Lokadata.ID
Jaya Suprana: Jamu mencegah penyakit, bukan mengobati
Jaya Suprana saat terlibat wawancara dengan Beritagar.id di Jaya Suprana School of Performing Art, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa (17/10/2017). Wisnu Agung Prasetyo/Beritagar.id

Jaya Suprana: Jamu mencegah penyakit, bukan mengobati

Jaya Suprana memandang konsumsi jamu mencerminkan kultur pencegahan penyakit, bukan pengobatan. Sejak awal, masyarakat Indonesia sudah melek kesehatan.

Kalau orang memandang stres sebagai halnya Jaya Suprana, ruang-ruang seminar untuk menampik stres jelas kosong melompong.

Pasalnya, sosok yang pernah ditahbiskan sebagai Tokoh Humor Nasional oleh para pembaca majalah HumOr pada 1996 itu hakul yakin manusia butuh stres. "Orang hidup kalau enggak stres, enggak mungkin," katanya pada suatu wawancara dengan majalah TIRAS berpuluh-puluh tahun lalu.

Berbagai label yang disematkan pada namanya jelas menunjukkan pengelolaan stres istimewa: komponis, pianis, kolumnis, kartunis, humorolog, kelirumolog, untuk menyebut beberapa. "Logika dan otak saya tidak pernah berhenti dari bermain. Kalau saya bermain, saya serius. Karenanya buat saya, stres penting sekali," ujar Presiden Komisaris PT Jamu Jago itu.

Ketika Bonardo Maulana Wahono, Fajar W. Hermawan, dan Wisnu Agung Prasetyo berbincang dengannya pada 17 Oktober 2017 di ruang pertunjukan Jaya Suprana School of Performing Arts di Kelapa Gading, Jakarta Utara, keseriusan begitu tebal melumurinya. Bahkan ketika dia melemparkan humor.

"Temu lawak itu segala-galanya. Sampai saya pernah menciptakan festival temu lawak. Tapi isinya pertemuan para pelawak," katanya memelesetkan jenis tanaman andalan keluarganya.

Dalam pohon bisnis keluarga Jamu Jago, Jaya Suprana tergolong generasi ketiga. Dia masuk bisnis bentukan T.K. Suprana itu pada 1978. Pada tahun sama suksesi berlangsung, Pusat Industri Jamu Jago berdiri di Srondol, Semarang, Jawa Tengah.

Lelaki 70 tahun itu bercakap tentang tanaman obat, industri jamu, industri farmasi dan jejaringnya--dia menyebutnya "komplotan"--tanpa berbelit-belit. Kata-kata yang keluar dari lisannya kadang disuarakan dengan keras, kadang berbisik.

Di hadapannya, kursi-kursi berbanjar. Resital solo piano dengan pianis muda asal Georgia, Aslan Chikovani segera digelar. Di antara penontonnya adalah para duta besar yang bertugas di Jakarta.

Jaya Suprana saat meladeni wawancara dengan Beritagar.id pada 17 Oktober 2017 di sekolah kesenian yang ia dirikan, Jaya Suprana School of Performing Arts, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Jaya Suprana saat meladeni wawancara dengan Beritagar.id pada 17 Oktober 2017 di sekolah kesenian yang ia dirikan, Jaya Suprana School of Performing Arts, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id

Bisa cerita bagaimana awalnya rempah dipakai sebagai bahan jamu untuk kecantikan, seksualitas, dll.?
Itu cuma bagian kecilnya. Orang menganggap jamu untuk kecantikan dan untuk seksualitas. Kecantikan dan seksualitas bagian dari peradaban kesehatan atau kebudayaan kesehatan Nusantara yang memang mencakup kesehatan, kebugaran, daya tahan.

Rempah-rempah, jamu, tanaman berkhasiat kan bagian. Dulunya mereka itu buat makanan. Merica, pala haranya jauh lebih mahal dari emas. Tapi, kalau di Indonesia makanan ini kaitannya dengan kesehatan juga. Apa yang kita makan itu kesehatan kita.

