Lokadata.ID
Kusnandi Rusmil: Biarkan saja yang tidak mau vaksin
Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Universitas Padjajaran Kusnandi Rusmil saat sesi foto di Sukajadi, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (11/12/2020). Septianjar Muharam /Lokadata.id

Kusnandi Rusmil: Biarkan saja yang tidak mau vaksin

Ia mengaku tak peduli dengan gerakan antivaksin dan cuma ingin fokus menyelesaikan uji klinis yang diprediksinya beres pada April mendatang.

Kusnandi Rusmil memiliki hubungan cinta dan benci dengan virus atau bakteri. Sudah 26 vaksin yang ia uji untuk melawan entitas kecil yang menyebabkan manusia menderita itu.

Semuanya berawal dari Pulau Tabuhan, Lampung, tempat pertamanya dinas sebagai dokter. Di sana, ia melihat banyak anak-anak sakit parah saat vaksin belum berkembang. Gizinya pun amat buruk. “Banyak dari mereka yang mudah terinfeksi virus,” tuturnya.

Didasari pengalaman itu, ia memandang, vaksinasi adalah hal krusial. Terlebih pada saat pandemi Covid-19 begini. Makanya, semua ilmuwan dan peneliti seluruh dunia melakukan uji klinis vaksin. Termasuk dirinya.

Sejak Agustus, Kusnandi memang seperti wajah vaksin di Indonesia. Ia didapuk menjadi pemimpin dari uji klinis vaksin—yang biasanya makan waktu bertahun-tahun dan kini menjadi berbulan-bulan saja.

“Dalam waktu dekat, kita akan terbitkan terkait tingkat keamanan vaksin. Tapi efikasinya belum bisa,” ujar Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Universitas Padjajaran ini saat wawancara dengan Heru Triyono via Zoom pada Kamis siang (10/12/2020).

Isu vaksin Covid-19 kembali hangat diperbincangkan khalayak. Apalagi setelah 1,2 juta dosis vaksin Sinovac mendarat di Indonesia. Meski begitu, hari-hari pria berusia 60 ini tak ada yang berubah. “Gak pengaruh jutaan dosis datang. Saya mah tetap urus uji klinis yang sedang berjalan,” katanya.

Selama satu jam ia menjawab pertanyaan tentang kemanjuran vaksin Sinovac hingga pengaruh mutasi virus terhadap efektivitas uji klinis vaksin yang sedang berlangsung di Bandung. Berikut tanya jawabnya:

Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Universitas Padjajaran Kusnandi Rusmil saat sesi foto di Sukajadi, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (11/12/2020).
Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Universitas Padjajaran Kusnandi Rusmil saat sesi foto di Sukajadi, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (11/12/2020). Septianjar Muharam / Lokadata.id

Sejutaan vaksin Sinovac datang, bagaimana kelanjutan uji klinis di Bandung?
Enggak ada pengaruhnya. Lagi pula jumlah 1,2 juta vaksin itu enggak ada artinya dibanding 160 juta orang yang harus mendapat vaksin di Indonesia. Sekitar 70 persen penduduk ya.

Tetap jalan?
Kami tetap jalan. Benar-benar selesai itu bulan April tahun depan. Tapi kita akan rilis interim report atau laporan pertengahan uji klinik fase tiga ini untuk jadi dasar EUA (Emergency Use Authorization)—yang akan BPOM keluarkan.

Progres dari uji klinis fase tiga di Bandung ini sudah sejauh apa. Misalnya imunogenisitas dan efikasinya?
Saat ini sudah kita siapkan interim report untuk 540 orang pertama yang divaksin dari total 1620 relawan.

Itu sudah bisa di laporkan. Termasuk imunogenisitas, efikasi dan keamanannya. Memang efikasinya belum lengkap. Tapi akan kita segera lengkapi.

Karena, efikasi itu kan membandingkan antara yang mendapat vaksin dan yang enggak dapat vaksin. Kemudian berapa jumlah yang sakit. Begitu.

Apakah dilakukan pemeriksaan titer antibodi juga terhadap para relawan vaksin itu?
Oh diperiksa darahnya nanti di Eijkman. Kita akan ambil darahnya berkala.

Mulai dari minggu kedua, satu bulan, tiga bulan dan enam bulan—setelah imunisasi yang kedua. Itu yang akan kita evaluasi selain keamanan vaksin dan efikasinya.

