Lokadata.ID
Kuwat Triyana: Para epidemiolog itu jangan ngomong saja
Kuwat Triyana, pencipta GeNose C19, alat deteksi Covid-19 berbasis embusan napas, saat ditemui di Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Sekip Utara Bulaksumur, Yogyakarta, Kamis (11/2/2021) Arnold Simanjuntak/Lokadata.id

Kuwat Triyana: Para epidemiolog itu jangan ngomong saja

Ia mengaku tak terganggu dengan badai kritik dan menekankan pentingnya inovasi dan beraksi ketimbang bicara tanpa solusi.

Pada awal tahun lalu, mungkin Kuwat Triyana hanya dikenal terbatas sebagai dosen dan peneliti di Universitas Gadjah Mada (UGM). Hari ini, ia menjadi populer karena mengembangkan GeNose, alat deteksi Covid-19 berbasis embusan napas.

Sebenarnya Kuwat telah menekuni kajian fisika material serta artificial intelligence (AI) sejak lama dan telah menghasilkan sejumlah produk. Seperti masker anti-polusi asap dan bakteri, hidung dan lidah elektronik, dan banyak lagi.

“Tapi saya paling sayang dengan GeNose. Sudah seperti anak. Selalu saya bawa ke mana-mana,” ujarnya saat wawancara dengan Heru Triyono dan fotografer Arnold Simanjuntak di Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, UGM, Yogyakarta, Kamis pagi (11/2/2021).

Di tengah pro dan kontra GeNose, ia tengah berburu dengan waktu untuk memenuhi permintaan alat yang bisa deteksi Covid-19 dalam waktu dua menit ini. Apalagi GeNose telah mendapat izin edar dari Kementerian Kesehatan pada akhir tahun lalu dan diaplikasikan untuk penyaringan penumpang kereta.

“Sampai minggu depan sudah 3 ribu unit yang kami produksi di UGM Science Techno Park,” tutur Kuwat.

Pagi itu, pria berusia 53 ini tampak sedang fokus pada layar laptopnya. Alisnya bertaut, dan tanpa menunggu lama ia langsung minta sampel napas kami untuk diperiksa. “Hasilnya negatif. Pertahankan kesehatan kalian. Sekarang, ayo mulai wawancara,” katanya.

Selama satu jam kami membahas banyak hal tentang proyek GeNose. Termasuk kritik dari para ahli yang menilai alat itu tidak tepat sebagai penyaringan awal Covid-19 bagi pelaku perjalanan. Berikut tanya jawabnya:

Kuwat Triyana, pencipta GeNose C19, alat deteksi Covid-19 berbasis embusan napas, saat ditemui di Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Sekip Utara Bulaksumur, Yogyakarta, Kamis (11/2/2021)
Kuwat Triyana, pencipta GeNose C19, alat deteksi Covid-19 berbasis embusan napas, saat ditemui di Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Sekip Utara Bulaksumur, Yogyakarta, Kamis (11/2/2021) Arnold Simanjuntak / Lokadata.id

Beberapa epidemiolog bilang GeNose tidak tepat jika digunakan sebagai screening penumpang. Bagaimana?
Itu kan masukan. Ya saya terima. Yang saya sayangkan adalah para epidemiolog itu tidak konfirmasi kepada kami dulu dalam pernyataannya di media.

Ini soal efektivitas GeNose yang menurun jika digunakan pada perokok?
Iya. Sebetulnya kan itu sudah diatasi. Dengan bagaimana? Ya sebelum tes jangan merokok dulu. Simpel saja. Kalau nekat ya rugi sendiri karena tidak jelas statusnya.

Memangnya seberapa jauh asap rokok memengaruhi hasil tes GeNose?
Begini. Ini kan berdasarkan data-data yang kami punya. Seperti rokok dan makanan menyengat itu membuat sinyal dan respons aneh pada GeNose, gitu lho.

Data itu kami dapat dari hasil uji diagnostik yang kami lakukan kepada sejumlah pasien setelah makan siang.

Kami punya rekaman medisnya. Termasuk data-data mereka makan apa dan minum apa. Semua dicatat.

Semua pasien yang habis makan makanan menyengat seperti jengkol dan petai hasil tesnya terganggu?
Enggak semua dan enggak sampai 50 persen kok.

