Lokadata.ID

Kuota 25 persen jadi kendala pembukaan kembali bioskop

Penonton Bioskop XXI duduk berjaga jarak saat pemeriksaan kesiapan bioskop beroperasi kembali di Pusat Grosir Cililitan, Jakarta, Sabtu (29/8/2020). Pemprov DKI Jakarta akan membuka bioskop di Jakarta untuk beroperasi kembali dengan protokol kesehatan yang ketat. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.
Penonton Bioskop XXI duduk berjaga jarak saat pemeriksaan kesiapan bioskop beroperasi kembali di Pusat Grosir Cililitan, Jakarta, Sabtu (29/8/2020). Pemprov DKI Jakarta akan membuka bioskop di Jakarta untuk beroperasi kembali dengan protokol kesehatan yang ketat. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.

Gabungan Pengelola Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) akan mendiskusikan izin pembukaan kembali bioskop dengan pelaku industri film. "Kami bicarakan secara internal, Rabu nanti, apakah akan membuka kembali bioskop atau tidak dengan adanya pengurangan kapasitas. Inginnya kapasitas bisa 50 persen,” ujar Ketua GPBSI Djonny Syafruddin kepada Lokadata.id, Senin (12/10/2020).

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah mengizinkan bioskop kembali beroperasi selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi yang dimulai pada 12 Oktober hingga 25 Oktober. Namun, jumlah penonton akan dibatasi maksimal 25 persen dari kapasitas gedung. “Aktivitas indoor dengan pengaturan tempat duduk secara ketat untuk bioskop di mana jarak antar tempat duduk minimal 1,5 meter,” kata Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Minggu (11/10/2020).

Para pengunjung juga dilarang berpindah-pindah tempat duduk meskipun gedung bioskop terlihat kosong. Jam operasional bioskop akan diatur berdasarkan pengajuan teknis dari pengelola gedung.

Menurut Djonny, pembahasan perlu dilakukan karena pengurangan jumlah penonton akan menimbulkan masalah baik bagi produser film maupun pengelola bioskop. "Jumlah penonton 50 persen memang belum bisa menutup biaya operasional, tapi tétap lebih baik dibandingkan hanya 25 persen," katanya. Sebelumnya, Gubernur Anies pernah mengatakan akan mengizinkan penonton 50 persen, tapi keputusan akhirnya hanya 25 persen.

Saat ini, kata Djonny, ada 100 judul stok film nasional yang belum diputar. Beberapa di antaranya sudah diputar di platform digital. Kemudian film impor baru masuk Indonesia akhir November, sedangkan film lama yang dirilis diyakini Djonny kurang menggaet penonton. “Pertanyaannya (produser) mau tidak, kasih film dengan kapasitas penonton hanya 25 persen?” ujarnya.

Djonny menambahkan, bioskop tidak hanya bisa menayangkan satu hingga tiga film saja untuk beroperasi karena akan menimbulkan biaya yang lebih besar. Sejak PSBB diterapkan Maret lalu, setiap Gedung bioskop rata-rata menanggung kerugian Rp70 juta per bulan, terutama karena beban biaya listrik.

Inisiator Dakota Cinema Group, jaringan bioskop Independen di Indonesia ini mengatakan bahwa para pengelola bioskop akan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Beberapa di antaranya adalah mengukur suhu tubuh pengunjung, mengatur lalu lintas ke luar masuk penonton untuk menghindari penumpukan, memberi jarak antar penonton, dan mengusir penonton yang tidak bermasker.

Head of Sales and Marketing CJ CGV Cinemas Manael Sudarman mengatakan hal yang sama. “Belum ada kepastian akan dibuka, masih diskusi secara internal dulu,” katanya kepada Lokadata.id. Manael mengungkapkan izin kapasitas 25 persen belum bisa menutup biaya operasional bioskop.

Meskipun belum pasti membuka kembali bioskopnya, manajemen CGV tetap menyiapkan protokol kesehatan selama bioskop beroperasi. Pengelola CGV hanya melayani penjualan tiket, makanan, dan minuman secara online, membentuk tim gugus Covid-19 di bioskop, serta menyemprotkan disinfektan setiap setelah penayangan film.

Kinerja keuangan PT Graha Karya Prima yang menaungi jaringan bioskop CGV jelas menggambarkan situasi yang dihadapi para pengelola bioskop. Pada Semester I 2020, penjualan Graha Karya Prima hanya Rp233,8 miliar, turun hampir 66 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Selama enam bulan pertama 2020, Graha Karya Prima juga rugi Rp185,5 miliar, padahal tahun lalu masih laba Rp41 miliar.

Berkaca dari negara lain

Mengutip BBC.com, pemerintah Inggris mulai 4 Juli lalu sudah mengizinkan bioskop beroperasi. Dalam pembukaan bioskop tersebut, sejumlah protokol pun diterapkan. Misalnya, menyediakan lebih banyak tempat cuci tangan, kemudian mengatur jumlah kursi hingga lokasi baris yang bisa ditempati pengunjung.

Untuk memenuhi aturan jarak 2 meter, pengelola bioskop akan memblokir 12 kursi hingga 16 kursi di sekitar satu penonton.

“Kami beroperasi dengan kapasitas sekitar 20-25 persen, tetapi ketika libur sekolah tiba, kita mengharapkan setidaknya 50 persen pengunjung. Ini adalah pukulan ekonomi yang berat,” ujar pemiliki dan operator Keswick Alhambra Cinema, Carol Rennie.

Kepala Eksekutif Industri Film Inggris Ben Roberts menyatakan supaya bioskop diberikan dukungan untuk beroperasi kembali setelah berbulan-bulan ditutup dan menghabiskan biaya tambahan dalam menerapkan jarak sosial.

Sementara itu, pemerintah Swedia tetap mengizinkan bioskop buka selama pandemi Covid-19, dengan menerapkan protokol kesehatan. Jumlah penonton tidak boleh lebih dari 50 persen kapasitas tempat duduk, tempat cuci tangan ditambah, dan tetap jaga jarak.

Ada juga, Bio on demand, yaitu penayangan bioskop sesuai permintaan. “Anda dapat memilih film yang ingin ditonton dan memiliki layar sendiri dengan teman-teman Anda,” ujar Direktur pengelola Svenska Bio,salah satu pengelola bioskop di Swedia, Peter Fornstam seperti dikutip dari The Guardian.com.

(Aulia Putri Pandamsari, Shila Ezerli)