Lalu ada Jalur Rempah ...
Sekarang yang sedang ramai gembar-gembor teman kita yang dari Cina. Mereka kan sedang mempromosikan Jalur Sutera. Seolah-olah peradaban umat manusia ini dibentuk dari Jalur Sutera itu.

Itu tak apa, karena itu hak mereka.

Tapi, menurut pendapat saya secara objektif, Jalur Rempah itu lebih membentuk geopolitik dunia daripada Jalur Sutera. Kalau Jalur Sutera itu lebih banyak perdagangan. Tapi, dari Jalur Rempah timbul suatu peradaban baru di planet bumi ini, yaitu peradaban kolonial.

Kebetulan gudang rempah yang maha kaya raya itu berada di Nusantara, khususnya daerah Indonesia sebelah timur seperti Maluku sampai ke Papua. Tapi, terutama di daerah Maluku, Nusa Tenggara.

Siapa sebenarnya pelopor jamu?
Ya, awalnya memang bangsa kita mempunyai peradaban demikian. Mulainya gimana saya enggak tahu.

Tapi, bangsa Indonesia telah menyadari bahwa yang penting dalam kesehatan itu bukan yang dilakukan kebudayaan kesehatan barat, yaitu kuratif.

Kuratif itu apa? Kuratif itu manusia sudah terlanjur sakit baru kemudian minum obat. Dan obat itu obat farmasi.

Kalau bangsa Indonesia enggak. Bangsa Indonesia punya peradaban cukup tinggi. Mereka membina kesehatan secara preventif dan promotif.

Preventif itu apa? Kita sebelum sakit sudah minum jamu, bukannya tunggu sakit dulu baru minum. Agar apa? Agar tidak sakit, agar kesehatan kita tidak terganggu.

Kalau promotif, harus terjadi secara rutin. Sebab, kalau tidak berkesinambungan percuma. Kemudian, dari Sabang sampai Merauke lebih mengutamakan yang preventif dan promotif.

Baru pada abad ke-21 WHO sebagai lembaga kesehatan dunia mewakili PBB itu menerapkan filosofi paradigma kesehatan baru, yaitu preventif dan promotif. Jadi sebetulnya (WHO) kembali ke jamu.

Kita punya istilah khusus untuk orang yang pandai meracik tanaman berkhasiat?
Kita sampai sekarang cuma (mengenal) peramu jamu. Kalau tabib kan dari Arab, dan sinse dari Cina.

Sebetulnya ya, dukun. Tapi dukun kan dihancurkan, dianggap sesuatu kata yang memalukan. Tradisi semacam itu sudah lama tapi tidak disebut, karena memang dulu tidak disebut. Kan yang ngasih nama itu akal-akalan orang barat.

Biasanya raja sekaligus pengobat utama. Sang raja peramu utama. Apa yang dia bilang, dipatuhi. Seperti sekarang. Yang laboratorium bilang bagus, diakui.

Bitikwau Ondow, dukun di kaki Pegunungan Arfak. Dia memanfaatkan tanaman di sekitar lingkungan kampungnya sebagai obat.
Bitikwau Ondow, dukun di kaki Pegunungan Arfak. Dia memanfaatkan tanaman di sekitar lingkungan kampungnya sebagai obat. Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id

Tanaman berkhasiat obat hanya akan bisa berfaedah jika sudah melalui teknologi pengolahan?
Omong kosong. Saya benci dengan perkataan itu. Itu adalah imperialisme kebudayaan.

Kalau memang sudah diolah kemudian baru (dikonsumsi), Hayam Wuruk dan Gajah Mada sudah sakit-sakitan sejak lama. Itu propaganda peradaban Barat.

