Lokadata.ID

Infografik: Pelantang suara masjid di Arab Saudi dan Indonesia

Menag Kerajaan Saudi membatasi volume pengeras suara, hanya boleh untuk azan dan ikamah.  Kemenag RI akan membahas kemungkinan meniru Saudi.
Menag Kerajaan Saudi membatasi volume pengeras suara, hanya boleh untuk azan dan ikamah. Kemenag RI akan membahas kemungkinan meniru Saudi. Antyo® / untuk Lokadata.id

LOSPEKER | Ahad pekan lalu (23/5/2021) Menteri Urusan Agama Islam Kerajaan Arab Saudi mengatur penggunaan pelantang suara di masjid yang menghadap keluar. Volume kekencangan suara dibatasi, hanya boleh sampai sepertiga. Penggunaannya pun hanya boleh untuk azan dan ikamah.

  • Menag Saudi, Sheikh Abullatif Bin Abdulaziz Al-Sheikh, beralasan suara yang terlalu keras mengganggu orang sakit, lansia, dan tidur anak-anak di sekitar masjid (→ Saudi Gazette)
  • Kebijakan ini mendapatkan dukungan dari ulama, misalnya Sheikh Muhammad Bin Saleh Al-Othaimeen
  • Namun kebijakan ini juga mengundang ketidaksetujuan sebagian orang Arab karena kelantangan musik di kafe dan resto tak diatur
  • Di Jakarta, Kemenag sedang mengkaji kebijakan seperti di Saudi, karena menurut Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin, "[...] banyak masukan dari masyarakat terkait dengan penggunaan pengeras suara di masjid..." (→ Detikcom)
  • Pada 1978, Dirjen Bimas Islam sudah menerbitkan instruksi perihal tata cara penggunaan pelantang suara di masjid, bahkan ada permintaan agar suara "enak tidak cempreng"
  • Lima tahun sebelumnya, 1973, era Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, para ulama DKI sudah bermusyawarah mengatur pelantang suara masjid, sehingga Ali bisa nenegur masjid yang terlalu lantang (→ Historia, 2018)