Lokadata.ID

Jaringan raksasa akun palsu sebar propaganda pro-Cina di medsos

Unggahan oleh akun palsu di  Twitter untuk propaganda pro-Cina yang  yang ditemukan oleh ProPublica.
Unggahan oleh akun palsu di Twitter untuk propaganda pro-Cina yang yang ditemukan oleh ProPublica. Allen Tan / ProPublica.org

Sebuah jaringan raksasa yang terdiri lebih dari 350 profil telah membangun narasi propaganda pro-Cina secara masif di media sosial. Akun-akun palsu itu berusaha mendiskreditkan penentang pemerintah Cina.

Menurut laporan organisasi nirlaba pemberantas hoaks, Center for Information Resilience (CIR), yang diterima BBC, tujuan propaganda itu adalah untuk mendelegitimasi Barat dan meningkatkan pengaruh dan citra Cina di luar negeri. Akun itu tersebar di Twitter, Facebook, Instagram, dan YouTube dengan membuat akun palsu atau membajak akun lain.

Adapun model propaganda yang dilakukan salah satunya dengan mengedarkan kartun norak yang menggambarkan taipan Cina sekaligus kritikus vokal yang diasingkan, Guo Wengui.

Juga ada kartun aktivis Yan Li-Meng dan Steve Bannon, mantan ahli strategi politik untuk Donald Trump. Kartun itu menggambarkan Steve Bannon sebagai iblis, Yan Li-meng dengan lidah bercabang. Sementara Guo Wengui digambarkan punya ekor dan memegang bendera Amerika.

Kartun untuk mengejek (kiri-kanan) Bannon, Li-Meng Yan dan Guo Wengui
Kartun untuk mengejek (kiri-kanan) Bannon, Li-Meng Yan dan Guo Wengui / BBC

Tidak ada bukti nyata bahwa jaringan tersebut terkait dengan pemerintah Cina, tetapi menurut CIR, jaringan tersebut menyerupai jaringan pro-Cina yang sebelumnya sudah dihapus oleh Twitter dan Facebook. Sebagian besar konten yang dibagikan itu berfokus pada AS, khususnya pada isu yang memecah belah seperti undang-undang senjata dan politik ras.


Salah satu narasi yang digembar-gemborkan, menurut RFA, adalah AS memiliki catatan hak asasi manusia yang buruk. Salah satunya, unggahan disinformasi tentang pembunuhan George Floyd serta diskriminasi terhadap orang Asia dengan judul “"Hampir 20.000 orang meninggal karena kekerasan senjata di Amerika Serikat pada tahun 2020.”

Propaganda anti-AS ini semakin menjadi-jadi menjelang kunjungan Wamenlu Wendy Sherman, ke Cina. Nikkei Asia melansir, Cina terlibat dalam perang propaganda sengit selama kunjungan Sherman dengan menggunakan media online Beijing, demi membentuk narasi saat pertemuan berlangsung akhir Juli lalu.

Beberapa waktu lalu, akun yang sama berulang kali menyangkal bahwa telah terjadi pelanggaran HAM di wilayah Xinjiang. Berita bahwa Cina telah menahan setidaknya satu juta Muslim disebutnya sebagai kebohongan yang dibuat oleh Amerika Serikat dan Barat.

"Tujuan dari jaringan tersebut tampaknya untuk mendelegitimasi Barat dengan memperkuat narasi pro-Cina," kata Benjamin Strick, penulis laporan CIR.

Kerry Allen, analis media Monitoring Cina BBC mengatakan bahwa ‘diplomasi prajurit serigala’ telah muncul di Twitter untuk mengibarkan bendera retorika Partai Komunis Cina.

Cina ingin menggambarkan dirinya sebagai teman dunia, bukan negara otoriter yang represif, seperti yang dirasakan negara-negara Barat. Dengan lebih dari satu miliar pengguna internet, Cina tentu memiliki kemampuan untuk mengatur kampanye media sosial skala besar.


