Lokadata.ID

Indikator Covid-19 tanpa angka kematian, Epidemiolog: Makin gelap

Petugas memakamkan jenazah korban Covid-19 dibantu alat berat di pemakaman khusus Macanda, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Selasa (27/7/2021).
Petugas memakamkan jenazah korban Covid-19 dibantu alat berat di pemakaman khusus Macanda, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Selasa (27/7/2021). Abriawan Abhe / ANTARA FOTO

Pemerintah memutuskan untuk mengeluarkan angka kasus kematian dari indikator penanganan Covid-19 karena ada masalah dalam input data akumulasinya beberapa pekan sebelumnya.

"Karena kami temukan adanya input data yang merupakan akumulasi angka kematian selama beberapa minggu ke belakang, sehingga menimbulkan distorsi dalam penilaian," kata Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan dalam konferensi pers secara virtual, Senin (9/8/2021) seperti dikutip CNN Indonesia.

Imbas dikeluarkannya angka kematian dari indikator penanganan Covid-19, Luhut mengatakan terdapat 26 kota dan kabupaten yang level PPKM-nya turun dari level 4 ke level 3. Menurutnya, hal itu menunjukkan perbaikan kondisi di lapangan yang cukup signifikan.

"Evaluasi tersebut kami lakukan dengan mengeluarkan indikator kematian dalam penilaian," kata Luhut

Meski demikian, Luhut mengklaim pemerintah masih menjadikan lonjakan kasus kematian sebagai perhatian khusus.

Luhut menyampaikan pemerintah akan membentuk tim khusus untuk menangani wilayah-wilayah yang mengalami lonjakan kasus kematian signifikan dalam beberapa minggu terakhir.


Epidemiolog: Semakin gelap

Epidemiolog asal Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengkritik keras langkah pemerintah yang mengeluarkan angka kasus kematian dari indikator penanganan Covid-19.

Ia khawatir penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia potensial semakin gelap jika hal itu tetap dilakukan.

"Kalau indikator menentukan tingkat keparahannya hilang, kita enggak tahu seberapa parah kondisinya. Dengan dihapuskannya indikator kematian, bukan hanya akan semakin banyak kematian yang tidak terdeteksi, tetapi juga akan berdampak pada penyusunan strategi penanganan pandemi di daerah," ujarnya.

Dicky menyebut pemerintah tak bisa beralasan mengeluarkan angka kasus kematian karena sengkarut data yang dilaporkan pemerintah daerah.

"Kalau alasannya masalah sengkarut data, ya tidak bisa. Saat pandemi ini juga enggak ada yang real time, makanya dalam data selalu dihitung pergerakan dalam tujuh hari," kata Dicky.

Data Kementerian Kesehatan sampai dengan Rabu (11/8), jumlah kasus kematian kumulatif akibat Covid-19 di Indonesia mencapai angka 112.198 kasus.

Kasus kematian tertinggi pada Rabu disumbang secara berturut-turut oleh Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sebanyak 411 orang dinyatakan meninggal di Jawa Timur, disusul Jateng (350), dan Jabar (120).


Selisih 19 ribu

Analis Data Lapor Covid-19, Said Fariz Hibban, mempertanyakan langkah Menteri Luhut yang mengeluarkan angka kematian dalam penilaian level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

"Keputusan pemerintah tak memakai data kematian dalam evaluasi PPKM Level 4 dan 3 itu tentu patut dipertanyakan. Sebab, data kematian adalah indikator yang sangat penting untuk melihat seberapa efektif penanganan pandemi Covid-19 yang telah dilakukan pemerintah," ujar Said seperti dikutip Tempo, Rabu.

Said mengatakan ketidakakuratan data kematian yang ada seharusnya tidak menjadi alasan bagi pemerintah untuk mengabaikan data tersebut. "Dengan menyadari bahwa data kematian itu tidak akurat, pemerintah seharusnya berupaya memperbaiki data tersebut agar benar-benar akurat," ujarnya.

Apalagi, data kematian akibat Covid-19 yang selama ini diumumkan oleh pemerintah pun sebenarnya belum cukup untuk menggambarkan betapa besarnya dampak pandemi Covid-19. Lapor Covid-19 menemukan jumlah kematian yang diumumkan pemerintah pusat masih jauh lebih sedikit dibanding data yang dilaporkan pemerintah daerah.

Berdasarkan data yang dikumpulkan tim Lapor Covid-19, ada lebih dari 19.000 kematian yang sudah dilaporkan oleh pemerintah kabupaten/kota, tapi tak tercatat di data pemerintah pusat. Data dari 510 pemerintah kabupaten/kota yang dikumpulkan tim Lapor Covid-19 menunjukkan, hingga 7 Agustus 2021, terdapat 124.790 warga yang meninggal dengan status positif Covid-19.

Sementara itu, jumlah kematian positif Covid-19 yang dipublikasikan pemerintah pusat pada waktu yang sama sebanyak 105.598 orang. Artinya, antara data pemerintah kabupaten/kota dengan pemerintah pusat, terdapat selisih 19.192 kematian.

"Pemerintah seharusnya mempublikasikan jumlah warga yang meninggal dengan status probable agar masyarakat memahami secara lebih akurat dampak pandemi yang terjadi. Perbaikan data ini yang harus dilakukan, bukan malah mengabaikan data kematian dan tak memakainya dalam evaluasi PPKM Level 4 dan 3," tuturnya.

Epidemiolog dari Universitas Indonesia Pandu Riono menilai pemerintah terkesan ingin mengeluarkan data yang kualitasnya tak bagus dari indikator penilaian. Padahal menurut dia, semua data menyangkut Covid-19 patut dipertanyakan kualitasnya.

"Semua distorsi. Karena apa, kualitas datanya tidak bisa dipercaya. Jadi perbaiki input datanya," kata Pandu.

Ringkasan

  • Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan memutuskan untuk mengeluarkan angka kasus kematian dari indikator penanganan Covid-19.
  • Langkah itu ditempuh lantaran pemerintah mendapati masalah dalam input data akumulasi kasus kematian beberapa pekan sebelumnya.
  • Epidemiolog asal Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengkritik keras langkah pemerintah yang mengeluarkan angka kasus kematian dari indikator penanganan Covid-19.
  • Ia khawatir penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia potensial semakin gelap jika hal itu tetap dilakukan.

Sebaran Media

Jumlah sebaran pada Media Daring terbanyak diraih oleh cnnindonesia.com dengan 2 pemberitaan, diikuti peringkat kedua triggernetmedia.com dan terkini.id dengan 1 pemberitaan.

Jumlah berita per media
Jumlah berita per media Robotorial / Content Analysis

Sebaran Linimasa

Sebaran topik mulai muncul sejak pukul 03:00 hingga 13:00 WIB, dan mencapai puncak pemberitaan pada pukul 12:00 WIB dengan total 3 pemberitaan.

Jumlah berita per jam
Jumlah berita per jam Robotorial / Content Analysis

Sebaran Facebook

Jumlah interaksi pada media sosial Facebook terbanyak diraih oleh cnnindonesia.com dengan 240 interaksi, diikuti peringkat kedua tempo.co dengan 215 interaksi. Selanjutnya republika.co.id dengan 10 interaksi pada peringkat ketiga.

Jumlah berita media di Facebook
Jumlah berita media di Facebook Robotorial / https://www.sharedcount.com/

Sumber

Catatan Redaksi: Teks dan gambar dalam artikel ini diolah secara otomatis oleh program komputer. Penerbitannya melalui moderasi editor.