Vaksin Sinovac ini bagus keamanannya saat diuji relawan?
Bagus. Imunogenisitasnya juga bagus. Tapi memang efikasinya belum tahu kan. Belum dibuka hasil metode sistem blinding-nya. Siapa yang dapat vaksin. Siapa yang dapat plasebo.

Sebenarnya, interim report itu bisa ya dijadikan dasar BPOM untuk merilis EUA. Tidak menunggu sampai tuntas saja uji klinisnya?
Bisa. Data relawan yang 540 orang dibuka.

Di berita yang tersebar, sekitar 20 persen relawan mengalami pilek dan pusing. Apakah masih wajar?
Kabar itu betul dan wajar. Orang-orang yang enggak divaksin pun banyak kan yang batuk dan pilek.

Yang sebaiknya kita pikirkan adalah mengatasi orang sakit Covid-19. Jangan mikir yang enggak-enggak.

Obat kan belum ada, ya pakai vaksin. Meski vaksin bukan segalanya juga.

Tapi, vaksin ini bisa membantu untuk melawan penyakit yang sudah menginfeksi 60 juta orang di seluruh dunia.

Dalam waktu dekat vaksin belum bisa menjadi game changer?
Belum. Vaksin itu akan berhasil kalau mencapai 70 persen dari jumlah total penduduk.

Apakah bisa menjamin tiap orang yang divaksin akan mendapat kekebalan?
Tentu saja. Asal kan kita normal dan tidak ada gangguan kekebalan ya. Tapi, meski sudah divaksin, kita tetap bisa menularkan virus ke orang lain. Karena, virus itu kan menempel di badan, meski kita enggak kena penyakitnya. Makanya tetap harus jaga jarak.

Kapan bisa mencapai 70 persen itu?
Bertahap. Perkiraan saya sih dua tahun, dan saya rasa Kemenkes sudah berpengalaman melakukan imunisasi.

Mereka saat ini sedang mempersiapkan secara detail mengenai tata laksananya.

Sudah ada urutan pasti yang jadi prioritas?
Iya. Yang pertama itu adalah tenaga kesehatan, kemudian yang bantu-bantu nakes, aparat pemerintah, guru, mahasiswa, murid sekolah, TNI Polri dan seterusnya.

Sepertinya akan dimulai di daerah yang berwarna merah dulu.

Sebagian tenaga medis dan kesehatan tampaknya justru khawatir karena menjadi prioritas. Apalagi uji vaksin di Indonesia juga belum selesai…
Sebetulnya enggak perlu khawatir. Uji klinis kan bukan di Indonesia saja. Tapi dilakukan juga di Brasil, Turki, Uni Emirat Arab dan India.

Bulan Desember ini mereka selesai. Kalau kita kan baru April nanti.

Artinya memang belum selesai kan yang di Indonesia?
Asal hasil interim report-nya bagus, ya enggak perlu khawatir. Yang kita harus khawatir itu terhadap penyakitnya. Bukan terhadap vaksinnya.

Ya masyarakat mungkin ragu karena belum ada kejelasan mengenai tingkat keamanannya…
Vaksin yang dibuat kan vaksin yang mati di dalamnya. Itu tidak menyebabkan penyakit. Ini sama seperti vaksin mati untuk imunisasi pada bayi.

Enggak akan menyebabkan sakit. Paling ada reaksi terhadap beberapa orang yang enggak cocok. Tapi kan itu bawaan orang tersebut. Misalnya alergi. Makanya akan ditanya dulu sebelum disuntik.

Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Universitas Padjajaran Kusnandi Rusmil saat sesi foto di Sukajadi, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (11/12/2020).
Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Universitas Padjajaran Kusnandi Rusmil saat sesi foto di Sukajadi, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (11/12/2020). Septianjar Muharam / Lokadata.id

Anda kecewa uji klinis di Bandung diragukan?
Biar saja. Ya penting kita sudah menyiapkan vaksin untuk masyarakat. Kalau yang antivaksin, ya biar saja tidak mau vaksin. Mereka memang punya kelompok sendiri.

Dari survei Kementerian Kesehatan, mayoritas masyarakat bersedia menerima vaksin. Pendapat Anda?
Iya mayoritas. Tapi sekitar 23 persen itu didapati enggak mau divaksin. Kemudian, 23 persennya lagi ragu-ragu. Sisanya, mereka bersedia.

