Lokadata.ID

Kiat mengatur keuangan di tengah pandemi korona

Ilustrasi perhitungan keuangan saat di rumah saja.
Ilustrasi perhitungan keuangan saat di rumah saja. Tirachardz / Antara Foto

Merebaknya penyebaran virus korona (Covid-19) membuat banyak perusahaan menerapkan kebijakan WFH (work from home/bekerja dari rumah).

Bagi karyawan yang memiliki gaji tetap, WFH memberikan suka duka sendiri. Mulai dari kebosanan, hingga borosnya pengeluaran untuk berbagai hal.

Salah satunya adalah Ega Rahma (24), karyawan bagian administrasi di salah satu perusahaan penerbit dan peritel ini mengaku pengeluarannya untuk konsumsi jauh lebih besar saat tak bisa keluar rumah.

"Boros banget, karena bosan, jadi dikit-dikit jajan, pesan GoFood, dikit-dikit belanja online," jelasnya kepada Lokadata.id, Selasa (14/4/2020).

Namun, di sisi lain WFH juga membawa keuntungan dalam bentuk penghematan biaya transportasi dan waktu, yang biasanya dihabiskan di kemacetan perjalanan ke kantor.

Dimas Ardhinugraha, Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) memberikan beberapa kiat agar kelebihan waktu dan dana transportasi dapat dikelola dengan baik, agar tidak karena iseng, Anda menghabiskan waktu dan uang untuk belanja online, misalnya - membeli barang-barang yang bukan kebutuhan utama.

Pertama, Anda bisa menyalurkan dana lebih dengan membantu orang lain yang membutuhkan.

Pandemi Covid-19 yang terjadi di berbagai belahan dunia ini telah merenggut nyawa dan telah menghilangkan mata pencaharian serta penghasilan sebagian masyarakat. Bagi Anda yang saat ini masih menerima penghasilan utuh, Anda bisa membantu saudara kita (tetangga/teman/kerabat/orang lain) yang kehilangan pekerjaan/penghasilan, maupun untuk tenaga medis yang berhadapan langsung dengan penanganan Covid-19.

Kedua, Anda bisa menyiapkan dana darurat. Tidak ada yang tahu pasti kapan pandemi akan berakhir. Bagi karyawan yang saat ini masih memiliki pekerjaan dan menerima gaji secara utuh, manfaatkan rezeki ini dengan sebaik-baiknya.

"Saya sarankan untuk memprioritaskan dan sesegera mungkin mengisi penuh pos dana darurat," tegas Dimas.

Dalam kondisi normal, umumnya dana darurat disiapkan untuk menutupi biaya hidup atau pengeluaran selama 3 hingga 6 bulan.

Namun, saat ini Dimas menyarankan agar Anda menyiapkan dana darurat untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama keluarga selama 6 bulan hingga 1 tahun.

Seperti dilansir Forbes, dengan membuat anggaran ini, Anda dapat menghilangkan setiap pengeluaran yang tidak penting dan mencatat dengan tepat berapa banyak yang Anda perlukan untuk makanan pokok, makanan, tempat tinggal dan transportasi.

Mengetahui berapa banyak yang Anda butuhkan untuk bertahan hidup akan membantu mencegah Anda dari panik karena Anda tahu persis apa yang harus dipotong dan berapa lama tabungan Anda akan bertahan.

"Saya tahu ini terdengar sangat besar dan berat. Apalagi harus disiapkan dalam waktu singkat. Tapi perlu diingat, ini bukan kondisi normal. Jika Anda memiliki dana darurat yang cukup, Anda bisa lebih tenang dalam menghadapi segala ketidakpastian yang mungkin terjadi di depan," ucapnya.

Manfaatkan sumber daya untuk siapkan dana darurat

Untuk menyiapkan dana darurat, Anda bisa memanfaatkan beberapa sumber daya. Pertama, maksimalkan dari penghasilan bulanan. Tingkatkan persentase atau porsi dari pendapatan Anda untuk mengisi dana darurat. Misalnya, jika sebelumnya Anda menyisihkan 5-10 persen, kali ini sisihkan 30-40 persen dari penghasilan untuk mengisi pos dana darurat.

Angka ini bisa disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing. Untuk menambah porsi pos dana darurat, Anda bisa mengambil dari pos transportasi, pos gaya hidup (makan di luar, nonton bioskop, liburan, kumpul bareng teman), dan lain-lain.

Bisa juga dengan memanfaatkan tunjangan hari raya (THR). Kalau Anda mendapatkan THR, alokasikan mayoritas dana THR untuk mengisi pos dana darurat. Jangan mudik dulu.

Dana untuk mudik, beli baju baru atau kue-kue lebaran bisa Anda gunakan untuk memaksimalkan isi pos dana darurat. Rayakan Lebaran secara sederhana.

Anda juga bisa memanfaatkan reksa dana pasar uang untuk menyimpan dana darurat. Simpan dana darurat di tempat yang aman, mudah dicairkan atau likuid, dan tumbuh atau memberikan potensi imbal hasil.

"Saya sarankan untuk menyimpan dana darurat di reksa dana pasar uang. Beberapa kelebihan reksa dana pasar uang diantaranya adalah sangat terjangkau (cukup dengan minimal Rp 10 ribu), likuid (dana yang dicairkan akan masuk ke rekening tabungan nasabah dalam waktu yang telah ditetapkan dalam prospektus), tidak ada biaya masuk dan keluar, bukan objek pajak, dan memiliki potensi imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan tabungan atau deposito," jelas Dimas lagi.

Set otomatis kegiatan perbankan

Sementara itu, sosok di balik blog Bargaineering.com, sekaligus kontributor bidang keuangan untuk Forbes Jim Wang, mengatakan bahwa Anda sebaiknya menyetel otomatis kegiatan perbankan Anda.

Mengotomatiskan kegiatan perbankan bulanan Anda adalah langkah yang baik, bahkan dalam keadaan normal. Ini adalah cara mudah untuk menyederhanakan hidup Anda. Mengurangi paparan publik untuk meminimalkan risiko sakit.

Anda juga dapat melakukan semua perbankan bulanan Anda dari rumah. Mendaftar dalam pembayaran otomatis mencegah kemungkinan tanggal tagihan yang hilang dan membayar biaya keterlambatan. Beberapa pedagang dan utilitas bahkan memberi Anda diskon pembayaran yang dapat menghemat uang dan waktu Anda.