Lokadata.ID
Komunitas Hindu tanpa pura
Manceng (17), penganut agama Hindu Towani Tolotang, saat dijumpai di Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, Rabu (14/2/2018). Towani Tolotang adalah kepercayaan lokal yang diwariskan secara turun-temurun dan dianut sebagian masyarakat Bugis di Kabupaten Sidrap. Pada tahun 1966, mereka secara administratif digolongkan Hindu. Hariandi Hafid/Beritagar.id

Komunitas Hindu tanpa pura

Agama lokal Suku Bugis yang memilih berafiliasi dengan Hindu ini pernah terancam pemusnahan. Menolak punya pura.

Sunarto Ngate (70) mempersilakan saya duduk di rumah adat Towani Tolotang. Bangunan tersebut berlokasi di dekat Pasar Sentral Amparita, Kelurahan Amparita, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan.

"Rumah ini memang tidak memiliki kursi," katanya.

Pria bergelar Uwa itu menerima Beritagar.id di ruang tamu berlantai bambu yang sebagian bertutup tikar. Dari atas, sangat mudah melihat orang di kolom rumah yang luas. Sisi bagian kanan kolom sedikit lebih tinggi. Dia bilang, para tetua duduk di situ ketika ada pertemuan.

Baru beberapa menit kami bersila, dua perempuan bersarung keluar dari arah dapur sembari membawa beragam makanan. Bagi komunitas Tolotang, menjamu tamu bukan hal asing. Hari itu, Sabtu (9/2), Sunarto Ngate juga mengajak kami makan siang.

Sambil bersantap, tokoh adat Tolotang itu menjelaskan banyak hal. Salah satunya, alasan di balik bentuk rumah adat yang besar-besar. Ukurannya seperti dua rumah digabung menjadi satu.

Rumah luas karena semua hadirin akan berada di dalam saat acara adat berlangsung. Namun, ketinggian lantai dibuat berbeda. Fungsinya menjadi pemisah antara tokoh adat dengan masyarakat biasa.

"Bahkan ketika ada pesta, rumah akan disambung biar lebih panjang lagi," kata Uwa Narto, panggilan akrab Sunarto.

Meski di komunitas Towani Tolotang derajat ketokohan Uwa Narto berada di lapis kedua, dia Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Sidrap.

Di atasnya masih ada pemimpin tertinggi komunitas. Sebutannya Uwatta. Tetapi, terdapat larangan berbicara kepada orang di luar komunitas. Otoritas cuma diberikan kepada Uwa yang ditunjuk. Salah satunya Sunarto.

Sejarah panjang Tolotang membuat penganutnya bersikap tertutup. Alkisah, jauh sebelum Islam menyebar luas di Sulawesi Selatan, orang-orang Tolotang beranak pinak. Mereka percaya kepada Dewata Seuwae (Tuhan) bergelar Patotoe sebagai Yang Menentukan Takdir. Kitab sucinya, Lontara. Sayang, kebakaran besar pada 1950-an di Amparita menghanguskan kitab-kitab tersebut.

Peristiwa lain yang membawa pengaruh adalah Pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan. Tidak mudah bagi orang Tolotang melupakan sejarah kelam dimaksud. Para pemberontak memaksa banyak pendahulu Tolotang memeluk Islam. Tidak sedikit di antara mereka mati dibunuh.

Jauh sebelum itu, pemeluk Tolotang terusir dari tanah kelahirannya di daerah Wani, Wajo, karena Islam telah menjadi agama resmi kerajaan.

Mereka pun hijrah. Upaya mencari daerah baru yang mau menerimanya tersendat karena saat terusir itu justru terjadi perpecahan di antara mereka.

Segolongan orang dipimpin oleh I Goliga, yang akhirnya tiba di wilayah Bacukiki Parepare. Dan kelompok lain berada di bawah kuasa I Pabbere di Amparita, Sidrap.

Berkat Perjanjian Adek Mappura Onrona Sidenreng dengan La Patiroi, penguasa Sidenreng Rappang kala itu, penganut Tolotang bisa menetap di Amparita hingga sekarang.

