Lokadata.ID

Kinerja emiten media lesu, pendapatan iklan televisi jeblok

Ilustrasi anak-anak tengah menonton televisi sambil belajar daring.
Ilustrasi anak-anak tengah menonton televisi sambil belajar daring. Asep Fathulrahman / ANTARA FOTO

Dua stasiun televisi, RCTI dan iNews TV tengah dapat sorotan. Pasalnya, keduanya melayangkan gugatan terkait uji materi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran.

Kedua stasiun televisi ini meminta agar penyedia layanan siaran melalui internet turut diatur. Mereka meminta supaya ada perluasan definisi penyiaran yang akan mengklasifikasikan siaran langsung melalui platform media sosial menjadi layanan yang wajib berizin.

Ahasil, bila permohonan pengujian UU dikabulkan, masyarakat tidak lagi bebas memanfaatkan siaran langsung dalam platform media sosial. Sebab, siaran hanya boleh dilakukan oleh lembaga penyiaran yang berizin.

Direktur Eksekutif lembaga pemantau media dan televisi Remotivi, Yovantra Arief berpendapat UU Penyiaran sejak awal dikhususkan untuk mengatur industri yang spesifik, sehingga kurang tepat jika UU tersebut juga harus mengatur domain layanan Over The Top yang melalui internet.

Yovantra menilai gugatan tersebut merupakan persaingan usaha belaka, yaitu kontestasi antara industri penyiaran yang sudah lebih dulu mapan dengan industri internet yang baru tumbuh belakangan ini. Lantas, bagaimana kinerja laporan keuangan stasiun televisi yang go public?

Pendapatan iklan turun

Jika melihat laporan keuangan pada paruh pertama 2020, kinerja emiten media kurang menggembirakan. Tiga perusahaan media berkode emiten MNCN, SMCA, maupun EMTK kompak mencatat penurunan pendapatan yang disebabkan turunnya pendapatan dari iklan.

Padahal, iklan merupakan sumber pendapatan bagi televisi untuk membuat nafas stasiun televisinya semakin panjang.

Misalnya, kinerja semester I/2020, PT Media Nusantara Citra Tbk. yang terdiri dari RCTI, MNCTV, GTV, dan iNews memperoleh pendapatan usaha Rp3,96 triliun pada semester I/2020 atau menyusut 6,82 persen dari pendapatan Rp4,25 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Jika ditelisik pendapatan dari total iklan perusahaan berkode emiten MNCN itu menyumbang Rp3,61 triliun atau berkurang 10,42 persen dari pendapatan iklan periode yang sama tahun sebelumnya Rp4,03 triliun.

Pendapatan dari iklan digital masih mencetak kenaikan dari semula Rp325,21 miliar menjadi Rp409,08 miliar pada paruh pertama 2020. Sementara, iklan non digital anjlok dari Rp3,71 triliun menjadi Rp3,21 triliun pada semester I/2020.

Selanjutnya, pendapatan dari konten berkontribusi sebesar Rp807,92 miliar, nilai tersebut turun 11,49 persen dari pendapatan konten pada periode yang sama tahun lalu Rp912,89 miliar.

Kemudian pendapatan lainnya tercatat Rp59,39 miliar lebih besar dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp54,75 miliar. Sementara itu, nilai eliminasi menjadi Rp516,16 miliar 31,03 persen lebih rendah ketimbang paruh pertama 2019 yang senilai Rp748,42 miliar.

Emiten ini mencatat jumlah beban langsung sebesar Rp1,48 triliun lebih kecil jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,57 triliun.

Beban langsung terdiri dari beban program dan konten sebesar Rp1,38 triliun, lebih kecil dibandingkan perolehan pada periode sama tahun lalu sebesar Rp1,48 triliun. Sedangkan, beban penyusutan dan amortisasi yang meningkat menjadi Rp107,17 miliar, dari perolehan pada periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp91,4 miliar.

Beban keuangan juga naik dari semula Rp204,97 miliar menjadi Rp 244,54 miliar pada semester I/2020. Alhasil, MNCN mencetak laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp956,22 miliar atau turun sekitar 17,56 persen dari laba bersih Rp1,16 triliun pada semester I/2019.

