logo-lokadata

Infografik: Singkirkan kabut asap dengan kapur tohor

Mengatasi kabut asap, tak cukup dengan memodifikasi cuaca untuk menciptakan hujan buatan.
Mengatasi kabut asap, tak cukup dengan memodifikasi cuaca untuk menciptakan hujan buatan. Bagus Triwibowo / Beritagar.id

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyebabkan bencana kabut asap di sejumlah wilayah Indonesia. Kabut asap pekat bahkan menjadi faktor penghambat proses penguapan sebagai syarat terbentuknya awan lantaran asap tertahan dan malayang di angkasa.

Untuk mengatasinya tak cukup dengan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) alias hujan buatan dengan menyemai garam (NaCl) karena sinar matahari tidak tembus ke Bumi dan membuat proses penguapan air terhambat. Padahal, untuk proses TMC sendiri dibutuhkan awan yang mencapai kadar minimal 70 sampai 80 persen.

Solusinya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggandeng Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk menggunakan Kalsium Oksida atau kapur tohor aktif (CaO).

Penyemaian kapur tohor aktif tersebut kata Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT Tri Handoko Seto, mulai dilakukan pada Sabtu (21/9/2019) ke seluruh provinsi di Pulau Kalimantan. Selanjutnya ke Sumatra.

Bagaimana cara kerja kapur tohor aktif?

Kapur tohor dengan nama kimia Kalsium Oksida (CaO) merupakan senyawa kimia berbentuk padatan putih-putih atau keabu-abuan yang menyerupai batu gamping. Kalsium Oksida (CaO) adalah hasil pembakaran kapur mentah (Kalsium Karbonat dengan rumus kimia CaCO3) pada suhu sekitar 90 derajat Celcius.

Kapur tohor sendiri akan menghasilkan panas dan berubah menjadi kapur padam (Kalsium Hidroksida dengan rumus kimia CaOH) jika bereaksi (disiram) dengan air (H2O).

Dalam keterangan tertulisnya, Kepala BPPT Hammam Riza menjelaskan, kapur tohor aktif bersifat eksotermis atau mengeluarkan panas. Kapur tohor kata dia, tidak berfungsi sebagai pembuat awan, tapi digunakan untuk mengatasi kabut asap.

Cara kerja penebaran kapur tohor sebutnya, mirip dengan proses TMC. Kapur tohor ditaburkan pada gumpalan asap sehingga dapat mengurai partikel akibat karhutla dan gas agar asap hilang dan radiasi matahari bisa menembus ke permukaan bumi.

Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT Tri Handoko Seto, Selasa (17/9) bilang, "Radiasi matahari terhalangi kabut asap, jadi awan susah terbentuk karena penguapan terhambat. Dengan (kapur tohor) ini diharapkan konsentrasi asap berkurang, awan terbentuk, dan garam bisa ditebar untuk hujan buatan."