Lokadata.ID

Kinerja BUMN tambang: Pendapatan turun, laba bervariasi

Foto udara pabrik pengolahan nikel milik PT Aneka Tambang Tbk di Kecamatan Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara, Senin (24/8/2020).
Foto udara pabrik pengolahan nikel milik PT Aneka Tambang Tbk di Kecamatan Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara, Senin (24/8/2020). Jojon / ANTARA FOTO

Efisiensi dan harga komoditas menjadi penentu kinerja BUMN pertambangan. Secara keseluruhan, penjualan tiga perusahaan tambang pelat merah, yakni PT Bukit Asam Tbk, PT Aneka Tambang Tbk, dan PT Timah Tbk, turun. Tiga BUMN ini juga mencatat bottom line yang berbeda-beda.

Antam misalnya, membukukan pendapatan pada 2020 sebesar Rp27,3 triliun, turun 16,34 persen dibandingkan tahun sebelumnya (year-on-year). Dari jumlah tersebut, penjualan emas memberikan kontribusi terhadap 71 persen total pendapatan, diikuti logam mulia lainnya 62,4 persen.

Pada 2020, penjualan logam mulia Antam mencapai Rp19,67 triliun, turun 13,67persen dari Rp22,79 triliun pada tahun sebelumnya. Antam membatasi ekspor karena margin penjualan emas di pasar dalam negeri memang lebih tinggi dibandingkan pasar ekspor. Selai itu, pasar ekspor emas juga melemah akibat pandemi.

Dengan kebijakan seperti itu, penjualan logam mulia dan pemurnian emas domestik pada 2020 mencapai Rp17,79 triliun, naik 66,87 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp10,66 triliun. Sebaliknya, penjualan ekspor anjlok 84,81 persen, dari Rp12,08 triliun menjadi hanya Rp1,84 triliun.

Meski penjualannya turun, ANTM mencetak laba komprehensif tahun berjalan menjadi Rp973,87 miliar, setelah sebelumnya rugi pada 2019 sebesar Rp8,8 miliar. Kenaikan ini tak lepas dari upaya efisiensi yang dilakukan manajemen Antam dengan mengetatkan berbagai biaya.

Beban penjualan dan pemasaran terlihat turun signifikan 63,09 persen, diikuti beban umum dan administrasi turun 6,68 persen dan beban pokok penjualan 19,01 persen. Dengan efisiensi tersebut, Antam berhasil meningkatkan margin laba usaha dari 2,92 persen pada 2019 menjadi 7,42 persen pada 2020.

Selain itu, penurunan volume penjualan dikompensasi dengan kenaikan harga emas sepanjang 2020. Secara rata-rata, harga emas Antam pada 2020 sebesar AS$1.771,2 per troy ounces, jauh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya AS$1.392,6 (lihat grafik).

Pada periode yang sama, BUMN Timah juga mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 21,33 persen menjadi Rp15,2 triliun. Penurunan ini disebabkan terutama pendapatan dari segmen pertambangan timah yang jatuh 21,05 persen menjadi Rp13,9 triliun.

Penurunan pendapatan ini akibat penjualan timah dan harga timah sama-sama turun. Penjualan timah pada 2020 turun 18 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 55.782 ton. Harga rata-rata timah perusahaan sepanjang 2020 turun tipis sebesar tujuh persen menjadi AS$17.215 per metrik ton.

Kendati pendapatan perusahaan ini menurun, emiten tambang ini berhasil memangkas kerugiannya menjadi Rp382,55 miliar. “Harga logam timah dunia yang berangsur pulih, ditambah efektivitas pengelolaan finansial menjadi faktor pendukung menciutnya kerugian,” kata Direktur Utama Timah M. Riza Pahlevi dalam laporan manejemen seperti dikutip.

Seperti ANTM, penurunan kerugian perusahaan dengan kode emiten TINS ini karena efisiensi sejumlah beban keuangan. Beban penjualan tercatat turun paling dalam sebesar 55,2 persen menjadi Rp69,4 miliar, diikuti beban pokok pendapatan 22,5 persen, dan beban umum dan administrasi 21,9 persen.

Sementara itu, Bukit Asam juga mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 20,4 persen menjadi Rp17,3 triliun. BUMN yang pendapatan utamanya dari batubara ini anjlok 20,19 persen menjadi Rp17,07 triliun dari tahun sebelumnya Rp21,3 triliun.

Akibat kondisi tersebut, perseroan dengan kode emiten PTBA ini labanya terpangkas sekitar 41 persen menjadi Rp2,2 triliun. Menurut Sekretaris Perusahaan Bukit Asam, Apollonius Andwie, kinerja perusahaanya cukup terdampak pandemi lantaran konsumsi energi di sejumlah negara utama seperti Cina dan India turun, termasuk juga turunnya konsumsi listrik dalam negeri.

Harga batu bara dunia juga cenderung berfluktuatif dengan cekungan yang sangat dalam selama periode Januari-September 2020. Harga acuan batu bara Kementerian Energi dan SDM per Desember 2020 sebesar AS$59,65 per ton, turun 10 persen dari harga Desember 2019 sebesar AS$66,3.

Pengamat pasar modal sekaligus Direktur PT Anugerah Mega Investama, Hans Kwee mengatakan, secara umum kinerja sejumlah BUMN tambang ini cukup terdampak pandemi virus korona. Pemberlakuan penutupan wilayah di pelbagai negara membatasi arus perdagangan komoditas global. Akibatnya, permintaan barang tambang pun turun.

Menurut Hans, kondisi itu tercermin dari penurunan harga sejumlah komoditas. Batubara, misalnya, per Maret 2020 turun 25,9 persen menjadi AS$67,08 per ton. Namun, kata dia, perekonomian global saat ini terlihat sudah membaik setelah program pengendalian pandemi dan vaksinasi. "Harga komoditas tambang diperkirakan naik."

Faktor lain, kata Hans, sejumlah negara telah menyiapkan stimulus fiskal untuk memenuhi pelbagai kebutuhan belanja seperti infrastruktur. Dia mencontohkan, Amerika Serikat yang menyiapkan stimulus AS$2,2 triliun. Permintaan komoditas dari negara besar lain seperti Cina juga akan naik lantaran ekonominya sudah bangkit.

Selain katalis positif dari ekonomi global, menurut Hans, di dalam negeri harga komoditas juga akan didorong oleh upaya pemerintah membentuk holding baterai. “Sehingga ke depan kemungkinan emiten-emiten komoditas ini akan menikmati keuntungan,” kata Hans kepada Lokadata.id, Kamis (8/5/2021).