Lokadata.ID

Internet terancam naiknya permukaan laut

Kabel serat optik.
Kabel serat optik. Funtap / Shutterstock

Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada kondisi alam dan lingkungan, tapi juga koneksi internet.

Kesal karena koneksi internet mati akibat gangguan yang dialami penyedia layanan internet? Itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dampak yang bisa ditimbulkan perubahan iklim.

Dalam 15 tahun mendatang, internet mungkin mati karena kabel serat optik rusak akibat naiknya permukaan laut.

Menurut sebuah studi baru, ini adalah ancaman nyata bagi internet dan kelangsungan hidup manusia yang bergantung padanya. Laporan tersebut menunjukkan tenggelamnya internet mungkin akan dialami penduduk di sepanjang Pantai Barat dan Timur Amerika Serikat.

Perlu diketahui, naiknya permukaan laut karena perubahan iklim bisa dipicu dua hal. Pertama, lautan hangat karena suhu global, air laut mengembang mengambil lebih banyak ruang di cekungan samudra dan menyebabkan kenaikan tingkat air. Mekanisme kedua adalah mencairnya es di darat, yang kemudian menambah air laut.

Kabel serat optik yang memungkinkan transfer data ditanam di bawah tanah dan laut, berdekatan dengan garis pantai. Sementara permukaan laut diperkirakan akan terus naik pada tahun-tahun mendatang, ini akan mengganggu kabel dan menyebabkan kerusakan.

Beberapa kabel ditanam di bawah laut dan dibungkus pengaman untuk mencegah air masuk, kabel yang ditanam di bawah tanah tidak dimaksudkan untuk terpapar rendaman air berkepanjangan.

Menurut para peneliti di University of Wisconsin, kabel-kabel yang terdampak ini panjangnya mencapai lebih dari 4.000 mil--sekitar 6.437 meter. Kemungkinan besar akan rusak, tidak dapat beroperasi karena terpapar air asin yang merusak, menyebabkan korosi, dan membuatnya kehilangan kemampuan untuk mengirimkan sinyal.

Sebagai informasi, perkumpulan ilmuwan dan lembaga ilmiah The Royal Society mengungkap, permukaan laut global saat ini naik sekitar 0,12 inci per tahun--delapan inci sejak 1901.

Walaupun angka itu terdengar tak seberapa, menambahkan jumlah itu dari tahun ke tahun jadi lebih mengerikan. Menurut Paul Barford, Ph.D., penulis utama studi tersebut, jumlahnya bertambah lebih cepat dari yang kita duga.

"Sebagian besar kerusakan yang akan terjadi dalam 100 tahun ke depan akan terjadi lebih cepat dari perkiraan," jelas Barford dilansir Popular Science.

Lanjut ilmuwan komputer dan profesor University of Wisconsin-Madison ini, "Hal ini mengejutkan, sebab harapannya kita punya waktu 50 tahun untuk menyusun rencana dalam menghadapinya. Kini terungkap bahwa kita tidak punya waktu selama itu."

Faktanya, studi Barford dan rekan menunjukkan bahwa kita hanya punya waktu kurang dari 20 tahun. Penelitian University of Wisconsin-Madison dan University of Oregon memperkirakan waktu tersebut berdasarkan "penilaian risiko perubahan iklim terhadap internet".

Menurut mereka, penelitian ini adalah yang pertama. Sebelumnya, Barford bersama rekan peneliti Ramakrishnan Durairajan dan Carol Barford menemukan lebih dari 4.000 mil kabel serat optik akan berada di bawah air pada tahun 2033.

"Banyak kabel yang berisiko sudah begitu dekat dengan permukaan laut, hanya sedikit saja kenaikan permukaan laut--karena es kutub yang meleleh dan ekspansi termal akibat pemanasan iklim--yang dibutuhkan untuk mengekspos kabel serat optik yang tertanam ke air laut," kata para peneliti.

Barford dan rekan peneliti menemukan mereka yang paling berisiko kehilangan akses internet adalah penduduk New York, Miami, dan Seattle, "Tetapi dampaknya tidak hanya terbatas pada daerah-daerah tersebut, bahkan akan merembet lintas internet," kata Barford.

Efek merembet ini bukan tak mungkin menyebabkan semacam kiamat digital. Begitu besar dampaknya hingga mungkin dapat memengaruhi kemampuan komunikasi global.

Para peneliti memang hanya mengamati kondisi di AS untuk studi ini. Akan tetapi temuan dapat diekstrapolasikan ke negara lain yang menggunakan kabel serat optik--atau jenis kabel infrastruktur lain--yang posisinya di daerah yang tidak cukup tinggi di atas permukaan laut.

Barford menjelaskan bahwa sebagian besar pemasangan kabel yang diamati dalam penelitiannya dipasang sekitar 20 sampai 25 tahun yang lalu. Pada masa itu orang belum memikirkan soal perubahan iklim dan dampaknya.

Selain soal naiknya permukaan laut, ada bahaya bencana alam yang semakin memburuk. Menurut Barford, penelitiannya menunjukkan tanda-tanda masalah yang akan datang.

Kita bisa saja mengupayakan perbaikan fisik infrastruktur internet besar-besaran. Pun demikian Barford menilai, betapapun kita berupaya tidak akan banyak membantu. "Kita mungkin bisa membeli sedikit waktu, tetapi dalam jangka panjang itu tidak akan efektif," katanya.

Pada akhirnya, perubahan iklim lah yang perlu ditangani lebih serius jika kita ingin melindungi kabel serat optik--dan alam secara keseluruhan--yang kondisinya terancam. Sudah saatnya para pembuat kebijakan dan perusahaan yang proses produksinya berkontribusi pada perubahan iklim untuk bangun dan merespons panggilan ini.