Lokadata.ID

Kerajinan kulit tumbuh lebih subur di kota dagang ketimbang kota wisata

UMK berbahan kulit.
UMK berbahan kulit. Lokadata / Lokadata

Tiap zaman punya penandanya masing-masing. Begitu juga dalam industri kerajinan. Ada yang makin tenggelam dan ditinggalkan seiring dengan kemajuan teknologi, tapi ada pula yang justru semakin dicari sejalan dengan tumbuhnya kemakmuran.

Tembikar, misalnya. Kerajinan yang diolah dari bahan yang rentan, mudah pecah, itu belakangan ini semakin pudar setelah ditemukan material lain (alumunium, bijih plastik), dan cara pengolahan (keramik, melamine) yang lebih kuat dan tahan lama.

Begitu juga kerajinan anyaman. Kerajinan yang mengandalkan bahan-bahan serat alami seperti kulit kayu dan tanaman terna itu, kini makin terdesak oleh anyaman dari serat plastik atau poliester yang lebih awet dan bisa diproduksi secara masal.

Namun kerajinan kulit (hewan), justru sebaliknya. Ketika masyarakat semakin maju dan sejahtera, kebutuhan atas barang-barang dari kulit, malah semakin meningkat. Data CIC menunjukkan, ekspor bulanan produk kulit Indonesia meningkat lima kali lipat dari AS $12.945 pada Desember 2015, menjadi AS $68.249 (April 2019).

Berbeda dengan tembikar atau anyaman serat alam, bahan baku kerajinan kulit tak mudah diperoleh sembarangan. Kulit mentah mesti diolah dengan perlakuan khusus, sehingga bahan bakunya menjadi lebih mahal, dan mewah. Tak heran jika pasar kerajinan kulit berbeda dengan pasar kerajinan tembikar yang lebih masal.

Barangkali itu sebabnya, kerajinan kulit terutama tumbuh pesat di kota-kota yang dekat dengan pusat perdagangan atau wisata.

Data Potensi Desa Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sepanjang 2014 - 2018, jumlah usaha mikro kecil yang bergiat dalam kerajinan kulit tumbuh subur di Mojokerto (melonjak 1.147 persen atau sebelas kali lipat), Denpasar (287 persen), Sleman (98 persen), dan Surabaya (96 persen).

"Kalau bicara produk kulit, pasarnya mungkin orang kota,” kata Yani Mulyaningsih, peneliti pada Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, kepada Lokadata.id, Kamis (15/10/2020).

Pengolahan data Podes menunjukkan, dari wilayah yang padat dengan perajin kulit, muncul dua klaster utama. Klaster pertama adalah Surabaya dan sekitarnya (Sidoarjo dan Mojokerto), serta klaster Yogyakarta (bersama Bantul dan Sleman).

Klaster Surabaya mungkin bisa disebut sebagai klaster perdagangan, karena kota ini tumbuh dengan sumbangan terbesar dari sektor perdagangan, sedangkan Yogya sebagai klaster wisata.

Jika dibandingkan, pertumbuhan usaha kecil mikro sektor kulit di "klaster pedagangan" tumbuh jauh lebih cepat ketimbang "klaster wisata". Data Podes mencatat, klaster kerajinan kulit di Surabaya dan sekitarnya tumbuh 63 persen, dari 1.274 perajin kecil di tahun 2014, menjadi 2.070 perajin di tahun 2018.

Sebaliknya, klaster wisata Yogyakarta (bersama Sleman dan Bantul), malah menyusut 40 persen, dari 1.560 unit usaha pada 2014 menjadi hanya 933 usaha pada 2018.

Boleh jadi, ini menunjukkan bahwa bahan baku kulit akan lebih punya prospek jika diolah menjadi barang-barang yang fungsional (tas, sepatu, dompet), ketimbang sebagai bahan cendera mata. Pasar barang-barang kulit yang fungsional (sepatu, tas), agaknya jauh lebih luas, dan besar, dibandingkan dengan pasar barang aksesoris dan kenang-kenangan di daerah wisata.

Namun, ada satu faktor lain yang barangkali lebih menentukan: kelengkapan prasarana Surabaya sebagai hub (simpul penghubung) perdagangan, baik ke Indonesia Timur maupun ke pasar ekspor. Ini yang tidak dimiliki oleh Yogyakarta.