Lokadata.ID

Indonesia kembali tambah stok alat kesehatan

Sejumlah petugas memindahkan logistik di Gudang Darurat Pencegahan COVID-19 Palang Merah Indonesia (PMI), Mampang Prapatan, Jakarta, Rabu (25/3/2020).
Sejumlah petugas memindahkan logistik di Gudang Darurat Pencegahan COVID-19 Palang Merah Indonesia (PMI), Mampang Prapatan, Jakarta, Rabu (25/3/2020). Aditya Pradana Putra / ANTARA FOTO

Indonesia kembali menambah stok alat-alat kesehatan untuk pengendalian dan penanganan pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Penambahan ini dilakukan tepat setelah WHO mengeluarkan imbauan tentang langkah kunci yang harus diambil sebuah negara agar bisa segera mengatasi Covid-19.

Berdasarkan keterangan tertulis Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), tambahan stok alat kesehatan yang akan diterima Indonesia mencapai 40 ton. Alat-alat ini merupakan sumbangan dari sejumlah perusahaan asal Cina yang berinvestasi di Morowali, Weda Bay, Obi, Kendari, Konawe, dan daerah sekitar.

“Kemenko Marves, sesuai arahan dari Pak Luhut (Menko Marves), bekerja sama dengan APLSI (Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia) mengoordinasi bantuan dari berbagai perusahaan tersebut, agar dapat segera terkirim dan terdistribusi dengan baik untuk memenuhi kebutuhan yang sangat banyak dan mendesak,” ujar Juru Bicara Menko Marves dan Kemenko Marves, Jodi Mahardi, Kamis (26/3/2020).

Alat-alat kesehatan yang didatangkan itu terdiri dari alat uji (test kit) Covid-19, masker N95, masker bedah, dan alat pelindung diri (APD). Seluruh bantuan tersebut akan didistribusikan melalui BNPB.

Rencananya, tambahan alkes tersebut akan tiba di Indonesia malam nanti. Barang-barang tersebut diangkut menggunakan pesawat Boeing 777 dari Garuda Indonesia.

Jodi juga menyebut, ada pemberian bantuan alat laboratorium yang dilakukan Kemenko Marves dan APLSI untuk 6 Fakultas Kedokteran di Indonesia. Alat yang diberikan berupa PCR dan RNA extraction machine.

“Alat lab ini akan mampu memeriksa swab test untuk mendeteksi Covid-19. Diharapkan pada April minggu kedua semua Fakultas Kedokteran tersebut akan memiliki kemampuan untuk melakukan tes, masing-masing sebanyak 1.000 sampel per harinya,” katanya.

Prajurit TNI AD menyusun kotak yang berisi pakaian alat pelindung diri (APD) di Posko Penanganan dan Penanggulangan COVID-19, Surabaya, Jawa Timur, Senin (23/3/2020).
Prajurit TNI AD menyusun kotak yang berisi pakaian alat pelindung diri (APD) di Posko Penanganan dan Penanggulangan COVID-19, Surabaya, Jawa Timur, Senin (23/3/2020). Zabur Karuru / ANTARA FOTO

Bantuan tahap dua

Tambahan alkes sebanyak 40 ton ini merupakan yang kedua diterima Indonesia dalam kurun sepekan terakhir. Sebelumnya, hibah alkes dari Cina seberat 12 ton sudah dibawa dan tiba pada Senin (23/3/2020) lalu.

Pemerintah juga sudah mempermudah regulasi impor barang untuk penanggulangan Covid-19. Ketentuan ini berlaku untuk impor alat medis, APD, masker, dan hand sanitizer.

Kemudahan diberikan dengan membebaskan bea masuk dan cukai, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan/atau Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), Pajak Penghasilan (PPh) 22 Impor, dan pengecualian tata niaga impor bagi perorangan/swasta yang melakukan impor untuk kegiatan komersial.

Hingga Selasa (24/3/2020), sudah ada 1.482 izin edar alkes dan 935 sertifikat distribusi penyalur alat kesehatan yang diterbitkan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Jumlah ini menempatkan izin impor dan edar alkes menempati urutan nomor dua terbanyak, di bawah izin perdagangan yang diminta ke BKPM per Maret.

Imbauan WHO

Tepat sebelum pemerintah mengumumkan pengiriman bantuan alkes, WHO telah mengeluarkan imbauan agar seluruh negara mempercepat penyediaan alat dan kapasitas tes Covid-19.

Imbauan ini disampaikan langsung Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. Dia menyebut, percepatan penyediaan alat dan kapasitas tes menjadi satu dari enam langkah kunci yang harus dilakukan, agar upaya dunia melawan Covid-19 segera membuahkan hasil.

Tedros mengatakan, upaya lockdown atau karantina wilayah yang dilakukan sejumlah negara tak akan efektif meredam pandemi Covid-19, jika tidak diiringi enam langkah kunci dimaksud.

Keenam langkah tersebut yakni, pertama, memperbanyak, melatih dan memanfaatkan secara maksimal tenaga kesehatan serta faskes. Kemudian, menerapkan sistem untuk menemukan setiap terduga kasus infeksi Covid-19 di masyarakat.

Ketiga, meningkatkan produksi, kapasitas, dan ketersediaan tes Covid-19. Keempat, mengidentifikasi, menyesuaikan, dan melengkapi fasilitas yang digunakan untuk merawat dan mengisolasi pasien.

Kelima, mengembangkan rencana dan proses yang jelas untuk mengkarantina orang yang menjalin kontak dengan pasien positif Covid-19. Terakhir, memfokuskan kembali upaya seluruh elemen pemerintahan untuk menekan dan mengendalikan penyakit ini.

“Langkah-langkah ini adalah cara terbaik untuk menekan dan menghentikan transmisi (Covid-19), sehingga ketika pembatasan (kegiatan masyarakat) dicabut virus tidak muncul kembali,” ujar Tedros dikutip dari laman resmi WHO.

Sebagai catatan, hingga berita ini ditulis pandemi Covid-19 sudah dialami masyarakat pada 187 negara/kawasan. Ada 471.759 kasus infeksi Covid-19 di dunia, dan 21.297 kematian timbul karena penyakit ini.