Jadi, bagaimana bisa menentukan apakah tanaman tertentu berkhasiat atau tidak?
Yang menentukan bukan saya, tapi nenek moyang saya. Sudah dari dulu. Sudah untung bangsa kita punya budaya lisan turun-temurun.

Jamu membuat supaya semua orang jangan sakit.

Anda yakin bahwa tanaman tertentu punya khasiat tertentu?
Yakin? Ya.

Tuhan tidak percuma menciptakan segala-galanya. Pasti beliau punya maksud dan punya niat yang manusia perlu tahu. Buktinya, secara empirik sudah terbukti.

Ini barusan tadi sebetulnya saya akan ada pertemuan dengan Profesor Iwan Jaya Aziz. Beliau istrinya menemukan suatu tanaman, saya tidak perlu menyebutnya di sini karena masih mau mengadakan penelitian.

Ada orang sudah gagal ginjal terminal, enggak mungkin diobati. Kemudian, pindah ke pengobatan alternatif, yang sebenarnya adalah pengobatan alami. Terbukti sembuh. Terus mau diapakan lagi? Apa enggak boleh sembuh dia?

Anda sempat menyinggung mengenai penelitian dengan cara sendiri. Maksudnya bagaimana?
Ya, cara kita empirik.

Ada yang dengan sembahyang, dan sembuh. Masa enggak boleh. Kemudian kita komentar, wah itu dibohongi. Lha, wong dia sembuh.

Jangan sombong mengenai kesehatan. Sebetulnya semua, termasuk jamu, pengobatan tradisional, pengobatan, dan lain-lain. Mereka tuh hanya bisa menyembuhkan atas perkenan yang Mahakuasa. Ya, kalau Anda enggak percaya, jangan percaya Pancasila dong. Kan ada Ketuhanan Yang Maha Esa.

Saya lama menjadi ketua sebuah rumah sakit di Jawa Tengah. Misterius, Pak. Bagaimana orang mati atau orang hidup, itu maunya Tuhan. Bahkan ada satu bibi saya sudah divonis mati karena kanker usus.

Karena bibi saya percaya kepada Tuhan, dia cuma minta didoain. Akhirnya semua berdoa. Besok pagi sembuh. Tadi malam saya mimpi saya sudah mau masuk ke pintu surga, ketemu sama malaikat, enggak boleh, katanya. "Kamu harus balik lagi," malaikat bilang ke dia.

Saya enggak percaya (cerita itu), tapi yang penting kan dia sembuh. Masa saya larang dia sembuh. "Eh, enggak boleh dong, kamu sembuhnya enggak ilmiah". Gendeng opo?

Waktu jadi kepala rumah sakit, sedia tanaman sebagai obat?
Lha ya ditentang, toh. Dokter-dokter enggak ada yang berani. Mereka bisa dipecat.

Kalau keluarga Anda sendiri lebih percaya pada tanaman sebagai penyembuh?
Lha, iya pasti. Kalau enggak, masa kita bikin jamu? Kakek saya sampai ke sumsum tulang percayanya pada jamu

Apa yang sering diminum?
Macam-macam, dong. Demokratis. Kalau saya sederhana, pegel linu itu aja.

Tak percaya dengan obat dari perusahaan farmasi?
Enggak. Kecuali nanti kalau saya kanker, baru saya pusing. Ya sudah. Mungkin saya akan kemoterapi. Memang belum ada jamunya, saya akui. Soalnya dulu penyakit kanker belum ada.

Pemakaian tanaman dianggap berkhasiat seperti kayu manis atau cengkeh memang turun-menurun?
Turun-menurun.

Tapi, gini. Itu bisa beda dari lokasi. Maluku, Papua, bisa beda-beda. Tapi, intinya semua bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk memperkuat daya tahan tubuh.