Tagar seragam

Laporan CIR mengungkap jaringan itu dari tagar seragam yang banyak digunakan. Terdeteksi ada aktivitas tingkat tinggi yang mendorong narasi propaganda dengan memakai tagar sama berulang kali. Akun yang baru dibuat, akun dengan nama pengguna yang tampaknya dibuat secara acak, dan akun dengan pengikut yang sangat sedikit juga menimbulkan tanda tanya. Adapun target sasarannya adalah AS, Hong Kong, dan taipan yang diasingkan.

CIR juga menemukan banyak profil palsu menggunakan foto hasil kerja kecerdasan buatan, memungkinkan komputer membuat gambar orang yang tidak ada tapi terlihat realistis. Banyak akun Facebook yang diyakini sebagai bagian dari jaringan tersebut menggunakan nama Turki. Akun-akun ini mungkin pernah dimiliki oleh orang-orang asli, tetapi kemudian dibajak atau dijual dan diberi gambar profil baru.

Setelah dibajak, akun ini lalu menyebarkan narasi pro-Cina jaringan di YouTube. Akun yang sebelumnya biasa menggunakan bahasa Inggris atau Jerman lalu tidak aktif selama bertahun-tahun, kini tiba-tiba mulai memposting konten dengan bahasa Mandarin.

Seorang juru bicara Facebook seperti dikutip Euro News, mengatakan telah menghapus jaringan aktivitas spam yang mengunggah gaya hidup dan politik, terutama dalam bahasa Cina sejak tahun 2019. YouTube juga menghentikan akun di jaringan karena melanggar pedoman komunitas penggunanya.


Meretas Twitter

Sebelumnya, ProPublica telah menganalisis bahwa ribuan akun Twitter palsu dan dibajak agar propaganda rahasia Tiongkok menyebar ke seluruh dunia. ProPublica adalah ruang berita nirlaba yang menyelidiki penyalahgunaan kekuasaan.

Hal ini mula-mula diketahui dari Kalen Keegan, seorang mahasiswa di Universitas Nebraska Omaha yang mengumumkan bahwa akunnya diretas. Setelah itu tiba-tiba Twitter Kalen Keegan berubah menjadi akun zombie yang menyebarkan propaganda.

Akun Twitter  Kalen Keegan (kiri) dan setelah dibajak (kanan)
Akun Twitter Kalen Keegan (kiri) dan setelah dibajak (kanan) / propublica.org

Upaya ini tampaknya ditujukan untuk khalayak yang berbeda di luar negeri. Sebagian besar postingan yang ditemukan berbahasa Cina dan tampaknya ditujukan untuk memengaruhi jutaan etnis Tionghoa yang tinggal di luar perbatasan Cina.

Investigasi Associated Press dan Universitas Oxford juga menemukan pasukan akun palsu, yang telah me-retweet diplomat Cina dan media pemerintah puluhan ribu kali. Cina memanfaatkan outlet media yang dikendalikan negara dan lebih dari 270 akun diplomatik di platform media sosial seperti Twitter dan Facebook untuk memperkuat perspektif mereka tentang urusan global dan peristiwa terkini.

Selama tujuh bulan, investigator AP menemukan akun palsu yang secara diam-diam memperkuat propaganda melalui media sosial. Akun ini berpotensi menjangkau ratusan juta orang, dan seringkali tidak mengungkapkan fakta bahwa konten tersebut disponsori pemerintah Cina.

Penyebaran pengaruh juga acapkali dilakukan akun resmi. Liu Xiaoming, perwakilan khusus Cina untuk Urusan Semenanjung Korea, salah satunya. Dia bergabung dengan Twitter pada 2019 dan sejak itu telah mengumpulkan lebih dari 119.000 pengikut.

Lebih dari setengah retweet Xiaoming antara Juni 2020 hingga Januari 2021 berasal dari akun yang telah ditangguhkan dari Twitter karena melanggar aturan platform, yang melarang manipulasi. Unggahan Xiaoming di-retweet lebih dari 43.000 kali, dari Juni 2020 hingga Februari 2021 saja.

Twitter sangat menyadari operasi pengaruh Cina ini. Pada bulan Agustus dan September 2020, platform mengumumkan bahwa mereka telah menangguhkan lebih dari 5.000 akun yang diduga dikendalikan oleh penerintah Cina dan merilis data tentang mereka. Twitter juga memblokir sekitar 200.000 akun yang sudah dibuat tetapi tidak kunjung aktif.