Lokadata.ID

Investasi di tengah pandemi: pilih deposito, emas, atau SBN?

Pegawai mengamati halaman muka situs Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Jumat (26/3/2021). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,19 persen ke 6.195,56 pada perdagangan terakhir pekan ini setelah turun empat hari beruntun.
Pegawai mengamati halaman muka situs Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Jumat (26/3/2021). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,19 persen ke 6.195,56 pada perdagangan terakhir pekan ini setelah turun empat hari beruntun. Dhemas Reviyanto / ANTARA FOTO

Ekonomi selama pandemi berjalan penuh ketidakpastian. Kondisi ini membuat pasar investasi sangat bergejolak, terutama pasar saham. Selama dua pekan terakhir, misalnya, indeks harga saham gabungan (IHSG) bergerak bak roller coaster: sehari melonjak, sehari anjlok, begitu terus menerus terjadi.

Jenis investasi yang lain cenderung turun. Harga emas saat ini juga terus berfluktuasi meskipun rata-rata masih di atas posisi terendah pada Juni 2020. Hal yang sama terjadi pada bunga deposito dan kupon surat berharga negara (SBN). Deposito satu bulan, misalnya, kini sudah di bawah 3 persen, sedangkan kupon SBN sudah di kisaran 5 persen.

Untuk berinvestasi di dunia usaha juga tak mudah. Hampir semua pasar produk konsumsi sedang tiarap karena daya beli yang menurun. Pandemi mengakibatkan banyak pekerja kehilangan pekerjaannya. Kalau pun mereka masih bekerja, pendapatannya banyak yang dipotong.

Dengan kondisi seperti itu, Anda sesungguhnya tak punya banyak pilihan. Namun, pilihan terbaik, tentu saja, masih ada meskipun return atau imbal hasilnya tak sebesar sebelum pandemi. Kalau Anda seorang risk taker, pasar saham yang sangat fluktuatif jelas menjanjikan return yang tinggi asal pintar menghitung kapan saat beli, atau jual.

Karena itu, sebelum berinvestasi di berbagai instrumen tersebut, Anda harus memahami karakter masing-masing produk. Menurut Presiden Asosiasi Perencana Keuangan IARFC, Aidil Akbar Madjid, deposito misalnya, biasanya dipakai untuk menyimpan dana darurat. Instrumen investasi ini minim risiko, tapi imbal hasilnya juga rendah.

Sementara untuk emas, kata Aidil, merupakan aset investasi yang likuid dan bisa dipilih baik untuk jangka menengah maupun panjang. Dia berkata, untuk SBN atau obligasi juga bisa menjadi opsi. Namun investasi SBN perlu diperhatikan likuditasnya, terutama soal jangka waktu obligasi dan apakah produk ini bisa diperjualbelikan atau tidak.

“Ketiga instrumen investasi ini sebenarnya hampir mirip. Secara return, beda tipis paling cuma 0,5 sampai 1,5 persen,” kata Aidil kepada Lokadata.id. Rabu (24/3/2021).

Bagaimana dengan saham? Menurut Aidil, instrumen ini juga bisa menjadi pilihan. Akan tetapi, harus dipahami bahwa berinvestasi di saham sebaiknya untuk jangka panjang. Terlebih, kinerja saham yang tercemin dari IHSG ini masih dalam tahap pemulihan.

“Buat orang-orang yang mau investasi jangka panjang saham boleh aja, tapi jangan berharap bahwa kita naruh uang di saham terus akan naik dalam waktu 1-3 bulan,” katanya.

Chief of Retail & SME Business Commonwealth Bank, Ivan Jaya mengatakan untuk investasi emas memang memiliki kecenderungan diburu jika kondisi ekonomi sedang tidak baik karena dianggap merupakan salah satu jenis aset safe haven.

Emas menjadi sorotan karena lonjakan nilainya signifikan. Rata-rata harga emas pada Januari 2021 di angka Rp958.786. Harga ini lebih tinggi 23,93 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.

“Namun, investasi tersebut bergantung pada dua faktor, yaitu harga emas dunia dan nilai tukar rupiah di mana pada tahun ini harga emas dan rupiah cenderung melemah,” katanya kepada Lokadata.id.

Dia menjelaskan baik emas dunia maupun emas dalam rupiah berkinerja negatif, masing-masing minus 8,7 persen (year to date) dan minus 5,4 persen (year to date).

