Lokadata.ID

Indonesia menuju perbaikan mutu lulusan sekolah kejuruan

SPONSOR:  Djarum Foundation (New)
Siswa SMK Wisudha Karya Kudus yang tengah praktik di lab khusus
Siswa SMK Wisudha Karya Kudus yang tengah praktik di lab khusus Indra Rosalia / Lokadata.id

Keseriusan pemerintah dalam membenahi permasalahan menahun di sekolah menengah kejuruan rupanya tidak main-main. Ketegasan pemerintah setidaknya dapat dilihat dari dimasukkannya program pembinaan SMK menjadi salah satu program prioritas yang dicantumkan dalam laman presiden.go.id.

SMK merupakan salah satu jenjang pendidikan yang masuk dalam kelompok vokasi. Adapun jenjang pendidikan lain yang termasuk dalam kelompok vokasi di sini adalah politeknik dan lembaga vokasi kementerian milik kementerian dan lembaga (K/L). Menjadi ironi ketika pendidikan SMK yang seharusnya menyumbangkan tenaga kerja terampil siap pakai justru malah menjadi penyumbang angka pengangguran terbesar pada 2018.

Sejumlah permasalahan seolah tidak ada habisnya membayangi pendidikan kejuruan di Indonesia. Mulai dari masalah di domestik, berupa dukungan keluarga, hingga yang paling mendasar adalah tentang kurikulum pendidikan yang diajarkan di sekolah.

Buntutnya, penyerapan tenaga terampil lulusan SMK yang masih rendah pun tidak bisa dihindari. Ini menjadi pekerjaan rumah besar yang harus dihadapi oleh pemerintah, sekolah, dan pihak keluarga siswa tentunya.

“Sebenarnya saat ini kondisi lulusan SMK kita berada dalam kondisi sangat prima dan siap bersaing di dunia kerja. Yang jadi kendala justru masih banyak orang tua yang tidak mendukung anak mereka untuk berkarier dengan tidak memberikan izin untuk bekerja ke luar daerah ataupun luar negeri. Apalagi kalau anaknya itu perempuan,” ujar Dr. Marlock, Direktur Forum Peduli Pendidikan Pelatihan Menengah Kejuruan Indonesia (FP3MKI) saat dihubungi Lokadata.id (3/12) lewat sambungan telepon.

SMK N 1 PGRI Kudus saat disambangi tim Lokadata.id
SMK N 1 PGRI Kudus saat disambangi tim Lokadata.id Indra Rosalia / Lokadata.id

Polemik pendidikan kejuruan

Sementara dari sudut pandang pengajar, Ratna Wulan Sari, salah seorang pengajar di SMK PGRI 1 Kudus mengaku, rendahnya serapan tenaga kerja lulusan SMK salah satunya disebabkan oleh materi ajar dan penjurusan di sekolah yang tidak sinkron dengan permintaan industri.

Saat ditemui tim Lokadata.id di SMK PGRI 1 Kudus, perempuan yang mengampu mata ajar Spa dan Perawatan Wajah ini mengaku, salah satu upaya yang dilakukan pihak sekolah untuk meningkatkan serapan alumni dari tempatnya adalah dengan rutin melakukan sinkronisasi antara kurikulum sekolah dengan kebutuhan pihak industri.

“Sejak beberapa tahun lalu, kami para pengajar mulai rutin melakukan sinkronisasi dengan industri sehingga materi ajar yang kami berikan dan penjurusan yang ada sekarang di sekolah kami sudah disesuaikan dengan kebutuhan tenaga terampil di luar,” ujar Ratna.

Selaras dengan pernyataan Ratna, Darmin Nasution, mantan Menko Perekonomian Kabinet Kerja Jokowi Jilid I, pernah mengatakan bahwa saat ini banyak jurusan di sekolah kejuruan yang sudah tidak relevan dengan permintaan kerja. Adapun jurusan-jurusan yang patut dikembangkan dan digarap lebih serius, menurut Darmin, adalah pertanian modern, parisiwata, e-commerce, boga, dan kesehatan.

Suasana siswa SMK N 1 PGRI Kudus yang tengah praktik di ruangan yang didesain mirip dengan salon kecantikan profesional komersil
Suasana siswa SMK N 1 PGRI Kudus yang tengah praktik di ruangan yang didesain mirip dengan salon kecantikan profesional komersil Indra Rosialia / Lokadata.id

Melihat kebutuhan industri terhadap tenaga kerja terampil, jurusan-jurusan tersebut berpeluang mendatangkan devisa besar untuk negara.