Sebutan Towani kemudian disematkan karena mereka berasal dari daerah bernama Wani di Kabupaten Wajo, yang berarti orang-orang dari Wani. Tolotang nan sejak tadi disebut berarti orang-orang dari selatan, karena wilayah Wani berada di bagian selatan Amparita.

Meski telah menemukan tempat bermukim, penganut Tolotang belum sepenuhnya aman. Pada 1965 mereka lagi-lagi tertantang. Tidak sedikit darinya dituduh sebagai antek Partai Komunis Indonesia (PKI).

Samir (57), penganut Agama Tolotang di Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, memperlihatkan e-KTP bertulis Hindu, Sabtu (10/02/2018). Towani Tolotang adalah kepercayaan lokal yang diwariskan secara turun-temurun dan dianut sebagian  masyarakat Bugis di Kabupaten Sidrap. Pada tahun 1966, mereka secara administratif tergolong Hindu.
Samir (57), penganut Agama Tolotang di Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, memperlihatkan e-KTP bertulis Hindu, Sabtu (10/02/2018). Towani Tolotang adalah kepercayaan lokal yang diwariskan secara turun-temurun dan dianut sebagian masyarakat Bugis di Kabupaten Sidrap. Pada tahun 1966, mereka secara administratif tergolong Hindu. Hariandi Hafid

Surat keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Hindu No. 2/1966 menjadi penyelamat. Towani Tolotang dianggap sebagai bagian dari Hindu. Para penganut Tolotang sontak menerima lantaran kebijakan pemerintah yang memaksa. Pilihan tersebut sekaligus menghapus anggapan ateis dari khalayak terhadap mereka.

Meski telah memilih Hindu, tradisi dan ritual keagamannya masih mengikuti ajaran leluhur. Mereka pun menahbiskan diri sebagai sekte Hindu dan tetap menolak memiliki pura sebagai tempat ibadah.

Mereka menyepakati keputusan tersebut alih-alih permintaan PHDI tentang pembangunan pura di Sidrap. Orang-orang itu berkeras menolak. Padahal, banyak di antaranya telah belajar ke Bali untuk menjadi guru agama Hindu. Orang Tolotang teguh bersikap: mereka Hindu yang berbeda.

"Tidak ada gunanya membangun pura. Orang Tolotang sudah punya tempat ibadah sendiri. Jangan sampai dibangun malah tidak ada yang datang," kata Uwa Narto menjelaskan alasan penolakan. Meski begitu, ia menyampaikan terima kasih atas kepercayaan umat Hindu menampung mereka.

Walau kolom agama pada Kartu Tanda Penduduk mereka bertulis Hindu, tapi mereka tetap menjalankan agama Tolotang. Bahkan, sebetulnya, nyaris tak ada ritual yang serupa dengan Hindu.


Sebagai contoh, orang Tolotang melakukan ritual Sipulung sebagai perayaan terbesar keagamaan. Sipulung bak Natal bagi umat Kristiani atau Lebaran bagi Muslim. Penganut Tolotang dari seluruh penjuru dunia akan pulang dan berkumpul di Perrinyameng, makam I Pabbere. Nama disebut terakhir adalah tokoh yang sangat disegani dan dicintai orang Tolotang.

Ritual tersebut tertutup bagi komunitas luar. Di dalamnya berlaku banyak agenda. Salah satunya, tradisi Massempe (adu tendangan dengan kekuatan kaki). Kini, kebiasaan itu hanya dilakukan anak kecil.

"Orang dewasa terkadang tersulut emosi, sehingga lebih amannya dilakukan oleh anak-anak saja," kata Edy Slamet (64). Edy tokoh Tolotang yang kini duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sidrap.

Kami menemui Uwa Eja, sapaan Edy Slamet, di kolom rumahnya. Lokasinya tidak jauh dari rumah Sunarto Ngate.

Sambil duduk di balai-balai, dia menyambut kami sambil tersenyum. Tak lama kami datang, dua pemuda dengan sarung terikat di pinggang masuk membawa kue dan teh.

Uwa Eja merupakan salah satu dari dua orang Tolotang yang kini menjabat sebagai legislator. Namanya diputuskan oleh komunitas sebelum pemilihan umum digelar.

