Lokadata.ID

Woven City, kota pintar mini bikinan Toyota

Para pejalan kaki berjalan di bawah hiasan untuk menyambut tahun baru di tengah penyebaran penyakit virus korona (COVID-19) di Tokyo, Jepang, Jumat (18/12/2020).
Para pejalan kaki berjalan di bawah hiasan untuk menyambut tahun baru di tengah penyebaran penyakit virus korona (COVID-19) di Tokyo, Jepang, Jumat (18/12/2020). Kim Kyung-Hoon / ANTARA FOTO/REUTERS

Tepat 154 tahun setelah pendiri Toyota, Sakichi Toyoda lahir, pabrikan mobil terbesar di dunia itu membangun kota pintar (smart city) di tanah kelahiran Toyoda di kaki Gunung Fuji, Sizhuoka. Kota pintar mini ini dibangun di bekas lahan pabrik Toyota, Higashi-Fuji Plant di Susono, Perfektur Sizhuoka.

Peletakan batu pertama pembangunan kota seluas 70 hektare ini dilakukan pada Selasa (23/1/2021). Higashi Plant yang mulai dioperasikan pada 1967 ini ditutup pada tahun lalu. Toyota menamai kota ini dengan Kota Tenun (Woven City). “Di kota ini, kita akan mewariskan semangat Kaizen,” kata Presiden Toyota, Akio Toyoda.

Kaizen dalam Bahasa Jepang berarti “perbaikan tidak henti”. Semangat itu tampaknya yang menjadikan Toyota menamai kota itu dengan Kota Tenun. Tenun merujuk pada Sakichi Toyoda. Sejak usia belasan tahun, Toyoda dikenal sebagai penemu. Namun, ia kemudian banyak mempelajari dan mengembangkan mesin tenun.

Dalam usia 30 tahun, seperti ditulis di Wikipedia, Toyoda menyelesaikan mesin tenun otomatisnya. Pada November 1926, Toyoda mendirikan Toyoda Automatic Loom Works, Ltd. Inilah cikal bakal pabrik mobil Toyota. Toyoda kemudian menjual hak paten mesin otomatisnya kepada Platt Brothers & Co, Ltd., Inggris.

Toyoda lalu membuat diversivikasi usaha dengan mengembangkan divisi otomotif pada 1933. Divisi ini dikendalikan anaknya Kiichiro Toyoda. Pada 1935, Toyota berhasil membuat proptotipe pertama mobil penumpang yang diberi kode A1. Sejak itu, Toyota melesat menjadi pabrikan mobil terbesar di dunia.

Kota Tenun akan menjadi tempat uji coba segala teknologi baru, terutama teknologi robotika dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) dalam kehidupan nyata. Kota ini akan dihuni lebih dari 2.000 orang, termasuk orang tua dan anak-anak. “Kota Tenun berpusat pada manusia, laboratorium hidup dan tempat evolusi tiada henti,” kata Toyoda.

Cicit Sakichi Toyoda dan cucu Kiichiro Toyoda yang lahir pada 3 Mei 1956 ini menambahkan, Toyota mengambil tantangan untuk menciptakan masa depan, di mana orang-orang dari berbagai latar belakang bisa hidup berbahagia,” katanya seperti dikutip Nikkei Asia (24/2/2021).

Pembangunan Kota Tenun dilakukan Woven Alpha, salah satu unit usaha Toyota, Woven Planets Holding. Untuk mengembangkan Kota Tenun, Toyota menggandeng raksasa telekomunikasi Jepang: Nippon Telegraph & Telephone Corp. Kota Tenun akan menjadi “Laboratorium hidup” bagi pengembangan mobil otonom, robot, dan terapan dari kecerdasan buatan, dan teknologi lainnya.

Kota ini akan memanfaatkan panel listrik matahari di rumah dan gedung, serta energi berbahan bakar hidrogen. Toyota menyewa perusahaan arsitektur Bjarke Ingels Group (BIG). Seperti dikutip dari The Japan Times, perusahaan asal Denmark ini juga mendesain WTC 2 di New York, dan kantor pusat Google di California.

