Lokadata.ID

Kediri dan Bandung: Dua kota beda potensi

Kerajinan tenun ikat, salah satu usaha kecil yang menghidupkan Kota Kediri, Jawa Timur.
Kerajinan tenun ikat, salah satu usaha kecil yang menghidupkan Kota Kediri, Jawa Timur. Naim Ali / Lokadata.id

Kediri di Jawa Timur dan Bandung di Jawa Barat merupakan dua kota dengan dua potensi ekonomi yang berbeda kutub. Apa perbedaan mendasar dua kota ini?

Bagi banyak orang, Bandung adalah paket lengkap melepas kepenatan. Alamnya asri, udaranya resik, dan sejuk. Bagi yang suka makan dan belanja, tersedia beragam kuliner dan pusat perbelanjaan sandang yang terhampar hampir di setiap sudut kota berpenduduk 2,5 juta orang ini.

Tak heran sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang terkait dengan pariwisata Kota Bandung terus berdenyut, bergairah. Sepanjang sembilan tahun terakhir, yaitu periode 2011-2019, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor tersebut rata-rata tumbuh 8,84 persen setiap tahun.

Penyediaan akomodasi dan makan minum bukan satu-satunya sektor prioritas di Bandung, karena berada di urutan sembilan sebagai sektor penyumbang ekonomi wilayah terbesar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, sektor usaha lain yang mengalami pertumbuhan tertinggi di wilayah tersebut, di antaranya informasi dan komunikasi, kesehatan, pendidikan dan jasa perusahaan.

Namun jika dilihat dari perekonomian Jawa Barat, pangsa pasar sektor-sektor yang bergairah di Kota Bandung sudah terlalu tinggi alias berada di atas rata-rata kota atau kabupaten di Jawa Barat.

Fashion show yang digelar di jalanan Kota Bandung
Fashion show yang digelar di jalanan Kota Bandung Weda / EPA - EPE

Dengan demikian, ruang produksi di Bandung cukup sesak jika dikembangkan. Dari hasil studi Booming Cities 2020, Bandung masih potensial sebatas sebagai pasar hasil produksi dari wilayah lain.

Jika penopang utama sudah jenuh

Hal ini berbeda dengan Kota Kediri, di Jawa Timur. Hasil studi Booming Cities 2020 mengungkapkan bahwa kota berpenduduk sekitar 289.000 ini masih berpeluang besar menjadi kota produksi barang. Berbanding terbalik dengan Kota Bandung.

Hasil produksi dari kota ini masih terbuka untuk wilayah Provinsi Jawa Timur, yang terdiri dari 38 kabupaten/kota. Jika dihitung rata-rata, maka pangsa pasar masing-masing wilayah itu sekitar 2,6 persen. Padahal, sejumlah sektor basis yang tumbuh di atas rata-rata di Kota Kediri, pangsa pasarnya masih di bawahnya.

Penopang utama wilayah ini adalah sektor usaha pengolahan. Namun, sektor yang banyak digarap oleh usaha mikro, kecil dan menengah ini agaknya sudah terlalu jenuh. Rata-rata pertumbuhan tahunannya sudah di bawah PDRB wilayah.

Jika sektor utama sudah jenuh, kita perlu melirik sektor penopang yang lain. Bagi Kediri, sektor pendukung setelah industri pengolahan adalah transportasi dan pergudangan, jasa perusahaan dan jasa pendidikan. Ketiganya merupakan tiga sektor usaha paling potensial dikembangkan.

Yang menarik, indeks keuangan Kediri menunjukkan, pertumbuhan tabungan par kapita di perbankan masih lebih tinggi dari penyaluran kredit per kapita. Selama tiga tahun terakhir, tabungan per kapita tumbuh 8,8 persen per tahun, sedangkan kredit per kapita hanya tumbuh 7,3 persen per tahun.

Bandung dan Kediri merupakan jenis dua kota berbeda kutub: lapak jual barang dan lapak untuk produksi.

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan bagian dari Lokadata Special Report soal Booming Cities 2020, yang terdiri dari:
1.Booming Cities 2020: 10 wilayah paling berkembang di Indonesia
2.Antara Badung dan Kediri, masih berpusat di Jawa - Bali
3.Sektor usaha yang menghidupkan kota-kota
4.Tangerang Selatan perlu gudang, Kediri jasa pendidikan
5.Badung jenuh, Bangli butuh listrik, Lamandau perumahan
6.Kediri dan Bandung: Dua kota beda potensi