Tidak berhenti di permasalahan kurikulum, lebih jauh, SMK di Indonesia pun harus menghadapi kenyataan minimnya sarana dan prasarana praktik di sekolah. Padahal, ruang praktik yang memadai justru menjadi kunci utama untuk melatih keterampilan siswa yang akan menjadi bekal mereka saat lulus.

Fakta ini diamini oleh Lilik Muflikah, pengajar di SMK NU Banat, Kudus. Saat ditemui, Lilik mengaku ruang praktik sangat penting untuk mengasah keterampilan siswa SMK. Lilik bercerita, sekitar 5 tahun lalu, ruang praktik di tempatnya mengajar belum seperti saat ini. Bahkan, ia mengatakan, dulu praktik keterampilan yang bisa dilakukan oleh murid-muridnya sangatlah terbatas.

“Ya bisa dibilang dulu lulusan sini taunya cuma jahit, jahit, jahit aja. Karena kita belum punya tempat praktik,” tutur Lilik.

Kualitas tempat praktik siswa di SMK NU Banat Kudus sudah jauh mengalami kemajuan
Kualitas tempat praktik siswa di SMK NU Banat Kudus sudah jauh mengalami kemajuan Indra Rosalia / Lokadata.id

Kini, kondisi SMK NU Banat Kudus jauh berbeda. Tidak hanya ruang praktik yang layak, SMK di Kudus yang terkenal dengan kualitas lulusan tata busananya ini juga telah dilengkapi dengan fasilitas Teaching Factory (TEFA).

Keberadaan Teaching Factory di SMK merupakan jembatan untuk menyinkronisasi kesenjangan kompetensi yang diberikan sekolah dengan kebutuhan industri. “Di sini (teaching factory) anak-anak bisa belajar langsung seperti apa tantangan yang akan mereka hadapi nanti ketika di dunia kerja,” ujar perempuan yang sudah mengampu mata ajar Tata Busana selama 12 tahun di SMK NU Banat.

Lewat Teaching Factory, siswa-siswa SMK dapat merasakan langsung menggunakan peralatan terkini yang digunakan di industri yang mereka geluti dan dapat mendapatkan langsung pengalaman kerja yang nyata.

Sementara itu, Teaching Factory yang ada di SMK NU Banat menghasilkan koleksi-koleksi pakaian modest wear yang dijual di butik yang terdapat di lingkungan sekolah mereka, Zelmira. Menurut Lilik, hasil penjualan pakaian dari butik digunakan kembali untuk membeli bahan-bahan praktik siswa di sana.

Meski demikian tidak dapat ditampik bahwa persentase SMK yang memiliki Teaching Factory masih cukup rendah. Dari sekitar 13ribu SMK yang tersebar di seluruh Indonesia, diperkirakan baru sekitar 2.700 SMK yang dilengkapi dengan Teaching Factory.

Kualitas hasil kerja siswa SMK NU Banat bisa bersaing di ajang fashion internasional
Kualitas hasil kerja siswa SMK NU Banat bisa bersaing di ajang fashion internasional Indra Rosalia / Lokadata.id

Harapan untuk meningkatkan mutu pendidikan

Melihat kondisi tersebut, Djarum Foundation melalui Djarum Foundation Bakti Pendidikan menggelontorkan bantuan kepada 16 SMK yang ada di Kudus, Jawa Tengah. Inisiatif ini dimulai dari tahun 2011 dan hingga saat ini Djarum Foundation secara konsisten sudah berhasil membina 18 bidang keahlihan di Kudus.

Bantuan yang diberikan oleh Djarum Foundation Bakti pendidikan dimulai dari penyelarasan kurikulum yang ada di sekolah dengan kebutuhan industri, sehingga materi ajar yang diberikan di sekolah sesuai dengan kebutuhan industri. Tahap berikutnya adalah memberikan pelatihan kepada guru-guru di SMK dengan menggandeng industri yang kompeten di bidangnya.

Setelah kurikulum dan pelatihan guru, bantuan yang selanjutnya diberikan adalah pemberian infrastruktur dan fasilitas yang sesuai dengan standar industri. Tahap terakhir adalah bantuan berupa Teaching Factory, sebuah proses belajar yang menggabungkan teori dan praktik kerja yang kualitasnya dinilai langsung oleh konsumen.

Hingga saat ini Djarum Foundation Bakti Pendidikan sudah membantu meluluskan 32.063 pelajar SMK yang siap bekerja di Industri.

Pencapaian ini menjadi bukti keseriusan Djarum Bakti Pendidikan dalam membantu membenahi pendidikan dan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.