Lokadata.ID

Infografik: Jenis masker yang efektif menahan droplet

Jenis-jenis masker yang efektif menahan droplet.
Jenis-jenis masker yang efektif menahan droplet. Fadhlan Aulia / Lokadata.id

Penerapan protokol kesehatan kini menjadi kunci utama dalam menekan angka penularan virus korona.

Masifnya penyebaran kasus positif korona yang terjadi di Indonesia adalah karena kurangnya kepedulian masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan.

Bahkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sampai merasa perlu untuk mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 tahun 2020 tentang Peningkatan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan dalam Pencegahan dan Pengendalian Covid-19.

Inpres tersebut mengatur sanksi bagi pelanggar protokol kesehatan. Dalam Inpres ini, Jokowi meminta gubernur, bupati, atau wali kota menetapkan dan menyusun peraturan yang memuat sanksi terhadap pelanggaran protokol kesehatan. Sanksi ini berlaku bagi perorangan, pelaku usaha, pengelola, penyelenggara, atau penanggung jawab fasilitas umum.

Nah, salah satu protokol kesehatan yang sering dilanggar oleh masyarakat adalah dalam hal penggunaan masker. Banyak dari masyarakat tidak menggunakan masker, tidak menggunakan masker dengan benar, hingga tidak menggunakan masker yang sesuai ketentuan dan standar.

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mengungkapkan, penggunaan masker merupakan bagian dari rangkaian komprehensif langkah pencegahan dan pengendalian yang dapat membatasi penyebaran penyakit-penyakit virus saluran pernapasan tertentu, termasuk korona.

Masker dapat digunakan baik untuk melindungi orang yang sehat (dipakai untuk melindungi diri sendiri saat berkontak dengan orang yang terinfeksi) atau untuk mengendalikan sumber (dipakai oleh orang yang terinfeksi untuk mencegah penularan lebih lanjut).

Sebelumnya, Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, pun menekankan pentingnya menggunakan masker. Namun, dirinya menghimbau masyarakat untuk tidak menggunakan masker jenis scuba dan buff.

"Masker scuba atau buff adalah masker dengan satu lapisan saja dan terlalu tipis, sehingga kemungkinan untuk tembus lebih besar," ujar Wiku, dalam keterangan pers di Kantor Presiden, Selasa (15/9/2020).

Belum lama ini, PT Kereta Commuter Indonesia (PT KCI) pun menganjurkan penumpangnya untuk menggunakan masker yang efektif menahan droplet. Namun, penumpang diimbau untuk tidak mengenakan masker scuba atau buff. Lalu masker apa yang paling efektif untuk digunakan?

Masker N95

Masker N95 dalam kelompok masker Filtering Facepiece Respirator (FFR) sekali pakai (disposable).

Masker ini memiliki kelebihan tidak hanya melindungi pemakai dari paparan cairan dengan ukuran droplet, tapi juga cairan hingga berukuran aerosol.

Kelompok masker ini direkomendasikan terutama untuk tenaga kesehatan yang harus kontak erat langsung menangani kasus dengan tingkat infeksi tinggi, seperti pasien positif korona. Efektivitas masker N95 menahan cairan dan droplet bisa mencapai 95 persen - 100 persen.

Masker bedah

Masker bedah memiliki tiga lapisan (layers). masker bedah ini efektif untuk menyaring droplet yang keluar dari pemakai ketika batuk atau bersin.

Masker ini direkomendasikan untuk masyarakat yang menunjukkan gejala-gejala flu atau influenza, yakni batuk, bersin-bersin, hidung berair, demam, dan nyeri tenggorokan.

Masker ini juga bisa digunakan oleh tenaga medis di fasilitas layanan kesehatan.Berdasarkan rekomendasi WHO, masker seperti ini harus digunakan oleh orang yang berusia 60 tahun ke atas, atau mereka yang memiliki kondisi penyakit mendasar.

Masker medis harus digunakan oleh orang yang merawat pasien yang terinfeksi korona di rumah, atau orang yang berada di ruangan yang sama. Efektivitas masker bedah dalam menahan droplet sebesar 80 persen - 95 persen.

Masker FFP1

Masker FFP1 dianggap sebagai alternatif untuk masker pernapasan, seperti masker N95.

Jika N95 dapat menyaring 95 persen polutan, virus, dan partikel kecil, masker FFP1 melindungi seseorang dari menghirup partikel yang kualitasnya lebih berbahaya. Masker ini biasanya juga lebih aman untuk memastikan bahwa partikel beracun atau berbahaya tidak masuk.

Sama halnya dengan masker bedah, efektivitas masker FFP1 dalam menyaring droplet mencapai 80 persen - 95 persen.

Masker bahan 3 lapis

Masker jenis ini sebelumnya hadir sebagai antisipasi kelangkaan masker yang terjadi di apotek dan toko-toko kesehatan pada awal pandemi lalu.

Masker bahan yang dibuat harus memiliki tiga lapisan, yaitu lapisan non-anyaman tahan air (depan). Lalu, microfibre melt-blown kain non-anyaman (tengah), dan kain biasa non-tenunan (belakang).

Masker bahan harus dicuci setelah digunakan dan dapat dipakai berkali-kali. Bahan yang biasa digunakan untuk masker kain adalah bahan kain katun, scarf, dan sebagainya. Efektivitas masker bahan dalam menahan droplet bisa mencapai 50 persen - 70 persen.

Masker scuba

Masker scuba adalah masker dengan satu lapisan saja dan terlalu tipis, sehingga kemungkinan untuk tembus lebih besar. Masker ini biasanya mudah ditarik ke leher sehingga penggunaannya menjadi tak efektif sebagai pencegahan.

Dengan bahannya yang lentur saat dipakai, sehingga akan terjadi perenggangan bahan dan kerapatan serta pori kain membesar.

Ini akan membuat permeabilitas udara menjadi tinggi. Hal tersebut membuat peluang partikular virus untuk menembus masker semakin besar. Efektivitas masker scuba untuk menahan droplet hanya sebesar 0 persen - 5 persen.

Masker buff

Masker buff dianggap tak efektif memblokir droplet atau tetesan pernapasan yang keluar dari mulut, di mana menjadi salah satu jalur masuk penularan virus corona korona.

Sehingga, saat orang berbicara dan droplet keluar dari mulut, risiko penularan penyakit tetap tinggi. Bahkan, disebutkan bahwa orang menggunakan buff jauh lebih buruk dibandingkan orang yang tak memakai masker sama sekali.

Menurut para peneliti, buff justru membuat droplet semakin berkembang biak di udara. Efektivitas masker buff untuk menahan droplet hanya 0 persen - 5 persen.