Lokadata.ID

India lolos dari tsunami korona karena obat cacing ivermectin?

Petugas kesehatan memberikan   vaksin Covid-19 di New Delhi, India, Selasa (4/5/2021).
Petugas kesehatan memberikan vaksin Covid-19 di New Delhi, India, Selasa (4/5/2021). Adnan Abidi / ANTARA FOTO/REUTERS

Hanya tiga minggu setelah menambahkan Ivermectin dalam daftar obat untuk pasien yang terpapar virus korona, New Delhi dikabarkan langsung lolos dari tsunami Covid-19.

Menurut laporan The Desert Review pekan lalu, pandemi yang mencapai puncak pada 20 April dengan 28.395 kasus telah anjlok 80 persen, menjadi 6.430 kasus saja pada 15 Mei 2021. Angka kematian yang mencapai puncaknya pada 4 Mei, sekarang juga sudah turun 25 persen.

Baca juga India stop ekspor vaksin, pasokan global minus 190 juta dosis

Penurunan drastis kasus di India ini konon karena Negara Bagian Goa mengadopsi kebijakan Ivermectin preemptive yang lebih ambisius. Kepala Menteri Goa, Dr. Pramod Sawant mengambil keputusan ini dengan mengacu pada meta-analisis Dr. Pierre Kory, Dr. Tess Lawrie dan Dr. Andrew Hill. Dampaknya, Goa telah mengalami penurunan kasus dari 3.124 sehari menjadi 1.314 lima hari kemudian.

Tiga negara bagian India lainnya telah mengikuti jejak Goa untuk menambahkan Ivermectin dalam pengobatan, yaitu Uttarkhand, Karnataka, dan Uttar Pradesh. Seperti yang diharapkan, tiga negara bagian itu juga telah mengalami penurunan kasus harian baru, sebesar hampir 75 persen.

Sebuah situs web konservatif Amerika Serikat mengatakan dua obat mungkin menjadi solusi untuk krisis tersebut. "Kasus virus korona menurun drastis di India berkat aturan baru yang mempromosikan ivermectin dan hydroxychloroquine ke populasi yang sangat besar," tulis Gateway Pundit dalam artikel 17 Mei 2021.

Situs web tersebut mengutip panduan dari Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga India untuk orang-orang dengan kasus Covid-19 ringan atau tanpa gejala. Kementerian Kesehatan menerbitkan panduan terbaru pada 28 April 2021, yang mengharuskan pasien Covid-19 ringan untuk mengonsumsi ivermectin sekali sehari selama 3-5 hari. Semua kontak yang dekat dengan pasien juga harus menggunakan profilaksis hidroksikloroquin sesuai protokol.

Apa itu Ivermectin

Ivermectin, sebagaimana dimuat di Alodokter, digunakan untuk mengobati penyakit strongiloidiasis akibat infeksi cacing gelang jenis Strongyloides, dan onchocerchiasis akibat infeksi cacing gelang jenis Onchocerca volvulus.

Ivermectin dapat membunuh cacing Strongyloides dewasa, namun hanya dapat membunuh larva Onchocerca volvulus. Untuk membantu membunuh larva cacing Onchocerca volvulus, ivermectin dapat dikombinasikan dengan obat lain, misalnya antibiotik doxycyline.

Ivermectin juga diketahui efektif untuk mengobati infeksi cacing lain, seperti filariasis akibat infeksi parasit Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori.

"Selain infeksi cacing, ivermectin juga dipercaya dapat mencegah dan menangani Covid-19. Namun, hal ini belum terbukti efektifitasnya dan butuh penelitian lebih lanjut. Oleh karena itu, hindari menggunakan ivermectin jika Anda mengalami gejala Covid-19 dan segera temui dokter," tulis Alodokter.

Klaim palsu?

Penelusuran USA Today, panduan itu memang menyebutkan hydroxychloroquine dan ivermectin. Namun, itu tidak berarti bahwa obat-obatan tersebut yang langsung menurunkan kasus Covid-19 di India.

"Artikel (Gateway Pundit) tidak menunjukkan data, apalagi yang menunjukkan efek dari segala jenis profilaksis pada pengurangan insiden Covid-19 di India," kata Dr. David Peters, ketua departemen kesehatan internasional di Universitas Johns Hopkins, di email ke USA Today, akhir pekan lalu.

Hydroxychloroquine dan ivermectin tidak terbukti efektif mengobati Covid-19, seperti yang dicatat oleh organisasi pemeriksa fakta independen lainnya. Kasus virus korona mulai turun drastis di pusat populasi perkotaan India, lebih karena langkah penguncian ketat yang diberlakukan pemerintah setempat.

Joseph Lewnard, asisten profesor epidemiologi di University of California-Berkeley, mengatakan faktor lain penyebab penurunan penularan ini adalah karena penurunan proporsi orang India yang rentan terhadap infeksi serangan. Selain itu, juga ada sumbangsih dari faktor vaksinasi yang diperluas.

"Hydroxychloroquine tidak memiliki khasiat apa pun untuk Covid dan ada banyak uji coba yang tidak menunjukkan manfaat. Ivermectin tidak terbukti dan indikasinya adalah untuk pengobatan, bukan untuk pencegahan, penyakit," kata Dr. Amita Gupta, Wakil Direktur Johns Hopkins Center for Clinical Global Pendidikan Kesehatan melalui email.

Pfizer dan AstraZeneca

Sementara itu, studi Otoritas Kesehatan Inggris, Public Health England (PHE) yang terbaru menunjukkan bahwa vaksin Pfizer 88 persen efektif melawan virus korona varian India. Sedangkan AstraZeneca terbukti 60 persen ampuh untuk varian tersebut.

Analisis yang dilakukan pada 5 April dan 16 Mei menunjukkan, vaksin merek tersebut 93 persen efektif melawan varian lokal, Kent, dua pekan setelah disuntikkan. “Studi ini memberikan kepastian bahwa dosis masing-masing vaksin menawarkan perlindungan yang tinggi terhadap virus korona varian B.1.617.2 (India),” kata Kepala Imunisasi PHE, Mary Ramsay, dikutip dari The Guardian, Minggu (23/5).

Studi dilakukan kepada 1.054 orang dari semua kelompok umur dari 5 April 2021 ketika varian India muncul. Hasil penelitian juga menunjukkan kedua vaksin 33 persen efektif melawan penyakit simptomatik yang disebabkan varian India.

“Sekarang jelas pentingnya dosis kedua untuk memberi perlindungan dari Covid-19 dan variannya,” kata Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock. Sebelumnya vaksin Pfizer memang hanya memerlukan satu kali dosis suntikan untuk memicu antibodi.

Pemerintah India telah memiliki rencana ambisius untuk menyediakan lebih dari 2 miliar dosis hingga akhir tahun, yang akan membantu mencakup hampir seluruh populasi orang dewasa. Selain pasokan dari pembuat dalam negeri, pemerintah India juga mengandalkan pasokan dari Barat, mulai Agustus 2021.

Dilansir Forbes India, Senin, (24/5/2021), penyelamatan India dalam waktu dekat dan seterusnya mungkin bergantung pada vaksin Sputnik V Rusia. Setidaknya enam perusahaan farmasi India kini berada di jalur yang tepat untuk membuat sekitar 900 juta dosis Sputnik V.