Lokadata.ID

Jangan lupa, selain Covid, masih ada DBD yang mematikan

Persentase kabupaten/kota yang terjangkit DBD
Persentase kabupaten/kota yang terjangkit DBD Lokadata / Lokadata

Pandemi Covid-19 memang menyita habis perhatian tenaga kesehatan di seluruh Indonesia. Namun, jangan lupa Indonesia punya musuh yang muncul setiap saat yang tak kalah berbahaya: Demam Berdarah Dengue (DBD).

Demam berdarah merupakan penyakit menular akibat virus Dengue, ditularkan lewat vektor nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Demam Berdarah Dengue menjangkiti hampir seluruh kabupaten/kota di Indonesia.

Dalam kurun 2010 hingga 2019 trennya cenderung meningkat, baik dari jumlah kasus maupun jumlah korban jiwa.

Menurut hasil olah data dari Publikasi Profil Kesehatan Indonesia yang dirilis Kementerian Kesehatan, rasio daerah terjangkit penyakit mematikan ini sempat turun cukup dalam pada 2011.

Kala itu, Indonesia didaulat jadi tuan rumah Asean Dengue Day (ADD). Di wilayah DKI Jakarta, digelar kampanye Ayo Kendalikan DBD oleh 1.700 Jumantik (Juru Pemantau Jentik).

Dialog Nasional hingga Komitmen Kepala Daerah dalam Pengendalian Demam Berdarah menyertai rangkaian program ini. Di tahun yang sama, persentase daerah terjangkit DBD turun dari 80 persen menjadi 75 persen.

Namun, perbaikan itu tak berlangsung lama. Rasio kabupaten/kota terjangkit DBD melonjak lagi, sebesar 9 persen pada 2012. Setelah itu pola naik turun terus berlanjut.

Catatan terburuk lain ada pada 2019. DBD menjangkiti warga 94 persen kabupaten/kota di nusantara.

Tercatat, ada 138.127 kasus DBD yang dilaporkan pada 2019. Jumlah ini meningkat dibandingkan 2018 (65.602 kasus). Kematian karena DBD juga bertambah. Pada 2018 tercatat 467 kematian, dan setahun kemudian menjadi 919 kematian.

Capaian infection rate DBD
Capaian infection rate DBD Lokadata / Lokadata

Jumlah kasus digambarkan dengan indikator incidence rate (IR) per 100 ribu penduduk. Kementerian Kesehatan menargetkan pada 2019 sebanyak 68 persen kabupaten/kota tingkat IR kurang dari 49.

Faktanya jauh dari target tersebut. Dari target ketercapaian IR DBD 68 persen wilayah, realisasinya hanya 62 persen saja.

Incidence Rate DBD pada 2019 mencapai 51,53 per 100 ribu penduduk. Meningkat dibandingkan 2017 dan 2018 ketika IR DBD berturut-turut 26,1 dan 24,75 per 100 ribu penduduk.

Visual memperlihatkan 23 dari 34 provinsi pada 2019 tidak memenuhi target IR DBD. Termasuk dalam daftar provinsi kalah perang dengan DBD itu adalah DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali.

Selain iklim dan kondisi lingkungan, beberapa studi menunjukkan DBD berhubungan dengan mobilitas dan kepadatan penduduk, serta perilaku masyarakat. Hal ini terbukti dari tingginya kasus di kota-kota besar dan padat penduduk, seperti Jakarta.

Untuk menghadapi DBD, Kementerian Kesehatan masih memiliki rumus yang sama, yakni kesadaran dari hunian masing-masing. Formulanya sama: 3M (menguras tempat penampungan air, menutup tempat-tempat penampungan air, dan memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi jadi tempat nyamuk penular DB berkembangbiak).

Upaya lain yang bisa dilakukan sebagai pencegahan adalah menaburkan bubuk larvasida di tempat penampungan air yang sulit dibersihkan dan menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah karena bisa jadi sarang nyamuk.

Penggunaan kelambu saat tidur juga disarankan, selain memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk, atau menanam tanaman pengusir nyamuk.