Bagi saya, enggak usah mikirin yang enggak mau. Yang ragu-ragu aja kita "bawa".

Karena, niatnya ini kan untuk mencegah penyakit. Kalau mau kena Covid-19, ya silakan saja tidak mau divaksin. Enggak ada yang melarang.

Sebenarnya, Indonesia ini mau pakai vaksin Sinovac yang mana sih. Yang baru saja diimpor dari Tiongkok, yang diuji di luar negeri, atau yang di Bandung?
Kalau yang diimpor mah enggak ada artinya. Ya dipakai juga, tapi cuma untuk cadangan. Sedikit banget.

Yang jelas, kita tetap pakai yang punya Bio Farma. Mereka kan kerja sama dengan Sinovac-- yang per bulan itu nantinya bisa produksi 10 juta dosis.

Itu produksi maksimal? Masih lama ya menuju 160 juta dosisnya…
Kan nanti di-upgrade lagi mesinnya sama Bio Farma.

Pertanyaan publik. Kenapa sih memakai Sinovac awalnya. Kenapa enggak Pfizer, Moderna atau yang lain untuk uji klinis di sini?
Karena Bio Farma kerja sama dengan Sinovac ketika itu. Kenapa lebih dulu Sinovac, karena penyakit ini kan adanya di Cina.

Mereka sudah lebih dulu melakukan uji klinis pada hewan dan hasilnya bagus.

Lanjut lagi ke uji klinis pada manusia di Indonesia, Brasil, India dan lain-lain. Nanti laporannya akan dilaporkan ke BPOM negara masing-masing—sebelum ke WHO.

Kalau bagus, WHO akan memberikan rekomendasi pada vaksin ini untuk digunakan secara luas. Gitu lho.

Negara lain sudah merilis hasil uji klinis Sinovac terhadap manusia?
Belum. Mungkin dalam waktu dekat. Kita malah lebih lama kan. Tapi kita akan coba rilis interim report-nya pada bulan Januari.

“Yang kita harus khawatir itu terhadap penyakitnya. Bukan terhadap vaksinnya.”

Kusnandi Rusmil

Kenapa negara lain sampelnya besar sementara kita hanya 1620 orang. Kecil banget?
Ya dapatnya segitu saja dari Bio Farma. Kan nanti akan digabung dengan penelitian dari luar negeri. Sama saja.

Hanya diuji pada 1620 orang, apakah cukup sebagai dasar untuk menghitung tingkat keamanan, efikasi dan sebagainya?
Enggak cukup untuk efikasi. Namun untuk keamanan dan imunogenisitasnya ya cukup. Kalau efikasi kan bisa diambil dari sampel negara lain.

Pertanyaan awam. Bagaimana menjelaskan ketika uji klinis ini hanya untuk dewasa sehat, tapi vaksinasinya diperuntukan juga bagi anak dan lansia. Tidak berbahaya?
Dari Cina kan sudah ada penelitiannya yang untuk anak-anak dan di atas 60 tahun. Jadi, nanti pakai yang dari sana saja.

Kan tidak menutup kemungkinan juga memakai vaksin lain. Seperti Moderna atau Astrazeneca—asalkan WHO sudah bilang aman.

Apakah pihak Sinovac sudah mengantisipasi jika virus korona bermutasi?
Nah. Itu memang jadi isu. Makanya, secara berkala, kita periksa darah para relawan tersebut.

Menurut saya sih dalam satu atau dua tahun ini virusnya tidak akan berubah. Sehingga vaksin itu masih efektif.

Tapi, kalau sudah lima sampai sepuluh tahun, saya enggak tahu deh.

Korona ini mirip influenza?
Iya mirip. Malah, vaksin influenza kan diberikan setahun sekali. Karena, tiap tahunnya, virus influenza itu sudah berbeda.

Korona ada indikasi akan bermutasi?
Saya ikuti terus selama ini virus korona. Tapi memang belum ada indikasi itu.

Berpengalaman melakukan 26 uji klinis vaksin sepanjang karier, apakah pembuatan vaksin Covid-19 ini paling berat?
Tentu. Karena virus ini ganas dan menyebabkan kematian banyak orang. Sekarang kita lagi pelajari virus ini dan sedang didalami Eijkman.

Semoga kita bisa mengalahkan virusnya. Amin.