Lokadata.ID

Kisah WNI yang merasakan karantina wilayah ala Jerman

Poster iklan yang menggambarkan kesedihan selama pembatasan di Berlin, Jerman, Senin (20/4/2020).
Poster iklan yang menggambarkan kesedihan selama pembatasan di Berlin, Jerman, Senin (20/4/2020). Muhammad Zamroni / Muhammad Zamroni

“Saya sudah sebulan lebih bekerja dari rumah, dan untungnya tidak kesulitan untuk menyesuaikan diri,” kata Muhammad Zamroni kepada Lokadata.id, Selasa (21/4/2020).

Zamroni (36) merupakan satu dari sekitar 16.000 Warga Negara Indonesia (WNI), yang tengah menjalani karantina wilayah akibat pagebluk Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) bersama 82 juta penduduk Jerman.

Pria yang bekerja sebagai software engineer itu mengatakan, telah menjalani karantina jauh sebelum pemerintah Berlin mengumumkan aturan pembatasan pada 17 Maret 2020 lalu. Kantor tempatnya bekerja bergerak lebih cepat daripada pemerintah guna melindungi seluruh karyawannya.

“Alhamdulillah saya tidak merasa bosan, karena saya masih bisa keluar rumah setiap akhir pekan untuk sekadar keluar berjalan-jalan mencari udara segar atau berbelanja,” ujar Zamroni.

Keterbatasan diakuinya memang terasa. Terkadang untuk membeli makan, dirinya harus menggunakan jasa pesan antar (delivery). Di Berlin yang telah ditinggalinya selama 1,5 tahun terakhir, pemerintah setempat tetap menerapkan pembatasan pada sejumlah fasilitas umum dan ruang publik.

Meski demikian, menurut Zamroni, penerapan karantina di Berlin tidak seketat dibandingkan dengan negara bagian lain seperti Bavaria.

Merujuk data Robert Koch Institute pada Senin (20/4/2020) setempat, Bavaria memang merupakan episentrum utama kasus positif Covid-19 – dengan jumlah kasus mencapai 37.849 orang dan 1.285 orang di antaranya meninggal dunia.

Sementara di Berlin tercatat jumlah pengidap virus korona mencapai 5.196 orang, 94 orang di antaranya juga meninggal dunia. Adapun total kasus positif Covid-19 di Jerman mencapai 141.672 orang, 91.500 orang di antaranya pulih, dan 4.404 meninggal dunia.

Garis batas di Supermarket Rewe di Berlin, Jerman, Senin (20/4/2020).
Garis batas di Supermarket Rewe di Berlin, Jerman, Senin (20/4/2020). Muhammad Zamroni / Muhammad Zamroni

Menurut Zamroni, pemerintah Berlin memperbolehkan sejumlah toko untuk beroperasi, di antaranya: supermarket, apotek, restoran dengan layanan antar. Sisanya, seperti fasilitas umum yang tidak esensial yakni sarana olah raga (gym), gedung pertunjukan, gedung pertemuan, taman-taman kota dan taman bermain anak ditutup.

“Supermarket masih tetap buka, hanya saja jumlah pengunjung yang masuk ke dalam dibatasi. Kasir-kasir memasang kaca pelindung atau plastik untuk memberi batas dengan pembeli. Jerman mulai menyarankan penggunaan transaksi nontunai, untuk menghindari kontak dengen memegang uang,” katanya.

Warga masih bisa beraktivitas di luar rumah dengan menerapkan pembatasan jarak (physical distancing) minimal 1,5 meter. Warga masih bisa berolahraga ringan (jogging), berjalan-jalan dengan anjing, mengunjungi orang tua, atau berbelanja.

Tak semua warga patuh

Menurut Zamroni, tak sedikit warga Jerman yang melanggar aturan pembatasan di masa pandemi Covid-19. Dia menyebut, pada masa awal karantina masih ada sejumlah warga yang berkumpul di taman kota.

“Warga Berlin yang bandel juga ada. Bahkan waktu awal-awal penerapan pembatasan, warga masih ada yang berkumpul di taman untuk menikmati matahari di musim semi. Walikota Berlin waktu itu sempat mengancam akan melarang warga berkumpul di taman, dan ia membuktikannya,” ujarnya.

Kini, menurut Zamroni, pada beberapa minggu terakhir pemerintah Berlin telah melonggarkan aturan pembatasan lantaran kurva penyebaran Covid-19 sudah mulai melandai dan pandemi telah terkontrol. Ia menyebut, kesempatan tersebut digunakan warga untuk mengunjungi taman, menikmati matahari musim semi.

“Warga sepertinya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya dan istri juga sempat datang ke taman untuk duduk-duduk dan menikmati bunga sakura yang mekar di beberapa taman di Berlin pada akhir pekan. Polisi terlihat berpatroli di beberapa taman,” kata Zamroni.

