Lokadata.ID

Jokowi disuntik vaksin Cina, meski data efikasi belum pasti

Presiden Joko Widodo memulai program vaksinasi anti-korona di Indonesia, Rabu 13 Januari 2021.
Presiden Joko Widodo memulai program vaksinasi anti-korona di Indonesia, Rabu 13 Januari 2021. Agus Suparto / Handout/EPA-EFE

Dengan kemeja putih kegemarannya, Presiden Joko Widodo disuntik vaksin korona produksi Sinovac Biotech Ltd., perusahaan asal Cina, Rabu, 13 Januari 21, hari ini.

Jokowi merupakan pemimpin besar dunia pertama yang secara terbuka menerima suntikan vaksin Cina. Tokoh pemerintah lain, yang menyiarkan langsung vaksinasi mereka, seperti Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, PM Singapura Lee Hsien Loong, dan presiden terpilih Amerika Serikat Joe Biden, menerima vaksin korona yang dikembangkan oleh perusahaan AS, Pfizer.

Di Indonesia, Jokowi merupakan peserta imunisasi dengan nomor urut satu, dari sekitar 185 juta rakyat Indonesia yang akan diberi suntikan vaksin anti-korona. Vaksinasi terhadap Jokowi diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan publik terhadap vaksin, di tengah data efikasi alias kemanjuran vaksin Sinovac yang masih simpang siur.

Meski Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah memberikan izin pemakaian darurat terhadap vaksin Sinovac, pada Senin (11/1/21), sebagian kalangan masih meragukan efektivitas vaksin produksi Cina itu.

Hanya selapis di atas treshold

Bloomberg mencatat, setidaknya ada empat data efikasi vaksin Sinovac yang berbeda dalam beberapa pekan terakhir.

Uji klinis tahap akhir di Indonesia menyimpulkan bahwa vaksin ini memiliki tingkat efikasi 65,3 persen. Namun kesimpulan ini diperoleh dari pengujian terhadap 1.620 relawan -- jumlah yang dianggap terlalu kecil untuk dapat menarik kesimpulan yang memadai.

Sementara itu, hasil uji klinis di Turki menyimpulkan, vaksin yang sama menunjukkan tingkat kemanjuran 91,25 persen. Namun, lagi-lagi data ini diambil dari sampel yang terlampau kecil. Menurut Reuters, kesimpulan ini diambil hanya dari 1.322 dari 7.000 relawan yang divaksin.

Adapun di Brasil, Sinovac melakukan uji coba terhadap lebih dari 13.000 relawan. Pekan lalu, Butantan Institute, mitra lokal dalam uji coba itu, menyatakan bahwa vaksin Sinovac 78 persen efektif dalam mencegah kasus ringan Covid-19, dan bahkan 100 persen efektif dalam melawan infeksi parah dan sedang.

Namun, seperti juga dilaporkan Reuters, Selasa 12 Januari 2021 kemarin, Butantan mengoreksi angka itu. Dengan memasukkan kasus sangat ringan yang tidak memerlukan bantuan medis, efikasi secara keseluruhan sebenarnya adalah 50,38 persen.

Tingkat efikasi 50,38 persen ini hanya selapis tipis di atas treshold minimal yang ditetapkan BPOM maupun FDA, badan pengawas obat makanan Amerika, yakni kemanjuran 50 persen.

Tak ayal, kesimpangsiuran itu memicu kebingungan dan keraguan atas vaksin buatan Cina ini. Apalagi, selama ini pabrik Cina dinilai kurang transparan dalam mengungkapkan data keamanan dan pengujian ketimbang farmasi Barat.

Kerancuan efikasi ini juga dinilai merusak kepercayaan pada vaksin yang telah dijanjikan oleh Presiden Xi Jinping untuk dibagikan ke seluruh dunia sebagai barang publik global.

“Ada tekanan finansial dan prestise yang sangat besar untuk uji coba ini agar secara besar-besaran melebih-lebihkan hasil mereka,” kata Nikolai Petrovsky, seorang profesor di Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat di Universitas Flinders seperti dikutip Bloomberg.

Seorang juru bicara Sinovac menolak untuk mengomentari angka dari uji coba di Brasil, Turki dan Indonesia. Namun, ia menjanjikan akan ada banyak data yang dirilis oleh mitranya di Brasil dalam pekan ini.

Kerancuan data ini tampaknya juga telah menjadi kendala terbitnya izin edar vaksin Sinovac di beberapa tempat. Awalnya, Sinovac akan mengirimkan pasokan vaksin ke Hong Kong pada Januari.

“Tapi mereka menunda pengumuman data uji klinis sampai tiga kali," kata David Hui, seorang profesor pernapasan di Universitas Cina Hong Kong yang duduk dalam panel penasihat Covid-19 di pusat industri keuangan Asia itu.

Mengurai kebingungan

Saat ini, para pengamat dibuat bingung dengan tingkat kemanjuran pertama sebesar 78 persen yang diumumkan oleh Butantan Institute. Menurut informasi yang diungkapkan Bloomberg, uji coba tersebut mengamati sekitar 220 peserta yang terinfeksi: 160 pada kelompok plasebo dan hampir 60 pada kelompok yang divaksinasi.

“Jika peserta uji coba dibagi rata antara kelompok vaksin dan kelompok plasebo, maka tingkat kemanjuran akan mencapai 62,5 persen,” kata Petrovsky, yang juga direktur penelitian untuk Vaxine Pty Ltd., sebuah perusahaan yang mengembangkan vaksin Covid-19.

Adapun Raina MacIntyre, Kepala Program Biosecurity di Kirby Institute di University of New South Wales menilai perhitungan eksternal masih spekulatif kecuali lebih banyak data. Misalnya, jumlah total orang dalam kelompok plasebo dan kelompok yang divaksinasi, dirilis dalam jurnal ilmiah yang ditinjau oleh rekan sejawat (peer review).

Di tengah kebingungan ini, Ketua Satuan Tugas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Prof Zubairi Djoerban memberikan penjelasan seperti dikutip Kompas.id. Menurut dia, efikasi ditentukan sejumlah faktor, seperti latar belakang kelompok relawan untuk uji klinis dan epidemiologi wilayah uji klinik dilakukan.

Vaksin dengan kemanjuran 65,3 persen dalam uji klinis di Indonesia, menunjukkan ada penurunan 65,3 persen kasus penyakit pada kelompok yang divaksinasi dibandingkan kelompok yang tidak divaksinasi.

Menurut Zubairi, di Brasil, kelompok relawan adalah tenaga kesehatan yang setiap hari menghadapi paparan tinggi virus penyebab Covid-19. Relawan di Turki adalah tenaga kesehatan dan masyarakat umum. Sementara di Indonesia, seluruh relawan adalah masyarakat umum yang risiko tertularnya relatif rendah dibandingkan tenaga kesehatan.

Jika kelompok plasebo disiplin menerapkan protokol kesehatan, maka penurunan kasus Covid-19 antara kelompok yang divaksin dengan kelompok plasebo tidak akan berbeda jauh. Efikasi vaksin pun terukur lebih rendah dibandingkan relawan yang berasal dari kelompok tenaga kesehatan seperti di Brasil dan Turki.

Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, Pandu Riono mengatakan, tingkat efikasi dari suatu vaksin memang berbeda-beda tergantung pada jumlah dan tipe subyek yang divaksin. Selain itu, faktor risiko penularan dari virus pun berpengaruh terhadap tingkat efikasi.