Sedangkan instrumen investasi lain seperti deposito, dan surat berharga negara (SBN) juga menghasilkan kinerja yang beragam dalam tahun berjalan. Untuk deposito, tingkat bunga deposito 12 bulan rata-rata saat ini sekitar 5,5 persen yang turun cukup jauh dari kisaran 6,7 persen tahun lalu.

Menurut eks Head of Wealth Management Citibank ini, tingkat deposito saat ini cenderung akan stabil dan lebih rendah jika suku bunga acuan kembali turun dan likuiditas perbankan tetap besar. Saat ini, suku bunga acuan BI berada di level 3,5 persen. Sejumlah bank besar mematok suku bunga deposito satu bulan di bawah 3 persen.

Untuk kinerja SBN yang diwakilkan dengan BINDO Index juga mencatatkan kinerja negatif sebesar minus 2,68 persen sepanjang tahun ini. “Pasar obligasi juga diperkirakan akan cenderung tertekan karena inflasi, tapi diharapkan meningkat seiring pemulihan ekonomi ke depannya,” kata Ivan.

Dia menambahkan kenaikan ekspektasi inflasi akan mendorong kenaikan yield obligasi di mana yield obligasi berbanding terbalik dengan harga. Saat ini, SBN terbaru adalah Sukuk Ritel SR014 dengan kupon 5,47 persen --terendah sepanjang sejarah. Namun, SR014 bersifat tradable (bisa diperjualbelikan).

Sesuaikan prioritas dan kebutuhan

Aidil Akbar menambahkan, melihat kondisi pemulihan ekonomi saat ini, investor disarankan untuk cenderung wait and see. Alasannya, belum ada sentimen positif yang bisa mendongkrak kenaikan instrumen investasi secara signifikan. Dia mencontohkan, sentimen dari vaksinasi misalnya belum berdampak banyak.

Menurut Aidil, jika investor saat ini memprioritaskan keuntungan (return), maka emas bisa menjadi alternatif. Meski demikian, dia menyatakan, harga emas ini masih berisiko untuk kembali turun.

Fluktuasinya sepanjang setahun terakhir cukup tinggi. Misalnya, pada Juni 2020 harga emas sempat anjlok ke Rp876 ribu per gram, tapi kemudian kembali naik ke Rp1.020.000 pada September 2020. Kini harga emas PT Antam berada di kisaran Rp921.000-931.000.

Sementara jika investor lebih memperhatikan sisi keamanan atau risiko rendah, maka deposito dan SBN bisa menjadi pilihan. Khusus untuk SBN perlu diperhatikan juga apakah investor akan menarik dananya sewaktu-waktu. Dia menambahkan, untuk jangka waktu investasi tersebut minimal 3 sampai 6 bulan.

“Tapi nanti bisa dievaluasi lagi pada pertengahan tahun nanti ketika misalnya vaksin sudah menunjukkan dampaknya untuk ekonomi, itu bisa untuk mulai agresif,” katanya.

Sementara, Ivan Jaya mengatakan investor harus mempertimbangkan tujuan, jangka waktu investasi serta profil risikonya. “Baik emas, deposito, maupun SBN dapat diterapkan untuk investasi jangka menengah. Dilihat dari sisi likuiditasnya juga cukup baik,” katanya.

Namun, Ivan memberikan beberapa catatan: untuk emas dan obligasi memiliki risiko yang lebih besar dibandingkan deposito karena ada risiko pasar yakni pergerakan harga. Sedangkan, deposito dan obligasi tepat bagi investor yang memilih mendapatkan cash flow reguler dari investasi yang dilakukan.

Untuk investasi jangka panjang, Ivan menyarankan investor berinvestasi pada kelas aset saham atau reksa dana saham. Progres program vaksinasi yang sudah dilakukan di beberapa negara di dunia semakin memberikan harapan pemulihan ekonomi akan berlanjut tahun ini. Besarnya jumlah stimulus yang diluncurkan pemerintah Amerika Serikat juga masih akan menopang pasar keuangan ke depan.

Namun, fluktuasi harga saham memang sangat tajam. Impaknya juga cukup besar pada reksa dana saham. Untuk dua instrumen ini, para investor sebaiknya perlu berhati-hati, terutama dalam memilih saham atau jenis reksa dana. Harga saham pada umumnya dipengaruhi sektor usahanya.

Kecuali, para risk taker yang memang lebih menyukai pasar yang fluktuatif. Mereka bisa mendulang gain yang besar, atau malah sebaliknya. Pilihan ini mengandaikan investor yang sangat paham membaca neraca keuangan emiten, dan jago mengendus corporate action yang dilakukan emiten.