Lokadata.ID
Istiqamah 'Payung Teduh': Saya lelah sekali
Vokalis Payung Teduh, Mohammad Istiqamah Djamad, berpose di depan kamera Beritagar.id di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat, pada Selasa (14/11/2017). Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Istiqamah 'Payung Teduh': Saya lelah sekali

Ia pamit. Tapi ini bukan akhir dari karyanya.

Tepat pukul 11 siang, Mohammad Istiqamah Djamad beserta anggota dan kru Payung Teduh sampai di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Mereka masuk dari pintu belakang gedung teater era Gubernur Jenderal Raffles itu.

Di atas panggung, Is, begitu ia kerap dipanggil kawan-kawannya, langsung berlatih dengan seorang pemain piano. Sebuah gitar elektrik tergantung di pundaknya. Alih-alih membawakan hit Payung Teduh, seperti "Akad" atau "Menuju Senja", keduanya memainkan lagu "Tanah Airku".

Iramanya mulai dari minor lalu ke mayor. Di sela-sela itu Is memetik senar gitarnya dan memainkan melodi. "Ada dramatisasi, dari suasana muram ke optimistis," katanya pada Selasa (14/11/2017).

Sekitar satu jam keduanya berkutat menemukan aransemen yang pas untuk lagu itu. Tepat pukul 12, sesi gladi bersih untuk konser Liztomania BBM Vol. 3 itu berakhir. Mereka pun beristirahat sejenak.

Is dan kawan-kawannya kembali ke balik panggung dan menuju ke ruang ganti. Di sana mereka menunggu untuk sesi gladi bersih berikutnya. Is menemui kami dengan ramah dan senyumnya yang khas. Ia seperti tahu apa maksud kami menemuinya siang itu.

"Kami belum sempat latihan sama sekali. Ini saja baru briefing," kata pria kelahiran Makassar, 24 Januari 1984 itu. "Kadang komunikasi kami hanya di backstage, sebelum manggung. Mulai aneh memang."

Is tak menyembunyikan kegelisahannya selama tiga tahun terakhir ini. Payung Teduh sukses besar. Lagunya menjadi hit di mana-mana. "Akad", single pertama dari album ketiga yang belum rilis, membuat nama grup musik yang terbentuk pada 2007 ini semakin melambung.

Videoklip "Akad" di Youtube telah ditonton lebih dari 45 juta kali. Banyak pihak yang menyanyikan kembali atau meng-cover lagu ini dalam berbagai aransemen. Is sempat protes keras melalui akun Instagram-nya terhadap orang-orang yang menjual lagu itu tanpa izin.

Rasa-rasanya kesuksesan Payung Teduh tak terbendung. Tapi kenyatannya, hal itu tak berbanding lurus dengan kebahagiaan Is. "Gue merasa cara menjalankan band ini esensinya sudah beda," kata vokalis, produser, dan penulis lagu grup musik itu.

Sebagai salah satu pendiri, Is tak puas dengan pencapaian Payung Teduh. Menurut dia, terlalu banyak manggung, tapi minim karya. Dalam sebulan mereka bisa sampai 20 kali manggung ke berbagai kota.

"Seharusnya kami sudah punya 15 album. Tapi nyatanya baru tiga album," kata Is kepada Fajar WH, Sorta Tobing, Andi Baso Djaya, dan Wisnu Agung Prasetyo.

Lelah. Bosan. Capek. Galau. Suntuk. Semuanya bercampur-aduk dalam pikiran Is selama tiga tahun terakhir. Sampai akhirnya pada Juni lalu, ia memberanikan diri mengatakan akan mundur dari grup musik itu.

Keinginan Is selanjutnya terbilang sederhana. Ia ingin melakukan kerja sosial, bergelut dengan isu lingkungan, membuat film musikal, kembali ke teater, memasak, menulis puisi, dan membaca buku.

Dari semua itu, Is ingin kembali dekat bersama istri dan keempat anaknya. Ia rindu menceritakan dongeng dan bernyanyi bersama mereka. "Keluarga buat saya nomor satu," kata Is.

Selama lebih dari satu jam, Is bercerita soal keputusan untuk hengkang dari Payung Teduh. Berkali-kali ia mengikat lalu melepas rambut kribonya. Tangannya terus bergerak seolah tak bisa menyembunyikan rasa gundahnya. Berikut hasil wawancara kami.