Temu lawak akhirnya sekarang diakui punya potensi banyak sekali untuk pencernaan. Tapi, ya gimana, ya? Semua itu Tuhan menciptakan. Memang ada tanaman yang beracun. Tapi, itu seperti kita makan durian banyak-banyak. Ya, mendem kita, mencret.

Agama saya Kristen tapi saya mengagumi suatu ajaran Islam yang menurut saya menjadi jawaban untuk segala-galanya. Jangan berlebihan, jangan serakah.

Tanaman apa yang mempunyai kesan kuat untuk Anda?
Temu lawak. Temu lawak itu segala-galanya. Sampai saya pernah menciptakan festival temu lawak. Tapi isinya pertemuan para pelawak. Ha-ha-ha.

Tapi, temu lawak itu hebat. Sampai sekarang kita belum ketemu jangkauannya yang luas sekali.

Bisa diterapkan ke semua orang?
Begini, setiap manusia punya metabolisme berbeda-beda.

Saya kalau makan cabai separuh saja, perut sudah kacau. Anda mungkin bisa dua. Istri saya mungkin 10. Metabolisme kita beda. Generalisasi kan ciptaan industri.

Bagaimana takaran setelah dibuat jamu?
Sebetulnya jamu dulu itu enggak ada dibungkus, yang setiap hari minum pagi dan sore.

Ayah saya sering mengadakan eksperimen. Ibu saya diabet. Ayah saya secara organoleptik melihat petai kalau dibuka, bijinya dikerubuti semut. Kulitnya tidak. Tuhan menciptakan (kulit itu) seolah-olah antitesis dari gula.

Ayah saya pakai nalar. Ibu saya dicoba kulit petai digerus, kemudian direbus, kemudian sarinya diminumkan ibu saya. Ibu saya pingsan. Gulanya drop.

Lalu, saya karena biasa terdidik secara barat kan jadi rakus. "Ayo, kita bikin," kata saya. "Kamu lihat," kata ayah saya, "ibumu aja semaput. Bisa berapa banyak nanti orang diabet yang macem-macem".

Tumbuhan endemik dari Dataran Tinggi Dieng, Purwoceng, yang disebut Jaya Suprana sebagai ginsengnya orang Dieng.
Tumbuhan endemik dari Dataran Tinggi Dieng, Purwoceng, yang disebut Jaya Suprana sebagai ginsengnya orang Dieng. Bismo Agung Sukarno / Beritagar.id

Bagaimana menentukan dosis tepat?
Kita enggak tahu takaran persisnya berapa. Jangan omong kosong. Itu ilmu farmasi, ilmu kedokteran selalu bilang metabolisme badan ini selalu tetap. Padahal, berubah tiap detik. Kimia di dalam kita bergejolak terus.

Tapi, ya lucunya begini. Kalau ada dukun atau peramu jamu (kasih ramuan), yang minum semaput, langsung ngamuk semua. Dibilang malapraktik, penipuan, tidak saintifik, tidak ilmiah, tidak terbukti, kok dikasih (jamu).

Waktu saya mimpin rumah sakit, saya tanya yang mati setiap bulan berapa? 15 lho, rata-rata. Kalau semaput kan setengah mati, kalau mati total, ya mati. Tapi, enggak ada yang protes.

Malah, kami mengucap terima kasih kepada para dokter dan perawat Telogorejo karena telah merawat ayahanda kami sampai meninggal dunia.

Perusahaan industri perlu standarisasi. Ada laboratorium sendiri?
Enggak ada. Kita kan ikutan aturan main.

Pernah kita buat satu ramuan. Memang kesalahan dari saya kurang teliti. Ada yang menyelundupkan zat kimia ke dalamnya.

Gini, lho. Zat kimiawi itu seperti militer. Kalau Anda sudah sakit, jangan minum jamu. Lebih baik minum obat farmasi. Siapa tahu sembuh. Kalau enggak sembuh, ya mati secara ilmiah.