Bagaimana kinerja perusahaan media lainnya? PT Surya Citra Media Tbk. yang memiliki dua stasiun televisi yaitu SCTV dan Indosiar juga mengalami penurunan kinerja. Perusahaan berkode emiten SCMA itu membukukan pendapatan sebesar Rp2,36 triliun pada semester I/2020, turun 14,49 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp2,76 triliun.

Pendapatan dari iklan tercatat menurun 12,5 persen menjadi Rp2,71 triliun dibandingkan pendapatan iklan pada semester I/2019 yang sebesar Rp3,10 triliun. Pendapatan lain-lain juga turun dari menjadi Rp175,87 miliar, dari Rp281,14 miliar di semester I/2019.

"Kalau kita melihat hasil daripada semester I/2020, kita di industri media secara umum mengalami penurunan daripada pendapatan iklan. Hal ini saya kira sangat wajar karena dalam kondisi Covid-19 ini cukup banyak bisnis yang mengalami penurunan di bidang usahanya," ujar Direktur Utama PT Surya Citra Media Tbk. Sutanto Hartono, dikutip dari liputan6.com.

Meskipun, perusahaan berkode emiten SCMA ini mampu mengurangi beban pokok penjualan dan pendapatan menjadi Rp988,03 miliar atau 22,07 persen lebih kecil dari beban sebesar Rp1,27 triliun pada semester I/2019. Kemudian beban umum dan administrasi juga tercatat turun 6,39 persen menjadi Rp565,01 miliar dari sebelumnya mencapai Rp604,48 miliar pada semester I/2019.

Sementara pada pos pendapatan keuangan juga menyusut dari sebelumnya Rp29,46 miliar menjadi Rp 15,46 miliar pada semester I/2020. Sehingga, SCMA mencatat laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp600,91 miliar atau turun 23,20 persen dari periode yang sama tahun lalu Rp782,48 miliar.

Sedangkan, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. yang juga pemilik saham mayoritas SCMA membukukan pendapatan Rp5,34 triliun sepanjang enam bulan pertama 2020. Pendapatan yang diraih perusahaan berkode emiten EMTK sepanjang semester I/2020 turun 1,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 5,40 triliun.

Sementara segmen bisnis solusi menjadi kontributor terbesar untuk pendapatan emiten bersandi EMTK ini yakni sebesar Rp 2,75 triliun atau 51 persen dari total pendapatan. Pendapatan dari segmen ini tumbuh 22,70 persen secara tahunan.

Di sisi lain, pendapatan dari segmen media turun. Pendapatan dari iklan yang diraup EMTK mencapai Rp2,18 triliun atau turun 18,87 persen

Perseroan berhasil mempertahankan pengeluaran untuk beban usaha yang hanya naik 0,46 persen, dari yang semula Rp3,94 triliun menjadi Rp3,92 triliun. Per semester I/2020 , EMTK mencatat rugi tahun berjalan sebesar Rp210 miliar sedangkan pada periode sama tahun lalu rugi perseroan mencapai Rp954 miliar.

Belanja iklan bergeser

Bergesernya belanja iklan sejalan dengan survei yang dilakukan Mobile Market Associatian (MMA) bersama Survey Sensum akhir Maret lalu.

Hasil survei menunjukkan 58 persen perusahaan mulai fokus meningkatkan anggaran iklan melalui marketplace. Hanya 19 persen perusahaan mengaku akan meningkatkan nilai iklannya di televisi.

Survei yang sama, juga menunjukkan 48 persen perusahaan berencana menaikkan anggaran iklan via media digital.

Bahkan, MMA dan Survey Sensum memproyeksikan nilai iklan di pasar digital pada 2020 akan menembus AS$2,14 miliar.

Sementara, lembaga survei global Nielsen Media Indonesia mencatat belanja iklan mulai membaik pada kuartal III/2020.

"Pada Juli tumbuh 17 persen menjadi Rp18,3 triliun dibandingkan bulan sebelumnya. Di kuartal II/2020 angkanya sangat tertekan. Dari Maret ke April turun `14 persen, Juli sudah membaik," ujar Direktur Eksekutif Nielsen Media Indonesia Hellen Katherina.

Total belanja iklan dari Januari hingga Juli 2020 berdasarkan data Nielsen sebesar Rp122 triliun. Jika dirinci, porsi paling besar adalah iklan televisi senilai Rp88,2 triliun, kemudian media digital sebesar Rp24,4 triliun, media cetak Rp9,6 triliun dan radio Rp604 miliar.