Lokadata.ID

Kasus Covid-19 menurun secara global, bagaimana di Indonesia?

Seorang tenaga kesehatan mengambil sampel tes usap antigen Covid-19 dari seorang warga di Sekretariat Pewarta Foto Indonesia (PFI) Pusat di kawasan Ampera, Jakarta, Minggu (14/2/2021).
Seorang tenaga kesehatan mengambil sampel tes usap antigen Covid-19 dari seorang warga di Sekretariat Pewarta Foto Indonesia (PFI) Pusat di kawasan Ampera, Jakarta, Minggu (14/2/2021). M Risyal Hidayat / ANTARA FOTO

Tren kasus harian Covid-19 secara global menunjukkan penurunan sejak awal Februari 2021. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 16 Februari 2021, jumlah kasus baru Covid-19 global menurun sebesar 16 persen dibandingkan jumlah kasus baru di minggu sebelumnya.

Begitu juga dengan angka kematian baru karena Covid-19 yang menurun sebesar 10 persen secara global dibandingkan pekan sebelumnya.

Menurut laporan WHO, sebanyak lima dari enam wilayah melaporkan persentase penurunan dua digit pada kasus baru. Hanya wilayah Mediterania yang menunjukkan kenaikan kasus baru sebesar 7 persen. Sedangkan wilayah lainnya seperti Amerika dan Eropa terus menunjukkan penurunan kasus baru.

Amerika Serikat sebagai negara dengan kasus Covid-19 terbanyak melaporkan penurunan kasus baru sebesar 23 persen.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa jumlah kasus baru Covid-19 telah menurun selama lima minggu berturut-turut. Jumlah itu turun hampir setengahnya dari lebih dari 5 juta kasus pada 4 Januari 2021.

“Ini menunjukkan bahwa kebijakan penanganan pandemi (public health measures) yang diterapkan masyarakat berhasil bahkan dengan adanya varian virus baru Covid-19,” kata Tedros, dikutip The Guardian.

Namun Tedros memperingatkan untuk tetap waspada dalam menanggapi tren penurunan kasus ini. “Apinya tidak padam, tapi ukurannya telah mengecil. Jika kita berhenti melawannya, maka virus bisa datang kembali,” kata dia.

Menurut epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia Dicky Budiman menurunnya kasus harian global bukanlah hal yang aneh. “Jika kita cermati sejak awal pandemi Covid-19, negara yang berkontribusi tinggi dalam kasus Covid-19 umumnya negara yang memiliki cakupan testing yang memadai dan optimal,” katanya kepada Lokadata.id, Senin (22/2/2021).

Beberapa negara tersebut, Dicky menyebutkan adalah Amerika Serikat, negara-negara di kawasan Eropa, kemudian di Asia yaitu Cina, Korea Selatan dan Asia Pasifik yaitu Australia, dan Selandia Baru.

“Negara-negara tersebut sejak awal berkontribusi sangat signifikan dalam cakupan testing Covid-19 dunia sehingga ketika strategi 3T (testing, tracing, treatment) memadai, pandemi bisa terkendali.

Hal ini dibuktikan dengan positivity rate negara-negara tersebut yang rendah berdasarkan standar WHO,” kata kandidat Phd di bidang Global Health Security dan Pandemic ini.

Positivity rate merupakan persentase yang didapatkan dari jumlah kasus harian dibagi dengan jumlah pemeriksaan harian dan dikalikan dengan 100. Standar WHO adalah tingkat positivity rate sebesar 5 persen atau di bawah persentase tersebut.

Jika tinggi, artinya banyak pengidap virus Covid-19 yang tidak terdeteksi. Jika positivity rate tinggi, umlah kasus positif tidak menggambarkan kondisi riil di lapangan, karena jumlah yang dites berada di bawah standar.

“Ketika standar positivity rate tercapai tentu cakupan testing tidak akan sebesar sebelumnya sehingga kontribusi terhadap cakupan testing dunia turut menurun yang berakibat pada penurunan laporan kasus Covid-19 harian global,” kata Dicky.

