.

Munculnya cuitan-cuitan lama itu mengganggu Anda?
Saya itu banyak melakukan kultwit. Tentang sejarah dan buku, apapun itu. Jadi, ketika yang diangkat cuma beberapa cuitan dari 50-an kultwit yang ada, itu kan framing namanya.

Anda juga disorot karena pernah menjadi kontributor majalah dewasa Playboy…
Sebenarnya mau tertawa kalau bicara ini. Tulisan saya itu hanya sekali dimuat pada tahun 2006 dan saya pun menulis bukan tentang pornografi. Tapi tentang wisata bahari di Banda.

Kalau dilihat, Majalah Playboy edisi saat itu ada wawancara Karni Ilyas. Lalu, apakah kita mem-framing beliau juga?.

Mungkin ini pertanyaan publik, kenapa tidak menulis untuk media lain saja?
Pada awal 2000-an, kalau mau menulis tentang gaya hidup atau perjalanan wisata ya hanya dimuat di majalah pria.

Selain Playboy, kan saya juga menulis di Matra, Male Emporium, Foto & Video Gramedia, Nikonia dan lain-lain.

Majalah Tempo kan juga memuat tulisan gaya hidup dan perjalanan?
Ya beda gaya tulisannya. At least, tulisan perjalanan saat itu ya di majalah pria.

Tapi pada akhirnya hal itu dipelintir dan menurut saya sudah masuk pembunuhan karakter dan sangat mengganggu saya.

Sehingga saya memutuskan untuk sementara menutup sosial media saya. Semua.

Enggak punya akun di media sosial lagi?
Enggak, saya orang bebas sekarang.

Anda gak gatal untuk melihat-lihat Twitter atau Instagram?
Saya punya akun anonim, tapi rahasia. Ha-ha. Buat memantau saja. Kalau saya hadir terus di media sosial nanti capek, malah enggak fokus urus TVRI.

Saya tutup sementara media sosial saya sampai enam bulan. Memang saat ini ada yang memakai nama saya untuk akun Instagram. Tapi itu bukan saya.

Apakah Anda khawatir dengan ramainya tagar #BoikotTVRI pasca-Anda ditunjuk sebagai Dirut TVRI?
Pertanyaannya, apakah mereka yang menyuarakan boikot itu benar-benar menonton TVRI. Yang menyuarakan juga ketahuan kan siapa.

Mungkin mereka melihat background politik saya pada 2014 dan 2019 ya. Tapi itu kan pilihan politik saya, tidak ada yang ditutupi.

Yang penting, setelah saya menandatangani pakta integritas, saya melepas kepentingan itu.

Tapi Anda masih menjadi konsultan media sosial dan komunikasi untuk PDIP?
Sudah enggak. Saya melakukan itu pada periode pileg dan pilpres 2014. Justru pada pileg 2019 saya membuat iklan untuk partai Golkar.

"Komunisme itu sudah tidak relevan"

Iman Brotoseno

Pertanyaan selanjutnya adalah tudingan bahwa Anda pro-PKI. Benar kah?
Tuduhan PKI itu kan berawal dari kultwit saya tentang Gerwani. Padahal materinya dari bedah buku tentang kontroversi sejarah Orde Baru yang ditulis sejarawan seperti Taufik Abdullah dan Asvi Warman Adam.

Tapi dipelintir seolah-olah saya pro-Gerwani.

Namun di blog, Anda sering menuangkan pemikiran soal rekonsiliasi korban ’65?
Saya memang berharap ada rekonsiliasi. Sama seperti pemikiran Jenderal Agus Widjojo, Gubernur Lemhanas. Wajar kan itu, dan tidak melanggar hukum.

Apakah benar itu foto Anda dengan banyak buku seperti buku “Sukarno, Tentara, PKI”, “Kudeta 1 Oktober 1965” dan “Aidit”?
Foto itu sebenarnya bagian riset saya untuk sebuah film. Passion saya kan di sejarah. Dan banyak buku-buku saya yang lain.

Ada buku tentang Islam, kebudayaan dan film. Tidak hanya buku-buku kiri.

Jadi, ketika Roy Suryo menyerang saya soal itu, saya telepon beliau untuk datang ke rumah. Dia bisa belajar sejarah, dan saya bisa belajar foto dari dia. He-he.

Anda suka dengan pemikiran kiri?
Saya suka baca buku. Mau itu kiri, kanan, tengah, Islam, politik, kebudayaan atau film, semua saya baca.

Komunisme itu sudah tidak relevan. Mana ada sih sekarang. Itu kan ideologi usang. Secara praktik, mungkin tinggal Korea Utara saja. Negaranya pun terseok-seok.

Beberapa warganet menyebut Anda simpatisan PKI…
Bukan sama sekali. Framing Ini kan sengaja diciptakan. Sengaja untuk apa saya tidak tahu.

Di lain sisi, masyarakat kita literasinya minim, sehingga mudah dihasut. Ini bukan problem di masyarakat Indonesia, tapi juga internal TVRI.

Ada karyawan dari Sulawesi Selatan yang bertanya soal tuduhan itu. Kemudian saya kirim foto saya memakai ihram di Makkah.

Dia gembira dan bilang semua urusan selesai.

Mungkin disebabkan publik melihat foto Anda dengan Ribka Tjiptaning yang menulis buku "Aku Bangga jadi Anak PKI”. Bagaimana itu?
Ini hoaks juga. Editan. Mana pernah saya foto dengan Ribka. Saya sendiri enggak kenal sama dia. Enggak pernah ketemu.

Satu partai masa enggak pernah bertemu?
Ya saya bukan orang partai kan. Tanya saja ke PDIP, ada enggak KTA saya ? Saya memakai seragam merah kalau ada acara PDIP. Tamu lain juga begitu.

Pak Erick Thohir juga pakai baju merah saat diundang Kongres PDIP. Demikian pula kalau saya hadir di acara Golkar, ya saya pakai baju kuning.

Ada isu bahwa ada agenda besar di tangan Anda dan Ribka. Anda akan mencabut film gerakan G30S dan Ribka menggoalkan RUU HIP?
Urusan apa dengan RUU HIP ? Kembali lagi. Itu framing. Saya tidak kenal Ribka dan saya sudah bertemu dengan MUI, NU dan Muhammadiyah. Mereka paham bahwa ini framing.

Mereka clear kok dengan saya. BIN juga tidak ada masalah. Yang lebih penting, mereka gak anggap saya simpatisan PKI.

Btw kenapa Anda menolak fasilitas sopir dan ajudan?
Mungkin saat ini belum perlu. Saya ini pekerja film. Tidak terbiasa pakai ajudan. Apalagi dari angkatan.

Ya akhirnya saya bawa mobil sendiri ke kantor. Baru setelah itu saya pakai sopir untuk tugas keluar dari kantor. Bukan buat urusan sehari hari.