Lokadata.ID

Kenaikan harga obat picu inflasi tertinggi di Juli 2021

Pekerja menunjukkan paket obat COVID-19 di salah satu gerai ekspedisi SiCepat pengiriman barang gerai di Jalan K.S Tubun, Petamburan, Jakarta, Sabtu (17/7/2021).
Pekerja menunjukkan paket obat COVID-19 di salah satu gerai ekspedisi SiCepat pengiriman barang gerai di Jalan K.S Tubun, Petamburan, Jakarta, Sabtu (17/7/2021). Reno Esnir / ANTARA FOTO

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut kelompok pengeluaran kesehatan mencatatkan inflasi (bulanan) tertinggi pada Juli 2021 dengan 0,24 persen. Namun, jika dilihat dari tahun berjalan, inflasi kelompok kesehatan ini mencapai 0,99 persen. Bahkan, jika dilihat secara tahunan, inflasi kelompok ini sudah 1,87 persen.

Inflasi kelompok kesehatan ini juga lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan pada Juli yang mencapai 1,52 persen secara tahunan. Tingkat inflasi tahunan lebih tinggi dibandingkan Juni sebesar 1,33 persen. Namun, jika dilihat secara tahunan, inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau tetap yang paling tinggi.

Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan, harga obat-obatan dan produk kesehatan dalam kelompok pengeluaran kesehatan naik 1,34 persen pada Januari-Juli 2021. Berdasarkan catatannya, kenaikan harga terjadi pada obat batuk, obat flu, obat penurun demam, obat gosok, dan vitamin.

Jika dibedah, dari empat subkelompok di kelompok pengeluaran kesehatan, subkelompok dengan inflasi tertinggi terjadi pada subkelompok obat-obatan, dan produk kesehatan sebesar 0,47 persen, sedangkan inflasi terendah pada subkelompok jasa rawat jalan sebesar 0,06 persen.

Head of Equity Research Ekuator Swarna Sekuritas David Sutyanto mengatakan, inflasi tertinggi yang disumbangkan oleh kelompok pengeluaran di sektor kesehatan menunjukkan, konsumsi masyarakat di sektor kesehatan meningkat, karena angka inflasi di sektor kesehatan cukup tinggi dalam 11 kelompok pengeluaran yang didata BPS.

“Selain itu, sesuai hukum ekonomi, ketika ada peningkatan permintaan, maka harga akan naik. Itulah yang kemudian tecermin dalam kenaikan yang signifikan pada Juli,” kata David kepada Lokadata.id, Rabu (4/8/2021).

David menambahkan, dari data inflasi Juli 2021 yang disampaikan oleh BPS menunjukkan pengeluaran di sektor kesehatan sudah berkontribusi terhadap inflasi nasional sebesar 0,01 persen. Dari penelusuran Lokadata.id, selama Februari-Juni 2021 andil kelompok pengeluaran kesehatan terhadap inflasi nasional sangat kecil.

“Tetapi jika dilihat di Januari 2021, di mana kasus Covid-19 sedang tinggi, sektor kesehatan memiliki andil 0,01 persen terhadap inflasi nasional. Artinya kalau sudah mulai berandil terhadap inflasi, budget masyarakat akan kesehatan meningkat. Karena kalau mau sehat (budget) habis untuk suplemen, beli masker,” katanya.


Permintaan obat meningkat di Juli

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers, Senin (2/8) menyatakan lonjakan kasus Covid-19 di Juni dan Juli 2021 mengakibatkan kenaikan permintaan obat. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, permintaan obat Covid-19 naik 2-4 kali lipat di akhir Juni. Angka tersebut menanjak hingga 12 kali lipat pada 15 Juli.

Namun, kecepatan produksi perusahaan farmasi nasional belum mampu mengimbangi meningkatnya kebutuhan obat terapi Covid-19. “Karena butuh 4-6 minggu untuk mengimpor bahan baku, mengolah bahan baku menjadi obat, kemudian distribusi obat ke apotek dan fasilitas kesehatan," kata Budi.

Hal itulah, kata mantan Direktur Utama Bank Mandiri, yang mengakibatkan saat gelombang pandemi masuk dengan cepat, Indonesia tidak bisa langsung siap menyediakan obat-obatannya. "Kita mencoba mengimpor (produk jadi), tapi upaya ini juga butuh waktu.”

Sekarang, kata mantan Wakil Menteri BUMN ini, pemerintah akan berusaha menggenjot kapasitas produksi dalam negeri dan memastikan ketersediaan obat Covid-19 merata di setiap daerah. Selain itu, Kementerian Kesehatan juga sudah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) untuk 11 jenis obat terapi Covid-19.

Patokan harga obat Covid-19 ini berlaku untuk apotek, instalasi farmasi, klinik, rumah sakit, dan fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia. Melalui surat keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/4826/2021 yang ditandatangani pada 2 Juli lalu ini, pemerintah berharap tidak ada yang memanfaatkan situasi krisis obat-obatan.

Selama Juni-Juli, obat-obatan Covid-19 tiba-tiba langka dan hilang dari pasar. Kalau pun ada, harganya selangit. Kepolisian sudah berkali-kali melakukan operasi menangkap para penimbun. Kepolisian Daerah Jawa Barat, misalnya, pada Juli lalu menangkap 5 orang penimbun dan penjual obat Covid-19 di atas harga patokan.

Misalnya, Avigan 200 mg yang memiliki kandungan aktif Favipiravir yang biasanya dijual dengan harga Rp2,6 juta per 100 tablet, oleh para penimbun ini dijual sampai Rp10 juta. Beberapa obat yang ditemukan antara lain Avigan 200 mg, Favikal 200 mg dan Oseltamivir 75 mg. Para penimbun ini juga memiliki jaringan antardaerah.