Lokadata.ID

Indeks kelaparan: Indonesia lebih buruk dari Vietnam dan Filipina

Global Hunger Index (GHI)
Global Hunger Index (GHI) Lokadata / Lokadata

Mengakhiri kelaparan, menjaga kecukupan nutrisi, dan memastikan akses pangan bagi semua orang merupakan bagian dari target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Tujuan bersama yang dicanangkan negara-negara anggota PBB, termasuk Indonesia itu, ditetapkan bakal terwujud pada 2030.

Namun sampai hari ini, bencana kelaparan dan kasus kurang gizi terus bermunculan. Global Hunger Index (GHI) mencatat, ada 690 juta orang (sekitar satu dari setiap 10 orang di dunia) menderita kurang gizi.

Selain itu, tercatat ada 144 juta anak menderita stunting (kerdil, tanda kekurangan gizi kronis), dan 47 juta anak menderita wasting (kurus, tanda kekurangan gizi akut). Pada 2018, sebanyak 5,3 juta anak meninggal sebelum ulang tahun ke-5 akibat kekurangan gizi.

GHI mengukur dan melacak kelaparan di tingkat global, regional, dan nasional, melalui empat indikator. Pertama; asupan kalori tak cukup (kurang gizi); kedua kurang gizi akut (ditandai anak-anak dengan berat badan kurang dari normal); ketiga stunting (anak-anak dengan tinggi badan kurang dari normal); dan terakhir, angka kematian anak di bawah umur lima tahun.

Ada lima kategori yang dipakai GHI, yaitu tingkat kelaparan kategori rendah, dengan skor kurang dari 9,9; kemudian berturut-turut disusul oleh tingkat moderat (skor 10-19,9); tingkat serius (skor 20-34,9); mengkhawatirkan (skor 35-49,9) dan ranking terbawah: sangat mengkhawatirkan (skor lebih dari 50).

Ranking skor GHI memperlihatkan ikhtiar negara-negara dalam mengatasi bencana kelaparan. Sejak 2012, misalnya, dari 107 negara yang diranking, tak ada lagi negara yang termasuk dalam kategori "sangat mengkhawatirkan".

Dalam laporan GHI 2020, untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia lolos dari level "serius", dan masuk kategori moderat. Indonesia meraih skor 19,1; menempati urutan ke 70 dari 107 negara.

Sebanyak 47 negara tergolong dalam kelompok tak terancam bahaya kelaparan (GHI rendah), 26 negara masuk kategori moderat, 31 negara dalam ancaman "serius" dan tiga negara sisanya yaitu Madagaskar, Timor-Leste dan Chad, dalam kelompok mengkhawatirkan.

Skor dan peringkat Indonesia terhitung lebih baik ketimbang Kamboja (peringkat 76, skor 20,6), Myanmar (peringkat 78, skor 20,9), dan India (peringkat 94, skor 27,2).

Namun indeks dan peringkat Indonesia masih lebih buruk dari Thailand (peringkat 48, skor 10,2), Malaysia (peringkat 59, skor 13,3), bahkan Vietnam (peringkat 61, skor 13,6), dan Philipina (peringkat 69, skor 19).

Untuk menekan angka kelaparan, Pemerintah Indonesia telah mencanangkan program strategis seperti peningkatan kualitas konsumsi, keamanan pangan, produktivitas dan kesejahteraan sumber daya manusia pertanian, dan tata kelola sistem pangan nasional.

Namun, hingga kini kelaparan dan gizi buruk masih menjadi masalah pelik. BPS (2019) mencatat, angka gizi buruk mencapai 30.000 atau satu dari setiap 10.000 penduduk.

Contoh negara yang berhasil menurunkan indeks kelaparan secara tajam adalah Brasil dan Cina. Tahun 2000, indeks kelaparan Brasil masih pada skor 11,3 dan Cina bahkan di level 13,6. Posisi mereka terus membaik dan pada 2012, keduanya sudah masuk negara dengan indeks kelaparan di bawah lima.

Rendahnya angka kelaparan di Brasil tak terlepas dari Program Zero Hunger yang diluncurkan Presiden Lula pada 2003 yang fokus pada pemberantasan kelaparan dan inklusi sosial, menghubungkan ekonomi makro, sosial dan kebijakan produktif.

Selain berhasil mengurangi angka kelaparan sampai 50 persen pada 2010, Brasil juga sukses memangkas ketimpangan antara kaya dan miskin. Tahun 2003, indeks Gini di Brasil masih di posisi 58,7, tapi kemudian turun menjadi 51,9 tahun 2012.