Karena kemampuan laboratorium pemerintah masih rendah, mereka enggak tahu kalau zat itu ada di dalam. Sampai pada suatu hari, datang kerja sama Asean. Kan terbuka. Nah kemudian laboratorium Singapura bilang, lho ini kan zat terlarang. Padahal, dari dulu tidak ada masalah.

Bagaimana dengan skala ekonomi tanaman berkhasiat Indonesia?
Dahsyat sekali. Sekarang farmasi sebagian sudah dari tanaman kok. Mereka sudah bikin ekstrak temu lawak, kumis kucing, dll. Setiap manusia konsumen potensial jamu. Tergantung jamu mana: Nepal, Tibet, Indonesia.

Usaha pengembangan tanaman berkhasiat lumayan?
Iya, tapi kebanyakan diekspor. Kayak Jerman tuh banyak ngambil. Paling banyak itu Eropa. Untuk farmasi, diekstrak untuk campuran karena mereka tahu potensinya.

Sebenarnya yang bikin akal-akalan mengkomersialkan itu kan mereka. Kita kan dulu pakainya sesuai kebutuhan. Tadinya hanya cukup untuk kebutuhan, tapi sekarang dipaksa karena kerakusan ekonomi. Kita ngikutin aja.

Ada investor asing mendekati Jamu Jago?
Oh banyak, yang mau masuk, yang mau nyaplok. Kemudian namanya mau diganti sama mereka. Jamu mau ditenggelamkan, mau dimusnahkan. Diambil sarinya kayak drakula, tangkap, dihisap darahnya, lalu dibuang.

Dari mana Anda ambil bahan jamu?
Dari petani. Paling dominan temu lawak. Itu super sekali. Enggak ada temu lawak, Jamu Jago bangkrut.

Temu lawak super plant?
Untuk kami, ya. Kalau yang lain beda-beda. Belakangan saya menemukan yang baru, purwoceng. Buat mereka, purwoceng seperti gingseng. Di Korea Utara, saya kagum sekali. Mereka punya suatu kesepakatan persatuan nasional dalam membanggakan ginseng mereka. Luar biasa sekali. Saya mau ngangkat jamu aja setengah mati. Malah dibilang, Pak Jaya ketinggalan zaman.

Jamu Jago punya berapa resep?
Setiap saya punya ide, di situ kita punya resep. Enggak ada habisnya. Banyak ide dari saya. Saya orang pertama yang mengindustrikan jamu untuk anak-anak. Contohnya, Jamu Buyung Upik.

Ada ramuan baru lagi?
Tahun (2018) pas 100 tahun Jamu Jago, itu ada ramuan baru.

Dari daerah mana tanamannya diambil?
Beda-beda.

Ekspor terbesar ke mana?
Sama seperti Cina, diaspora. Tergantung (keberadaan) masyarakat Indonesia. Cina diasporanya dahsyat, makanya lebih tersebar.

Masih optimistis dengan perkembangan sekarang?
Belakangan saya agak pesimis, mungkin karena saya makin tua. Apalagi generasi muda sudah susah sekali.

Komplotan (farmasi) luar biasa. Mulainya dari sekolah. Ada kan Fakultas Kedokteran, Fakultas Farmasi. Fakultas Jamu saya tunggu sampai ngeden enggak keluar.

Pernah ada usaha untuk bikin kampus sendiri?
Pernah, tapi gagal.

Dulu ada namanya Ibu Darmi, itu dia bikin sekolah jamu. Wah, semangat sekali. Tapi belakangan ini undang-undang tentang pengobat tradisional enggak ada, yang melindungi mereka enggak ada.

Tidak ada upaya untuk mendekati pemerintah?
Waduh, sampai bosan. Malah waktu zaman Pak Harto sudah berjuang, dan oleh Departemen Kesehatan dituduh ekstremis. Tapi ya itu. Presiden ngomong apa, mereka (industri farmasi) tertawa. Duitnya mereka yang pegang.