Bagi orang Tolotang, musyawarah sudah menjadi tradisi. Bahkan, keputusan mengenai ritual Sipulung--yang dilakukan sekali setahun--harus diambil lewat musyawarah para tetua adat. Sipulung terjadi pada tiap Januari. Musyawarah tinggal menentukan tanggalnya saja.

"Kalian terlambat, baru saja kami menggelar Sipulung," katanya menanggapi ketika kami hendak melihat ritual mereka.

Akta perkawinan milik Sunarto Ngate, pemuka Hindu Towani Tolotang di Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan.
Akta perkawinan milik Sunarto Ngate, pemuka Hindu Towani Tolotang di Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan. Hariandi Hafid / Beritagar.id

Meski ritual itu tertutup, bukan berarti tidak boleh dikunjungi. Orang luar hanya boleh melihat ke beberapa lokasi. Begitu pun, ada ritual yang tak boleh diabadikan. Tindakan ini mereka lakukan karena menghargai pengorbanan leluhur, selain memang tempat dimaksud sakral.

Berjuang di jalan damai

Sambil meneguk teh dari gelas besar yang disajikan khusus untuknya, Wa Eja mengisahkan kesulitan yang pernah mereka alami. Pernah ada masa ketika mereka dilarang melakukan ritual keagamaan. Bahkan, menguburkan jenazah pun harus dilakukan diam-diam.

"Jika ketahuan mengubur orang dalam tradisi Tolotang, makam itu akan dibongkar kembali dan dikubur dalam tradisi Islam," kata dia.

Sejak itu, banyak orang Tolotang yang takluk dan memilih memeluk Islam karena tak kuat terus-menerus mendapat tekanan. Mereka kemudian membentuk komunitas Islam Tolotang, dan menyebut diri Tolotang Benteng. Hubungan keduanya tetap baik meski berjarak.

Walau sudah bergabung dengan Hindu dan dianggap sudah beragama, orang Tolotang tetap membentengi diri. Sangat sulit mengetahui mana orang Tolotang dan bukan ketika mereka keluar dari komunitas besarnya. Tidak ada perbedaan mencolok. Bahasa yang mereka gunakan pun sama-sama Bugis.

Tradisi berpakaian orang Tolotang juga mirip dengan kebanyakan Muslim. Laki-lakinya sering bersarung dengan kopiah sebagai penutup kepala. Perempuannya yang sedikit berbeda. Pada acara-acara tertentu, perempuan Tolotang akan mengenakan dua sarung. Satu diikat di pinggang, satunya diselempangkan.

Kami bertemu dengan seorang pemuda Muslim bernama Hasrul (32) di Lakessi, Ibu Kota Sidrap, Minggu (10/2/2018). Dia pemilik toko kelontong dekat Masjid Agung Sidrap, kurang lebih 30 menit berkendara dari Amparita. Dia mengatakan, seorang Tolotang pernah ditegur saat bulan puasa tahun lalu.

Saat itu siang bolong. Dengan santainya ia berjalan sambil mengisap rokok. "Padahal sedang pakai sarung dan kopiah. Sangat mirip dengan orang Islam pulang dari salat. Beberapa orang yang melihatnya menegur dan meminta agar lebih menghargai orang yang puasa," kata dia.

Setelah kejadian tersebut, orang Tolotang yang tak lain tetangganya itu sudah jarang muncul dan bergaul. Meski tinggal di Sidrap, Hasrul pun tak tahu banyak soal Tolotang. Yang dia tahu, mereka menyembah batu, sumur dan kuburan nenek moyang.

Orang Tolotang memang mensakralkan kuburan I Pabbere di Perrinyameng. Selain kuburan tersebut, rumah adat yang dihuni Uwatta juga jadi rumah ibadah. Tempat ketiga yang mereka percaya sebagai tempat berdoa adalah tiang tengah di tiap rumah.

Beberapa sesajen harus disediakan sebelum berdoa. Di antara sesajen itu sirih pinang, kemiri yang ditumbuk lalu dibakar, dan minyak kelapa yang sudah ditanak. Minyak tersebut dianggap mampu membulatkan tekad dan bisa dijadikan obat.


