Lokadata.ID

Konsumsi ketupat dan lontong meningkat drastis

Konsumsi ketupat dan lontong rumah tangga per bulan.
Konsumsi ketupat dan lontong rumah tangga per bulan. Lokadata / Lokadata

Daya tarik nasi putih seperti menyusut saat Lebaran. Seolah kalah glamor dengan berbagai aneka penganan, kue, opor ayam, dan pendamping lain, juga kalah bentuk dari ketupat dan lontong.

Saat Lebaran, cukup mudah menemukan ketupat dan lontong, dari rumah hingga pasar. Pengganti nasi yang dipadu padankan dengan berbagai jenis lauk dan kudapan sesuai selera.

Ketupat dan lontong tak ubahnya seperti nasi putih, berbahan baku dari beras dan dibedakan dari bentuk dan bungkus. Ketupat dibungkus dari anyaman daun kelapa muda (janur), sedangkan lontong dari daun pisang atau plastik.

Dalam pantauan Lokadata.id dari data Susenas 2019 (Survei Sosial Ekonomi Nasional), BPS (Badan Pusat Statistik), konsumsi ketupat dan lontong merata di semua wilayah Indonesia. Juga tidak hanya dikonsumsi saat Lebaran saja, juga hari biasa lain.

Setahun terakhir rata-rata konsumsi ketupat dan lontong untuk rumah tangga tertinggi adalah provinsi Sumatra Barat, yakni sekitar sebesar 19,6 porsi setiap bulan. Sedangkan yang terendah konsumsinya di NTT (Nusa Tenggara Timur) yakni 0,03 Porsi sebulan. Sedangkan DKI Jakarta berada di peringkat tujuh dengan tingkat konsumsi mencapai 5,2 porsi per bulan.

Jika dikalkulasi dalam area wilayah, rata-rata konsumsi ketupat dan lontong tingkat rumah tangga tertinggi di Pulau Sumatra yang mencapai 7,5 porsi setiap bulan. Kemudian Pulau Jawa rata-rata sebanyak 2,4 porsi, Bali dan Nusra (Nusa Tenggara) 1,3 porsi per bulan, Kalimantan 1 porsi sebulan, Sulawesi sekitar 0,2 porsi dan terakhir Maluku dan Papua mencapai 0,1 porsi sebulan.

Dalam Laporan “Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia, Maret 2018”, BPS mencatat, kurun delapan tahun (Maret 2011-Maret 2018) rata-rata konsumsi beras per kapita seminggu dari lontong dan ketupat meningkat hampir 100 persen. Rata-rata sekitar 9 gram pada 2011-2014, naik menjadi 19 gram pada 2015-2018.

Boleh saja daya pikat beras menurun saat Lebaran, namun evolusi beras dalam berbagai jenis dan bentuk makanan dan hidangan tak terhindarkan.