Vokalis Payung Teduh, Mohammad Istiqamah Djamad, berpose di depan kamera Beritagar.id di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat, pada Selasa (14/11/2017).
Vokalis Payung Teduh, Mohammad Istiqamah Djamad, berpose di depan kamera Beritagar.id di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat, pada Selasa (14/11/2017). Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id

Jadi, benar mau keluar dari Payung Teduh?
Benar. Saya cuma sampai 31 Desember 2017 di sini (Payung Teduh).

Setelah itu mau ke mana?
Istirahat dulu.

Ada masalah apa?
Gue merasa main musik enggak melulu harus begini. Gue inginnya Payung Teduh lebih banyak produksi karya. Tapi kami semakin tereksploitasi gila-gilaan. Itu membuat gue lelah. Lahir batin.

Bukan karena konflik internal?
Bukan. Ini bukan karena permusuhan atau cekcok. Tapi lebih ke musical journey.

Grup musik ini sudah terbentuk sejak 2007. Enggak sayang kalau sampai harus keluar?
Orang-orang berubah kali ya. In their eyes (anggota Payung Teduh lainnya) gue mungkin berubah. Tapi gue merasa cara menjalankan band ini esensinya sudah beda. Lebih ke pola band-band pada umumnya yang terkenal sibuk manggung sana-sini.

Bukannya bagus, penghasilan jadi bertambah?
Ya rezeki sih sebenarnya. Rezeki juga ujian, bisa membuat kami terlena. Semangat kreativitas dan spirit-nya lelah. Saya lelah sekali.

Tidak mau break sementara saja?
No, no, no. Karena ini masalah mentalitas kami berempat akhirnya. Saya sudah enggak klop lagi secara musikal. Saya bilang ke mereka dari Juni lalu. Saat Jakcloth (Juni 2017) sudah mau teriak saya di Senayan (Jakarta Pusat). Di panggung rasanya sudah cukup.

Saya sudah sakit berkali-kali, diopname juga. Nyari duit seharusnya enggak begini amat menurut gue. Ha-ha-ha....

Jadi, selama ini tidak happy?
Enggak happy. Saatnya membawa musik kembali ke rumahnya, alam.

Maksudnya?
Gue ingin main musik sama anak-anak yang tertimpa bencana alam lagi. Menghibur mereka. Kami sempat melakukan itu untuk anak-anak korban tsunami di Pangandaran, Jawa Barat. Sarang gue dari dulu itu ya di situ. Saya pengen seperti itu lagi.

Jadi, mau lebih ke kegiatan sosial?
Saya lebih mau menjadi sosok yang baru ketika bermusik. Sekarang Payung Teduh terlalu sibuk untuk manggung. Kalau kata teman-teman, kami enggak siap. Tapi memang Payung Teduh bukan berangkat dari culture seperti itu.

Kami bukan band yang terkenal dari industri. Kami lahir dari teater ke teater. Spirit itu yang hilang.

Berarti ada masalah idealisme?
Setiap orang punya idealisme sendiri. Tapi maksud saya, kayaknya tuh yang harus diperbanyak adalah karya, bukan manggungnya. Justru saya lebih suka Payung Teduh dieksklusifkan.

Rekaman lebih penting daripada manggung?
Buat gue, itu jauh di atas panggung. Energi dan nyawa sebuah grup musik itu di album. Ibarat adegan pertarungan Brama Kumbara, mengeluarkan ajian Lampah Lumpuh ya di situ. Kalau manggung itu cuma olah tubuh, pukulan, dan tangkisan.

Tapi teman-teman ketika mau rekaman sudah lelah. Kami hanya ketemu di panggung. Komunikasi enggak ada, dingin, semua sibuk, asyik dengan dunianya. Itu sudah berlangsung dari 2014 akhir. Saya masih ingin di studio tapi kok merasa sendirian.

Sejak 2014 berarti Anda sudah ingin hengkang?
Kayaknya akhir 2014 saya mulai galau.

Setelah album kedua, Dunia Batas?
Album itu semua lagunya saya yang menulis. Di album ketiga nanti juga. Tapi di antara tiga album Payung Teduh, yang ketiga ini paling terasa inilah saya.

Kenapa album ketiga?
Karena ini yang paling saya bangga dan juga benci.

