Lokadata.ID

Kabar merger Gojek dan Grab kembali mencuat

Pengendara Gojek dan Grab menunggu orderan penumpang di shelter ojek daring di kawasan Stasiun Sudirman, Jakarta.
Pengendara Gojek dan Grab menunggu orderan penumpang di shelter ojek daring di kawasan Stasiun Sudirman, Jakarta. Indrianto Eko Suwarso / ANTARA FOTO

Kabar rencana dua raksasa layanan on demand, Grab dan Gojek, merger kembali mencuat, setelah sempat lenyap di tengah merebaknya pandemi Covid-19.

Financial Times (14/9/2020) memberitakan pembicaraan sempat terhenti karena investor utama Grab, yaitu SoftBank menentang rencana tersebut.

Kala itu, CEO SoftBank Masayoshi Son percaya bila industri ride-hailing akan tumbuh signifikan dan menjadi industri monopoli, di mana perusahaan dengan uang tunai yang lebih banyak akan mendominasi.

Namun, kondisi pandemi saat ini mengubah hal tersebut. Pasalnya, sejumlah negara melakukan pembatasan terhadap layanan transportasi termasuk yang berbasis aplikasi hingga memberlakukan larangan mengangkut penumpang selama pandemi.

Imbas pandemi membuat Gojek pada Juni lalu mengumumkan pemutusan hubungan kerja 400 karyawan. Jumlah tersebut setara 9 persen dari seluruh pekerja Gojek. Perusahaan rintisan asal Indonesia ini juga menghentikan layanan seperti Go-Life dan GoFood Festival, jaringan pujasera makanan dari pelbagai UMKM di sejumlah tempat.

Begitu juga dengan Grab, yang melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 360 pegawai atau sekitar 5 persen dari total pekerjanya. Grab juga menutup layanan non-esensial dan akan fokus ke jasa pengirimanan makanan dan barang.

Tak hanya itu, nilai kedua start up decacorn tersebut turut mengalami penurunan di pasar sekunder di mana saham keduanya diperdagangkan secara informal.

Saham Grab yang berbasis di Singapura, yang bernilai AS$14 miliar atau setara dengan Rp207,83 triliun, pada putaran pendanaan terakhirnya pada 2019, telah diperdagangkan dengan diskon 25 persen.

Saham Gojek yang bermarkas di Jakarta, senilai hampir AS$10 miliar atau setara dengan Rp148,45 triliun tahun lalu, juga telah dijual dengan diskon besar, seiring dengan rencana pemegang saham awal yang ingin keluar.

“Tekanan yang disebabkan oleh pandemi dan kekhawatiran atas model bisnis ride-hailing secara global telah menekan perusahaan untuk menyetujui kesepakatan,” tulis Financial Times, Sabtu (12/9/2020).

Orang dekat Son menyebutkan bahwa CEO SoftBank itu piawai dalam melakukan merger. “Sinergi yang luas dan pemotongan biaya karena merger dapat berkontribusi pada peningkatan nilai kedua perusahaan,” kata sumber itu.

Analis di PitchBook, sebuah grup riset dan data berbasis di Amerika Serikat, Asad Hussain menilai bahwa masa pandemi ini menjadi waktu yang tepat untuk merger. “Aksi korporasi ini dinilai dapat mempercepat kedua perusahaan rintisan meraup untung,” kata Asad.

Baik pihak Grab maupun Gojek belum memberikan pernyataan terkait hal ini.

Kekuatan Gojek dan Grab

Sebelumnya, Tech in Asia pernah menghitung nilai penggabungan Grab dan Gojek. Perkiraan mereka merger Grab dan Gojek dapat menghasilkan pendapatan tahunan sebesar AS$16,7 miliar dan akan mencapai AS$72 miliar pada 2025.

Dari sisi jumlah pengguna, Grab sudah diunduh oleh 198 juta kali dan beroperasi di 351 kota di 8 negara di Asia Tenggara. Co-CEO Gojek Kevin Aluwi, seperti dikutip CNBC pada Februari lalu, mengatakan aplikasi Gojek telah diunduh oleh 170 juta pengguna di Indonesia dan Asia Tenggara dan beroperasi di 5 negara di Asia Tenggara.

Di sisi lain, wacana merger ini masih menghadapi kendala. Yang pertama, Gojek dinilai punya dukungan politik yang kuat di Indonesia karena pendirinya Nadiem Makarim saat ini menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. “Gojek adalah home team dan pemerintah mendukung pihak lokal,” kata sumber Financial Times.

Selain itu, pembicaraan tersebut juga diwarnai penolakan dari beberapa eksekutif senior Grab yang khawatir mereka tidak akan keluar sebagai pemenang melawan pemegang saham berpengaruh jangka panjang yang ingin membendung kerugian dengan mencari cara keluar dari investasi mereka.

Analis bidang teknologi di Fitch Solutions, Kenny Liew memandang regulator tidak akan menyetujui kesepakatan merger dua raksasa start up tersebut. “Ini mengingat bahwa jumlah pekerjaan kemungkinan besar akan dipangkas,” kata dia.

Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Guntur Syahputra juga sempat mengatakan bahwa kemungkinan akan menolak apabila ada dua pelaku usaha dominan menguasai pangsa pasar.

Hal ini mengacu pada pasal 28 Undang-undang (UU) Nomor 5 Tahun 1999 tentang larangan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Pelaku usaha dilarang melakukan penggabungan atau peleburan badan usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat.

“KPPU akan menilai ukuran konsentrasi pasar dari kedua perusahaan yang berencana merger atau akuisisi," ujar Guntur kepada Katadata.co.id (14/9/2020).

Kabar terbaru, Alibaba disebut-sebut sedang dalam pembicaraan untuk menyuntikkan dana sebesar AS$3 miliar pada Grab. Namun, masuknya Alibaba dinilai dapat meningkatan kekhawatiran antitrust terkait merger Grab dengan Gojek.

“Masuknya Alibaba bisa meningkatkan pengawasan regulasi,” kata Direktur dan Kepala Riset Asia di United First Partners, Justin Tang, dikutip dari Business Times Singapura (15/9/2020).