Lokadata.ID

Kelas menengah-atas pun ada yang tak punya rumah

KRT kelas menengah yang tidak punya rumah
KRT kelas menengah yang tidak punya rumah Lokadata / Lokadata

Peraturan Pemerintah soal Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) yang ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 20 Mei 2020, menyasar masyarakat berpendapatan rendah.

Masyarakat yang berhak mendapatkan pembiayaan Tapera, Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Kriterianya berpenghasilan maksimal Rp8 juta per bulan. Namun, kriteria MBR masih mengundang sejumlah pertanyaan.

Dalam penelusuran sebelumnya (baca: "Mereka yang bisa terbantu Program Tapera"), telah diungkapkan bagaimana aturan dan kriteria tentang MBR ini muncul. Termasuk kritik atasnya. Kriteria berpenghasilan di bawah Rp8 juta, masih jadi soalan.

Lokadata.id pun menelusuri data Kepala Rumah Tangga (KRT) dengan pengeluaran lebih dari atau sama dengan Rp8 juta per bulan. Merujuk klasifikasi kelas menurut pengeluaran dari Asian Development Bank, individu (KRT) dengan kriteria tersebut, tergolong kelas menengah-atas.

Hasil olah data menunjukkan, ada 23 ribu KRT dengan pengeluaran di atas dan besarnya mencapai Rp8 juta, serta tidak memiliki hunian sendiri. Terbanyak di pulau Jawa dengan 12.400 KRT.

Dari jumlah tersebut, 60 persen status huniannya adalah rumah kontrak, 38 persen rumah bebas sewa dan sisanya adalah rumah dinas.

Polanya hampir sama dari Indonesia Barat hingga Timur, porsi generasi milenial mendominasi. Kecuali Nusa Tenggara, kriteria ini 100 persen dihuni generasi X, dan Maluku yang didominasi generasi baby boomer (60 persen).

Jumlahnya memang tak mencapai jutaan, seperti data KRT dengan pengeluaran di bawah Rp8 juta. Bagaimana nasib KRT milenial kelas menengah-atas namun belum memiliki rumah ini?.

Apakah golongan ini juga layak menerima manfaat Tapera? Atau tak perlu dibantu karena angka pengeluarannya sudah bisa dianggap "mampu" membeli rumah sendiri tanpa fasilitas dari negara?

Perencana keuangan Prita Hapsari Gozhie, mengemukakan beberapa faktor yang menyebabkan sulitnya generasi kelahiran 1981-1996 ini memiliki rumah. Faktor "ekonomi lemah" bukan satu-satunya atau yang utama.

Harga rumah yang cepat melambung, sementara kebutuhan juga semakin tinggi, memang membuat generasi milenial kesulitan menjangkau hunian dalam dalam 10-20 tahun mendatang.

Kemudian, tuntutan kehidupan yang mengarah kepada konsumerisme. Kebutuhan untuk menunjukkan eksistensi menjadi pilihan gaya hidup yang menggerus gaji.

“Jadi, prioritas alokasi gaji lebih ditujukan kepada pembelian yang bersifat pengalaman dibandingkan pembelian aset tetap,” ujar Founder ZAP Finance ini seperti dilansir situs resmi Bank Permata.

Terakhir, generasi milenial hidup di jaman naiknya konsep sharing economy. Sejak tahun 2011, majalah Time mengurutkan “fenomena berbagi” sebagai salah satu ide yang mengubah cara hidup manusia.

Kemudahan ini membuat generasi milenial mengubah pola pikir dan mulai meninggalkan konsep pembelian rumah tinggal.

Kepemilikan rumah maupun sewa/kontrak memang punya plus-minus. The Economist dalam laporannya menyatakan, kepemilikan rumah tidak selalu lebih baik dibandingkan dengan menyewa. Pasalnya, memiliki rumah berarti mengeluarkan biaya perawatan dan pemeliharaan.

Contohnya di Amerika Serikat. Belanja pemeliharaan setiap tahun sekitar AS $200 miliar, atau sekitar 1 persen dari total nilai rumah warga.

Provinsi dengan KRT kelas menengah yang tidak punya rumah
Provinsi dengan KRT kelas menengah yang tidak punya rumah Lokadata / Lokadata

Fenomena nebeng di rumah orang

Melihat lebih dalam, wilayah dengan jumlah KRT terbanyak dengan pengeluaran lebih dari atau sama dengan Rp8 juta namun tak punya rumah sendiri, terdapat di DKI Jakarta. Jumlahnya mencapai 6.300 KRT.

Berdasarkan generasi, profil KRT di Ibu Kota ini didominasi generasi milenial dengan persentase 81 persen. Disusul kemudian generasi baby boomer 14 persen, dan sisanya adalah generasi X.

Uniknya, di DKI Jakarta banyak KRT yang berstatus tinggal di "rumah bebas sewa". Porsinya mencapai 54 persen, atau sekitar 3.400 KRT. Status ini kurang lebih seperti nebeng di rumah milik orang lain; entah milik keluarga atau orang lain.

Menurut peneliti kependudukan LIPI, Temi Indriati Miranda, KRT di DKI Jakarta banyak yang memilih tinggal bersama orang tua, tersebab berbagai hal. Misalnya, memiliki anak yang masih kecil sehingga butuh orang tua untuk menjaga anak mereka.

Selain itu, perihal akses dan jarak yang ditempuh dari dan menuju tempat kerja. Kebanyakan dari mereka mengeluhkan jarak yang terlalu jauh apabila membeli rumah di luar Jakarta, lalu dinilai kurang efisien.

"Orang tua mereka (banyak) bertempat tinggal di Jakarta. Ya mereka lebih memilih tinggal bersama orang tua,” kata Temi yang merupakan kandidat Doktor University Queensland itu, Rabu (22/7/2020), kepada Lokadata.id.

Harga selangit juga jadi pertimbangan. Ambil contoh pekerja di Kuningan Jakarta Selatan yang ingin membeli rumah di kawasan Cilandak. Merujuk harga properti di Rumah.com luas tanah 70 meter persegi, dibanderol dengan harga Rp1,65 miliar.

Bandingkan dengan rumah di kawasan Bojonggede dengan luas tanah 78 meter persegi, harganya "hanya" Rp600 juta rupiah. Selisihnya bisa lebih dari 2 kali lipat. Namun, dari sisi jarak, tinggal di wilayah Jawa Barat tersebut tak lagi menarik.

Solusi bagi warga Jakarta, sebenarnya tak terbatas pada program seperti Tapera. Pemerintah DKI Jakarta menawarkan hunian vertikal atau rumah susun (rusun) dengan model pembiayaan program DP 0 Rupiah.

Namun, nampaknya program rumah vertikal ini pun menurut Temi tidak terlalu banyak diminati oleh generasi milenial. Sebab, berdasarkan penelitiannya, responden beralasan rumah vertikal terlalu kecil dan tidak terbiasa secara budaya.

Dalam kesempatan lain, Prita pun menekankan bahwa membeli rumah tinggal adalah keputusan yang sangat pribadi. Bergantung dari banyak faktor yang unik untuk setiap individu. Demikian kutipan dari akun Instagramnya.

“Tetapi, jika boleh berpesan, jika mampu beli rumah sebaiknya dijadikan tujuan keuangan utama dalam rencana keuangan. Mau ngontrak dulu, boleh. Mau nyicil KPR, silakan. Mau beli cash juga boleh banget,” pungkasnya.