Maksudnya?
Ini saya banget. Ha-ha-ha.... Lagu "Muram" saya dedikasikan untuk teman-teman di Payung Teduh. Saya bilang berhentilah wahai tuan, berpelukan dengan muram/hiduplah asa.

Maksudnya, ketika manusia masih punya asa untuk melakukan sesuatu, dia purnanya di situ sebenarnya. Bukan berjalan dengan letih lelah, merasa banyak tanggung jawab. Ini juga berlaku untuk mengatakan kepada diri sendiri untuk berhenti dan menghirup kembali oksigen. Biar udara terisi lagi, semangat muncul lagi.

Kapan keluar album ketiga?
15 Desember, insya Allah sudah jadi.

Sebelum hengkang dari Payung Teduh?
Saya harus pamit baik-baik.

"Kami tidak siap dengan popularitas"

Mohammad Istiqamah Djamad, vokalis Payung Teduh

Nah, Payung Teduh tanpa Is nantinya gimana? Siapa yang menulis lagunya?
Enggak apa-apa. Mungkin ini pendewasaan buat kami semua.

Respon personel lain bagaimana?
Shock pasti. Tapi tidak apa-apa. Justru saya kecewa karena selama ini tidak ngapa-ngapain.

Sesudah Anda bilang akan hengkang, sempat mempengaruhi cara Payung Teduh bermusik?
Ngaruh. Sebulan ini main musik jadi enggak enak banget. Sampai saya menegur mereka kemarin. Guys, kita harus belajar profesional dan tetap menjaga semangat. Ini bagian dari perjalanan kita. Tindakan yang paling kami benci tapi kami harus survive.

Ketika orang sudah memanggil Payung Teduh untuk bernanyi, layar terbuka, dan lampu menyala ya kami harus tumpahin segalanya. Itu yang kemarin agak hilang. Bermain musik tanpa nyawa, kayak robot. Mending putar CD-nya saja.

Jantungnya band ini kan di Anda.
No, no, no. Itu salah kalau dalam satu kelompok dibilang ada jantungnya. Yang keluar saya terus akhirnya. Beberapa teman band lain sampai nyadar. Mereka bilang ini parah kalau terus terjadi.

Tidak sehat?
Sangat tidak sehat kalau satu lebih menonjol dari yang lain.

Tapi dari awal bukannya memang Anda diposisikan seperti itu?
Betul. Tapi atensi dan excitement-nya saat awal beda. Masih kuat dan segar. Sekarang akhirnya jadi kesibukan saja. Saya sampai tidak bisa bikin lagu banyak saat puncak kegundahan.

Payung Teduh dulu besar karena banyak yang cari. Tapi sekarang giliran tidak dicari malah tidak mengeluarkan banyak karya. Kami seharusnya sudah membuat 15 album. Saya sudah malu sama media karena terakhir kami sempat bilang album ketiga akan keluar November ini. Tapi ternyata tidak.

Sebagai pemimpin, Anda seolah mengorbankan diri?
Enggak. Mereka masih mau jalan dengan Payung Teduh.

Kenapa Anda tidak....
Memecat? Karena banyak asumsi tidak baik bakal terjadi.

Soal royalti bagaimana?
Ya enggak apa-apa. Kami sudah pakai publisher. Saya sudah beresin semua supaya tidak terjadi gontok-gontokan soal gana-gini. Ke depan nanti saya tinggal terima report saja.

Kritik Anda melalui video di Instagram soal orang-orang yang meng-cover "Akad", apakah itu bentuk rasa lelah juga?
Oh enggak. Itu beneran buat menegur orang-orang yang.... Karena sebenarnya publisher kami sudah jalan. Tapi yang kebangetan tuh iTunes dan Spotify bisa mengedarkan lagu-lagu cover itu, meskipun akhirnya sudah di-take down.

Saya cuma menyayangkan media yang, maaf, menulis seolah-olah Payung Teduh mengultimatum orang yang meng-cover lagu "Akad". Simple-nya gini, itu lagu kami, jadi kami berhak bersuara. Udah gitu aja.

Sempat menyangka "Akad" akan se-booming sekarang?
Iya. Lagu itu sebenarnya saya ditantangin bisa enggak bikin lagu pop. Saya bilang bisa.

"Akad" itu jagoan keempat di album ketiga. Yang pertama itu "Di Atas Meja", lalu "Muram", dan "Selalu Muda".