Toyota mengungkapkan sedikit dari rancangan BIG. Jalanan di Kota Tenun didesain untuk tiga penggunaan, yakni jalur kendaraan cepat, transporter individual seperti sepeda atau skuter, serta jalur khusus untuk pejalan kaki. Pengangkutan barang akan menggunakan jalan yang dibangun di bawah tanah.

Kebanyakan gedung, seperti ditulis Cities Today, juga dibuat dari kayu untuk meminimalisasi jejak karbon. Pembangunan gedung juga akan memanfaatkan teknologi sambungan kayu khas Jepang, yang akan akan dibantu dengan metode produksi robotik. Rumah-rumah akan dilengkapi sensor kesehatan penghuninya dengan menggunakan kecerdasan buatan.

Pada tahap awal, kota mini ini akan dihuni 360 orang, di antaranya para penemu dan keluarganya.

Target 2050

Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga menargetkan Jepang akan mencapai nihil emisi karbon pada 2050. Dalam pidato pertamanya di depan parlemen (Diet) pada 26 Oktober 2020, Suga memajukan target pemenuhan nihil karbon menjadi pada 2050. Sebelumnya, pada tahun itu, pemerintah Jepang menargetkan pengurangan karbon sebesar 80 persen.

Jepang, seperti ditulis the Japan Times, bergabung dengan Uni Eropa dan Inggris yang sebelumnya sudah menargetkan nihil emisi karbon pada 2050. Korea Selatan menyusul Jepang berselang dua hari dari pidato Suga. Negara dengan emisi karbon terbesar di dunia, Cina berkomitmen mencapai nihil karbon pada 2060.

Sebagai tindak lanjutnya, Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang akan mulai menghapus penjualan mobil konvensional baru sejak pertengahan 2030. Hal yang sama dilakukan sejumlah wilayah di Jepang. Mereka bahkan melarang mobil berbahan bakar karbon melintas di jalanan pada 2030.

Sebagai gantinya, pemerintah Jepang akan menyokong produksi mobil-mobil hibrida dan mobil listrik. Nikkei Asia menulis, pada 2018, kendaraan menyumbang 16 persen dari total emisi Jepang. Emisi dari gabungan pesawat terbang, kapal, dan kereta api memberikan kontribusi kurang dari tiga persen.

Pengaturan soal ini dilakukan melalui Undang-Undang Konservasi Energi. Misalnya, UU ini mewajibkan produsen mobil meningkatkan efisiensi sebesar 30 persen pada akhir 2030. Sejumlah pabrikan mobil menyambut baik komitmen Suga, termasuk Toyota yang mungkin akan bertransformasi dari hanya sekedar perusahaan produsen mobil.

Toyota sebetulnya sudah memulai produksi mobil hibrid, Toyota Prius sejak 1997. Namun, Toyota bisa dibilang lambat dalam merespons produksi mobil listrik (battery electric vehicle/BEV). Agresifnya sejumlah pesaing mendorong Toyota mempercepat produksi mobil listrik.

"BEV tumbuh jauh lebih cepat dari ekspektasi awal," kata COO Shigeki Terashi dalam presentasi tahun 2019, seperti dikutip www.spglobal.com. Tesla dan sejumlah produsen mobil Cina memang melangkah jauh lebih cepat dibandingkan pabrik-pabrik mobil Jepang.

Terashi melanjutkan, "Ini adalah masalah kematian atau kelangsungan hidup. Kecuali jika kita mengerjakan ini dengan cara yang sangat cepat, kita tidak akan dapat memastikan kelangsungan hidup kita di masa depan, jadi itulah mengapa kita sangat fokus pada BEV dan membangun model ini sekarang."

Toyota kemudian menargetkan produksi 1 juta penjualan mobil baterai-listrik dan sel bahan bakar hidrogen pada 2030. Jumlah ini setara dengan 10 persen dari produksi mobil secara keseluruhan Toyota pada 2019. Namun, target ini masih terlalu kecil dibandingkan pesaingnya. Volkswagen misalnya, menargetkan produksi mobil listrik sampai 40 persen.