Orang Tolotang masih teguh mempertahankan wari' (tatanan) dalam kehidupannya. Meski sempat dibenci dan nyaris dimusnahkan, mereka bisa menerima hidup di tengah mayoritas Muslim. Sejak ikut Hindu, penganut Tolotang telah mendapatkan semua haknya sebagai warga negara.

Sunarto Ngate (70), pemuka Hindu Towani Tolotang, saat dijumpai di Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, Rabu (14/2/2018).
Sunarto Ngate (70), pemuka Hindu Towani Tolotang, saat dijumpai di Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, Rabu (14/2/2018). Hariandi Hafid / Beritagar.id

"Minoritas seperti kami tidak takut hidup di tengah mayoritas. Malah, sebaliknya yang kini terjadi," kata Uwa Narto yang mengajak kami ke rumah pribadinya di sebuah area yang jauh dari pemukiman penduduk. Di depannya ada hamparan sawah dan pekarangannya memiliki luas satu hektar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2015 untuk golongan Hindu, Orang Tolotang di Sidrap berjumlah 40.082. Ini menjadikan Sidrap sebagai daerah dengan jumlah pemeluk Hindu terbesar di Sulawesi Selatan, disusul Luwu Timur yang banyak menampung transmigran dari Bali.

Meski berstatus minoritas dibandingkan dengan 258.037 jiwa penganut Islam di Sidrap, mereka tetap menjaga keharmonisan. Khususnya di Amparita. Pasalnya, kawasan itu nyaris seluruhnya masih satu turunan. Hanya keyakinan saja yang berbeda.

Kami bertemu dengan Samir (58), penganut Tolotang yang tinggal di Amparita. Banyak keluarganya yang memilih jadi Muslim. Namun, dia tak keberatan. Bahkan, ketika Ramadan tiba, dia biasa jadi penjaga alas kaki di masjid dekat rumah.

"Kadang sandal hilang di masjid. Jadi, saya yang jagakan mereka. Saya bilang, silakan beribadah, biar saya yang jaga," tutur pria berkumis tebal tersebut.

Keharmonisan mereka memang manis. Penganut keyakinan yang gemar bertani tersebut tidak juga melarang anggotanya jika hendak menikah dengan orang beda keyakinan. Pun begitu, lebih banyak dari mereka yang memilih untuk menikah dengan anggota komunitas sendiri.

Ketika saat ini negara telah mengakui keyakinan leluhur dan memiliki posisi sama dengan agama lain, orang-orang Tolotang belum berpikir meninggalkan Hindu. Mereka punya utang budi dan perjanjian yang tidak mungkin diingkari.

Keteguhan hati tak meninggalkan Hindu ini sejalan dengan filosofi hidup mereka, yakni munimi tauko kudema tappe. Artinya, biar takut tapi tidak yakin. "Kami masih yakin bersama Hindu, kecuali mereka yang meninggalkan kami," kata Sunarto.

Perjuangan penghayat Tolotang saat ini bukan lagi pada soal pengakuan sebagai agama negara. Mereka memilih merawat tradisi dan menjaga agar keturunannya tetap teguh. Masalah pendidikan pun seakan tak ada habisnya. Anak-anak memang mendapat pelajaran Hindu di sekolah. Tapi bukan Hindu Tolotang sebagaimana yang mereka inginkan.

Harus dua kali mengajar anak-anak Tolotang soal agama agar bisa bertahan. Di luar jam sekolah, mereka tetap mengajarkan ajaran Tolotang yang diwahyukan kepada I Pabbere, seorang perempuan yang mengajarkan peradaban kepada mereka.

Dus, tidak sulit menemukan anak-anak muda ketika hari telah senja jalan beriringan di Amparita. Mereka menuju rumah-rumah tokoh adat untuk belajar agama Tolotang. Pakaian khas sarung dan kopiah akan menghiasi langkah mereka.

Karena hari sebentar lagi berganti, sebelum berpisah dengan Uwa Narto ia mengajarkan ucapan salam adat Tolotang kepada kami. Dia bilang, yang menyapa duluan harus menyebut salamaki' (selamat buatmu). Sementara yang disapa membalas salamatokki' (keselamatan pula denganmu). Salam ini mirip salam agama-agama lain.

Salamaki'.

Komunitas Hindu tanpa pura