Negara dengan kasus Covid-19 yang terbanyak di dunia saat ini adalah Amerika Serikat, India, Brasil, Rusia, dan Inggris. Mengutip Ourworldindata per 16 Februari 2020, positivity rate di negara-negara tersebut rendah atau mendekati standar WHO. Positivity rate di Amerika Serikat sebesar 9,3 persen, India (1,6 persen), Rusia (4,2 persen), Inggris (2,2 persen).

Pada 12 Februari 2021, Amerika Serikat telah melakukan lebih dari 330 juta tes Covid-19, jumlah tertinggi di antara negara mana pun di dunia. Rusia telah melakukan sekitar 105 juta tes.

Laporan Ourworldindata juga mencatat beberapa negara seperti Australia dan Korea Selatan memiliki positivity rate kurang dari 1 persen karena kedua negara itu melakukan testing secara masif. “Dibutuhkan ratusan bahkan ribuan pengujian untuk menemukan satu kasus di negara-negara itu,” tulis laporan tersebut.

Sedangkan negara dengan tingkat positivity rate yang tinggi, berkisar 20 persen lebih seperti Meksiko, artinya kasus Covid-19 ditemukan hanya dari sedikit testing.

Indonesia masih jauh

Sebelumnya, Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Airlangga Hartarto mengatakan kasus infeksi virus korona di Indonesia mengalami penurunan. "Secara nasional, jumlah kasus aktif mengalami penurunan signfikan, yaitu minus 17,27 persen selama sepekan," kata Airlangga dalam konferensi pers daring, Sabtu (20/2).

Airlangga yang juga menjabat sebagai Menteri Koordinator bidang Perekomonian ini mengklaim PPKM mikro selama lima minggu terbukti menurunkan jumlah kasus aktif Covid-19 secara signifikan.

Bahkan, tren kasus aktif di lima provinsi, yaitu DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur mengalami penurunan. Untuk itu, PPKM skala mikro di Jawa dan Bali kembali diperpanjang dari 23 Februari hingga 8 Maret 2021.

Dicky Budiman menilai Indonesia masih dalam kondisi sangat jauh untuk mengendalikan pandemi Covid-19. Penurunan kasus, kata Dicky disebabkan jumlah testing di Indonesia masih fluktuatif dan belum memenuhi standar WHO.

Jumlah testing harian di Indonesia kerap masih di bawah standar WHO yaitu 1/1.000 jumlah penduduk atau 267.000 orang per pekan atau 38.285 orang per hari.

“Apalagi dalam laporan update WHO juga disebutkan bahwa kasus kematian karena Covid-19 di Indonesia dalam sepekan tersebut merupakan yang tertinggi di wilayah Asia Tenggara dengan 1.500 kematian,” kata Dicky.

Dicky yang dulu juga terlibat menangani isu kesehatan global yaitu penanganan pandemi flu burung ini menyatakan angka kematian yang tinggi merupakan indikator valid untuk melihat tingkat keparahan pandemi suatu negara.

“Kalau ada angka kematian, jangankan tiga digit, satu digit saja menunjukkan negara tersebut kebobolan dalam sistem deteksi dini kasus infeksi,” katanya.

Hal ini mengakibatkan pasien terlambat menerima pengobatan yang sesuai sehingga menyebabkan kematian. Dicky mengingatkan dengan jumlah tes yang sedikit menunjukkan ada banyak kasus positif Covid-19 yang belum terkendali.

Oleh karena itu, Dicky tak henti-hentinya mengingatkan kebijakan penerapan protokol kesehatan dan pembatasan sosial seperti PPKM yang diterapkan saat ini harus diimbangi dengan penanggulangan pandemi Covid-19 yang fundamental yaitu 3T.

“Selama itu tidak kuat dan kurangnya penerapan protokol kesehatan dari masyarakat yaitu 5M maka jenis pengetatan seperti ini akan terus menguras resources kita,” kata dia.