Warga menikmati matahari di depan kolam Volkspark, Berlin, Jerman, Senin (20/4/2020.
Warga menikmati matahari di depan kolam Volkspark, Berlin, Jerman, Senin (20/4/2020. Muhammad Zamroni / Muhammad Zamroni

Seperti dilaporkan BBC, Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn pada pekan lalu sempat menyebutkan bahwa pandemi Covid-19 ‘telah terkontrol’, pasca penerapan karantina selama lebih dari satu bulan.

Menurut Spahn, sejak 12 April jumlah pasien yang pulih secara konsisten lebih tinggi daripada jumlah orang yang meninggal. Spahn menyebut, tingkat infeksi turun menjadi 0,7 – yang berarti setiap orang yang terinfeksi menularkan virus ke kurang dari satu orang.

Masih dilansir dari BBC, Jerman juga telah membuka kembali sejumlah toko seperti: toko-toko kecil, dealer mobil, dan toko sepeda. Akan tetapi, implementasi jaga jarak tetap berlaku.

Kendati demikian, menurut pengamatan Zamroni, pelonggaran tersebut justru digunakan oleh sebagian warga Jerman untuk mengadakan pesta, yang berujung dibubarkan oleh Kepolisian setempat.

“Dari Twitter Kepolisian Berlin saya membaca mereka akhirnya membubarkan pesta yang diadakan di beberapa tempat di Berlin dan menangkap beberapa orang. Kepolisian Berlin juga melaporkan banyak kasus pencurian minuman beralkohol yang menimpa toko-toko menimuan yang tutup selama masa pembatasan melalui Twitter,” ujarnya.

Sempat kewalahan tapi sigap bertindak

Jerman dinilai sebagai negara yang berhasil dalam menghadapi pandemi Covid-19. Alasannya, Jerman menjadi salah satu negara di Eropa yang memiliki angka kematian terendah akibat Covid-19.

Hingga Selasa (21/4/2020) negara di posisi kelima dengan kasus positif terbanyak di dunia itu, hanya mencatatkan 58 kematian per 1 juta penduduk. Dibandingkan dengan empat negara dalam daftar rilisan Worldometers: Amerika Serikat, Spanyol, Italia, dan Prancis. Keempatnya mencatat kematian di atas 100 per sejuta penduduk.

Menurut data Worldometers, Jerman berada di lima besar negara dengan kasus positif Covid-19 terbanyak.
Menurut data Worldometers, Jerman berada di lima besar negara dengan kasus positif Covid-19 terbanyak. Worldometers / Worldometers

Kendati demikian, menurut Zamroni, pemerintah Jerman sempat kewalahan dalam menangani pandemi Covid-19. Infrastruktur kesehatan di sana juga memiliki sejumlah keterbatasan.

Beberapa tenaga kesehatan berasal dari negara tetangga, seperti Polandia. Sejak Jerman menutup perbatasan, tenaga-tenaga medis ini kesulitan keluar masuk wilayah Jerman untuk bekerja.

“Jerman juga meminta beberapa perusahaan untuk membantu membuat alat-alat kesehatan seperti ventilator dan membeli masker dari Cina," kata dia.

Namun, pemerintah Jerman sigap dalam penanganan pandemi Covid-19. Wali Kota Berlin mengirimkan surat kepada seluruh warganya yang berisi nomor kontak layanan bantuan Covid-19, dan tata cara meminta pertolongan ke pusat bantuan tersebut.

“Untuk melakukan tes, warga bisa menghubungi nomor kontak layanan bantuan untuk membuat janji pertemuan. Setelah itu datang ke lokasi yang telah ditunjuk. Kami sendiri tidak melakukan tes karena merasa belum membutuhkan. Tes tersebut diutamakan untuk orang-orang yang mengalami gejala atau berisiko,” kata Zamroni.

Pemerintah Jerman memberikan perlindungan terhadap seluruh warga, termasuk warga negara asing (WNA). Pemerintah memberi jaminan biaya kesehatan gratis melalui asuransi kesehatan nasional (Krankenversicherung), jika ada yang terkena virus korona, terhitung sejak 28 Februari 2020.

Ia menyampaikan, warga Jerman sampat saat ini masih berusaha mengikuti arahan dari pemerintah, terutama dari Kanselir Jerman Angela Merkel. Dalam pidatonya, Merkel berpesan bahwa selama belum ditemukan vaksin virus korona, maka warga diharapkan membiasakan diri dengan sejumlah pembatasan.

Pengalaman menjalani karantina di Jerman, menurutnya terbilang cukup berhasil mengatasi penyebaran Covid-19. Prinsipnya sama, di rumah saja, keluar hanya untuk urusan penting, dan selalu menjaga kebersihan dengan mencuci tangan pakai sabun.

“Menilik dari pengalaman, walau terdengar cliché, terbukti efektif. Begitu juga menjaga jarak minimal 1,5 meter dengan orang lain dan menggunakan masker,” tuturnya.