Respons yang aneh dari alat GeNose itu seperti apa?
(Menunjuk layar laptop) Ada noise pada garis-garis grafik ini. Seperti sensor pada nomor tiga. Harusnya dia paling rendah, tapi tiba-tiba jadi tinggi.


Sensor nomor tiga itu menunjukkan grafik apa?
Tidak perlu tahu. Nanti publik jadi bingung.

Justru biar publik tidak bingung sebaiknya dijelaskan…
Rasanya tidak perlu. Terlalu teknis. Itu untuk keperluan riset.

Yang jelas, riset mendalam telah kita kerjakan untuk alat ini. Termasuk isu rokok dan bau makanan menyengat tadi.

Sebab itu, sebelum tes GeNose, seseorang harus puasa selama satu jam agar hasilnya akurat.

Bagaimana membedakannya dengan bakteri Tuberkulosis atau virus dan jamur penyebab pneumonia. Alat ini bisa bedain?
Sedang kami riset. Tapi dari data yang ada selama ini, hasil kami dengan swab test PCR banyak yang sejalan--meski seseorang dengan pneumonia.

Maksudnya, saat PCR menyatakan positif, di GeNose juga positif. Sebaliknya, ketika PCR menyatakan negatif, pada GeNose juga negatif.

Artinya bisa membedakan?
Dari data kami ya menunjukkan kalau efek dari penyakit-penyakit penyerta itu belum terlalu signifikan mempengaruhi hasil bacaan GeNose untuk Covid-19.

Sebelum tes GeNose, kenapa harus puasa satu jam, apakah sudah melalui uji klinis?
Kami sudah lakukan uji coba. Kami juga melakukan riset dari jurnal-jurnal ilmiah mengenai mekanisme apa yang terjadi ketika kita habis makan.

Jarang orang tahu kan. Tahunya habis makan, kenyang, terus ngantuk. Sudah.

Hitung-hitungan medisnya bagaimana, kenapa harus satu jam, apakah ini memengaruhi kandungan napas atau apa?
Saya enggak tahu pastinya. Kalau mau tanya, ya kepada bagian medis.

Dalam tim ini kan bagi-bagi tugas. Tidak semuanya harus dan bisa saya jawab. Karena hal itu bukan bidang saya juga.

Apa penjelasan Anda tentang pengambilan sampel embusan napas yang ketiga?
Itu juga bagian medis yang harusnya menjelaskan. Akan ada jawabannya dan tunggu publikasinya sebentar lagi. Baca dari sana, biar clear.

Kapan publikasinya, minggu depan?
Belum tahu. Mungkin sebulan lagi.

Tapi bagaimana Anda bisa menjamin pelaku perjalanan itu akan puasa selama satu jam sebelum tes?
Nanti kan petugas yang tanya. Kalau enggak tanya, ya kan sudah ada selebaran di mana-mana tentang persyaratan tes GeNose. Jangan nekat.

Orang-orang itu harus diedukasi, tidak boleh dibiarkan dengan jalan pikirannya sendiri. Sehingga pintar, sadar dan teratur.

Dari awal, memangnya GeNose diperuntukkan sebagai alat screening di tempat umum seperti stasiun?
Enggak, awalnya untuk rumah sakit. Tapi, karena banyak permintaan, kami ingin memperluas penggunaannya.

Apalagi angka kasus Covid-19 terus meningkat.

Bukannya populasi umum dan populasi yang ada di rumah sakit berbeda?
Memang, di rumah sakit lebih homogen dan seragam. Mereka yang di rawat inap dan isolasi juga dipastikan tidak merokok dan makan jengkol.

Makanya kita uji coba juga kepada pasien rawat jalan dari berbagai rumah sakit di Jakarta sampai Malang. Kami mau lihat diferensiasi dan variabilitasnya.

Kenapa tidak dipergunakan untuk puskesmas dan klinik?
Jangan rumit dalam berpikir. Mari berpikir besar dan mulai dari yang kecil dan mudah. Yang lebih penting adalah act now, lakukan sekarang, bergerak dan inovasi.

