Lokadata.ID

Klaster unjuk rasa, apa perlu dikhawatirkan

Ratusan demonstran yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Nasional (KSPN) berunjuk rasa menolak pengesahan Undang-undang Cipta Kerja di Alun-alun Serang, Banten, Rabu (14/10/2020).
Ratusan demonstran yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Nasional (KSPN) berunjuk rasa menolak pengesahan Undang-undang Cipta Kerja di Alun-alun Serang, Banten, Rabu (14/10/2020). Asep Fathulrahman / ANTARA FOTO

Pemerintah mengingatkan rangkaian unjuk rasa penolakan UU Cipta Kerja berpotensi melahirkan klaster baru virus korona. Namun, bagi sejumlah ahli wabah, kekhawatiran itu masih terlalu dini.

Peringatan soal lahirnya klaster unjuk rasa misalnya datang dari Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto. “Kegiatan demonstrasi jangan menjadi klaster pandemi baru,” katanya seperti dikutip dari Antara, Senin (12/10/2020),

Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan Covid-19, sejumlah peserta unjuk rasa UU Cipta Kerja di sejumlah daerah memang tercatat reaktif (positif) ketika dilakukan tes cepat (rapid test).

Di Sumatera Utara, misalnya, terdapat 21 dari 253 demonstran yang reaktif Covid-19. Lalu di DKI Jakarta ada 34 dari 1.192, Jawa Timur (24 dari 650), Sulawesi Selatan (30 dari 261), dan beberapa daerah lain.

"Ini cerminan puncak gunung es, contoh kecil bahwa virus ini dapat menyebar dengan cepat dan luas," kata Juru Bicara Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito.

Namun menurut ahli wabah Universitas Airlangga Laura Navika Yamani, hasil tes cepat tak bisa membuktikan bahwa penularan terjadi sewaktu demonstrasi. Antibodi yang terbaca rapid test lazimnya baru muncul 10 hari terinfeksi. Bisa jadi mereka sudah terpapar sebelum mengikuti unjuk rasa.

“Kalau tesnya positif satu dua hari setelah demonstrasi, berarti dia sudah terinfeksi sebelumnya,” kata Laura kepada Lokadata.id, Jumat (16/10/2020).

Ahli wabah Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan apakah unjuk rasa melahirkan klaster sulit dipastikan karena Indonesia sudah punya banyak klaster.

“Untuk menentukan siapa tertular dari mana itu sangat kompleks. Orang yang demo itu juga ke kantor, pabrik, sekolah, kafe. Jadi mau menyebut klaster demo sulit, saking banyaknya,” katanya kepada Lokadata.id.

Demo omnibus law berakhir ricuh di Jakarta, Jokowi tinjau food estate di Kalteng

Lonjakan kasus harus dipastikan

Juru Bicara Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito menyatakan, pemerintah prihatin dengan sejumlah demonstran yang reaktif Covid-19. Dia menaksir, angka ini bisa meningkat signifikan dalam dua sampai tiga minggu ke depan.

Demi mencegah penularan Covid-19 makin meluas, kata Wiku, pihak universitas bisa melakukan pemeriksaan, pelacakan kontak, dan isolasi bagi mahasiswa yang terindikasi positif virus korona.

Hal serupa juga harus dilakukan perusahaan kepada karyawan. Perusahaan diimbau membentuk Satgas Covid-19 dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat.

Laura Navika menyebut, peningkatan kasus Covid-19 akibat unjuk rasa, bisa terlihat dalam rata-rata lima hari setelah kegiatan, mengingat masa inkubasi juga dalam kisaran lima hari. “Tetap perlu pelacakan kontak: kira-kira dapat dari mana? Baru bisa dikatakan bahwa ini klaster demonstrasi,” ujarnya.

Menurut Dicky, ada atau tidak klaster unjuk rasa, kasus Covid-19 sudah meningkat, meski kerumunan memang berpotensi melonjakkan jumlah penularan. “Kesimpulan adanya klaster demo ini sulit, kecuali sebelum aksi peserta sudah dites dan terbukti negatif. Di Indonesia ini bisa jadi tidak ada yang di-test. Tracing kita juga tidak bagus,” ujarnya.

Kekhawatiran munculnya klaster demonstrasi ini juga terjadi di sejumlah negara. Di Amerika Serikat, misalnya, keresahan muncul saat aksi demonstrasi menolak rasisme atau yang dikenal sebagai Black Lives Matter.

Demo tolak UU Cipta Kerja, ribuan buruh mogok kerja di Tangerang

Namun, penelitian National Bureau of Economic Research yang memantau penularan di 315 kota, termasuk 34 kota yang tidak menggelar demonstrasi, menyimpulkan bahwa protes massa hanya berdampak kecil pada penyebaran Covid-19.

Penularan tak meluas karena pedemo menerapkan protokol kesehatan yang ketat seperti memakai masker, dan warga yang tak terlibat dalam demonstrasi memilih untuk tinggal di rumah.

“Unjuk rasa dan kesehatan masyarakat ternyata saling menguntungkan dan tidak menjadi trade off,” kata salah satu peneliti, Andrew Friedson, Selasa (30/6).

Berdasarkan catatan NBC News, di Minneapolis yang menggelar demonstrasi, tercatat hanya satu persen dari 10.000 demonstran - juga di Seattle.

Risiko kegiatan outdoor rendah

Vox memaparkan peningkatan kasus Covid-19 di AS justru terjadi akibat pelonggaran sosial di sejumlah tempat, seperti bar, restoran, perkantoran, dan tempat pangkas rambut -- bukan akibat demo.

Media ini menyebut, terdapat sejumlah alasan yang bisa menjadi penyebab rendahnya peningkatan kasus Covid-19 akibat demonstrasi. Di antaranya: unjuk rasa dilakukan di ruangan terbuka (outdoor); demonstran menggunakan masker dan cuci tangan; dan peserta aksi mayoritas anak muda yang memiliki daya tahan tubuh lebih baik.

Kemudian ada juga faktor seperti: jumlah pengunjuk rasa kecil ketimbang total populasi dan demonstran secara tak langsung memaksa warga tinggal di rumah.

Laura Navika mengatakan, kegiatan di luar ruangan seperti demonstrasi bisa memiliki risiko penularan Covid-19 yang rendah. Riset terhadap 110 kasus Covid-19 di Jepang menunjukkan penularan Covid-19 di ruang tertutup 18 kali lebih besar dari ruang terbuka.

Akan tetapi, Laura mewanti-wanti, seluruh pihak juga harus melaksanakan protokol kesehatan ketat terutama menggunakan masker dan jaga jarak. “Kalau dipakai secara proper masker bisa memberikan perlindungan sampai 70 persen,” katanya.

Sementara menurut Dicky, kendati kegiatan outdoor lebih rendah risikonya, tetap ada sejumlah risiko. Misalnya, droplet yang menyebar ketika massa berteriak, dan sulitnya menjaga jarak.