Kenapa akhirnya "Akad" duluan yang rilis?
Waktu itu habis lebaran, kami sudah gundah banget. Payung Teduh harus mengeluarkan sesuatu. Ya sudah saya bilang "Akad" saja. Insya Allah, lagi ramai orang mau nikah. Ha-ha-ha....

Dan memang benar banyak orang menikah habis lebaran.
Lagu itu jadi dipakai di mana-mana.

Apa cerita soal "Akad"?
Kalau diperhatikan liriknya itu sindiran ke banyak orang. Banyak hubungan tidak jelas mau dibawa ke mana. Udah lama pacaran tapi nikah sama orang lain. Ini bentuk responku terhadap curhatan teman-teman.

Ada liriknya namun bila kau ingin sendiri... cepat bilang biar gue nyari yang lain. Ha-ha-ha... Sindirannya di situ. Gue ngambil tema ini karena memang isunya enggak pernah habis. Seperti Melly Goeslaw membuat "Bunda". Sampai kapan pun tetap ada orang yang bakal menyanyikan lagu itu.

Sekarang Payung Teduh sudah berada di puncak?
Belum. It's just the beginning. Tapi mereka sudah keenakan sepertinya. Saya bukannya mau berandai-andai melangkahi kodrat memprediksi masa depan. Kalau ini dipertahankan, kapalnya akan rusak.

Januari 2018 akan menjadi awal baru bagi pria yang kerap dipanggil Is ini. Ia hengkang dari Payung Teduh dan akan mengejar mimpinya membuat film musikal dan membuka restoran.
Januari 2018 akan menjadi awal baru bagi pria yang kerap dipanggil Is ini. Ia hengkang dari Payung Teduh dan akan mengejar mimpinya membuat film musikal dan membuka restoran. Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id

Para fans Payung Teduh pasti sangat kecewa.
Pasti. Kalau mereka bijak, mereka bisa melihat sisi positifnya. Prediksi saya, enggak berekspektasi tinggi, banyak haters akan muncul, mulut yang bicara.

Tuduhan Anda mau bersolo karier juga pasti muncul.
Iya. Isu solo itu tidak pernah saya lontarkan. Saya masih kasih lagu ke Payung Teduh di album ketiga. Ngapain saya lakukan itu kalau mau solo. Tanggung jawab saya secara moral dan sosial untuk membereskan janji kepada band ini saya tuntaskan.

Enggak sedih?
Udah lewat. Sedih saya kemarin sudah sangat-sangat menggunung. Sampai saya sakit, masuk rumah sakit.

Kesimpulannya, kami tidak siap dengan popularitas. Bukan bermaksud menjelekkan mereka. Tapi saya pun tak siap. Mental Payung Teduh itu sebenarnya santai. Gara-gara kesibukkan ini keluarga saya jadi tersampingkan.

Keluarga bagi Anda nomor satu?
Kalau saya, iya. Saya selama ini sudah terlalu meninggalkan keluarga. Saya tidak siap untuk itu. Hobi saya bermain teater, menari, dan membaca buku sampai terlupakan. Menulis buku puisi juga enggak selesai-selesai. Hanya masak saja yang masih saya lakukan. Satu-satunya kegiatan saya untuk melepas stres.

Terakhir masak kapan?
Saat ke Sorong (Papua) beberapa waktu lalu. Saya bikinin sambal doang sih buat seluruh panitia. Mereka bakar ikan, saya bikin tiga sambal berbeda-beda. Nyokap kasih resep 13 resep sambal ke saya.

Ada rencana membangun restoran?
Itu mimpi saya juga. Dulu pernah punya restoran tapi karena dinamika bisnis langsung tutup. Saya berani bertaruh kalau soal resep keluarga.

Ada mimpi yang belum tercapai?
Saya ingin membuat film musikal tentang pesisir. Kita nih negara maritim. Dalam perjalanan manggung Payung Teduh, saya dapat kesempatan pergi ke banyak daerah pesisir di Indonesia.

Saya ingin memfilmkan kegiatan dan kehidupan nelayan di tanah air. Inginnya sih film layar lebar dan dikemas popular. Mumpung gue dikasih umur panjang, kalau bisa mendokumentasikan hal itu kan bagus. Kalau numpuk pundi-pundi mah aduh gak ada habisnya.

Keluarga mendukung?
Banget.

Istiqamah "Payung Teduh": Saya sudah lelah