Lokadata.ID

Komik: Penyetel lagu untuk publik harus bayar royalti

Soal royalti bukan hal baru. Bus wisata tak asal memutar lagu. Begitu pula toserba, malah rak sistem suara ditempeli stiker KCI. Bahkan CD sudah memuat maklumat.
Soal royalti bukan hal baru. Bus wisata tak asal memutar lagu. Begitu pula toserba, malah rak sistem suara ditempeli stiker KCI. Bahkan CD sudah memuat maklumat. Tito Sigilipoe / Lokadata.id

ROYALTI | Soal royalti dan keterbatasan bagi banyak pihak untuk memperdengarkan lagu bukanlah hal baru. Lihat CD musik, terutama dari label luar negeri, yang memuat maklumat bahwa lagu dalam cakram yang dibeli itu untuk didengar sendiri. Bukan untuk diperdengarkan kepada publik.

Jika Anda cermat, beberapa bus carteran memang stiker KCI (Karya Cipta Indonesia) di kotak yang dulunya untuk televisi. Stiker serupa ada di rak audio toserba. Musik yang mereka putar itu membayar royalti yang merupakan hak ekonomi musisi.

Bukankah stasiun radio juga memperdengarkan lagu kepada khalayak? Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2021, keluaran 31 Maret 2021, pun menyebut radio termasuk yang wajib bayar royalti.