Para epidemiolog itu jangan ngomong saja. Mereka itu banyak omong dan enggak konfirmasi ke kita. Urusan rokok dan jengkol saja diperpanjang. Masyarakat jadi bingung.


Anda merasa terganggu?
Enggak. Kami justru perlu nasihat dan masukan yang bagus. Yang enggak bagus itu isunya justru membingungkan masyarakat.

Dalam pandangan Anda, stand position dari GeNose ini di mana, apakah akan menggantikan tes usap PCR atau antigen?
Jawaban paling aman ya GeNose ini sebagai pelengkap.

Penyaringan awal?
Ya, screening awal, hampir sama dengan tes antigen.

Apakah akan bisa menggantikan tes usap PCR?
Swab test PCR adalah golden standar. Dulu saya pernah jawab iya bisa menggantikan dan langsung diserang, banyak yang marah.

Termasuk para epidemiolog. Mereka bilang enggak mungkin.

Padahal, kalau kita optimis ya mungkin saja. Kenapa? Karena alat ini bukan sekadar unit hardware, tetapi ada software dengan artificial intellegence—yang akan semakin pintar kalau terus dilakukan uji coba.

GeNose C19, alat deteksi Covid-19 berbasis embusan napas, saat diliput Lokadata.id di Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Sekip Utara Bulaksumur, Yogyakarta, Kamis (11/2/2021)
GeNose C19, alat deteksi Covid-19 berbasis embusan napas, saat diliput Lokadata.id di Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Sekip Utara Bulaksumur, Yogyakarta, Kamis (11/2/2021) Arnold Simanjuntak / Lokadata.id

Tapi, alat deteksi dengan embusan napas seperti GeNose kan bukan hal baru…
Memang, misalnya untuk deteksi Tuberkulosis saja kan masih berjalan sejak 2018. Itu belum selesai gara-gara Covid-19.

Yang dulunya Tuberkulosis adalah kakak, sekarang malah jadi adik. Karena kita duluin yang Covid-19.

Terkesan tergesa-gesa?
Harusnya riset ini dua tahun sampai tiga tahun memang.

Tapi, karena Covid-19, ya penelitian harus diperpendek jadi 4-6 bulan. Kita begitu intens meneliti hingga tiap minggu kena sariawan dan stres. Orang tidak pada tahu kan.

Sampai sekarang, berapa unit yang sudah diproduksi?
Pada Januari itu mencapai 100 unit. Sementara batch kedua itu kami targetkan 3 ribu unit. Semoga produksi di UGM Science Techno Park itu mencapai target minggu depan.

Apakah benar harga satu unitnya Rp62 juta?
Saya enggak tahu soal bisnisnya. Mungkin ya.

GeNose bisa dibeli secara mandiri untuk kebutuhan screening?
Kami dari para peneliti enggak menyarankan dimiliki pribadi.

Pertama, enggak efisien, meski orang itu punya uang. Yang kedua, ya harusnya alat ini bisa melayani tes 200-250 orang.

Kalau beli untuk mandiri, apakah dipakai tiap hari? Cita-cita semula alat ini kan untuk kemaslahatan orang banyak.

Tapi sudah ada yang akan membeli secara mandiri?
Saya enggak melayani hal itu meski yang tanya-tanya banyak sekali.

Contoh, ada warga dekat Prambanan yang tanya kepada saya cara membelinya. Mereka itu mau iuran untuk membeli GeNose.

Ya saya bukan di bisnisnya. Saya penelitinya, jadi enggak begitu tahu.

Kembali ke soal efektivitas GeNose. Kenapa kok alat ini sensitif sekali dengan makanan menyengat?
Enggak juga. Hanya saja kita mau mendapatkan hasil yang betul-betul akurat. Makanya masyarakat itu harus diedukasi.

Mau cek darah saja harus puasa kan. Masa ini satu jam saja enggak mau puasa.

"Alat ini bukan sekadar unit hardware, tetapi ada software dengan artificial intellegence—yang akan semakin pintar."

Kuwat Triyana

Dari sejarahnya, kapan Anda memulai proyek GeNose ini?
Sejak Covid-19 ada di Indonesia. Kemudian GeNose saya tawarkan ke mana-mana dan enggak ada orang yang percaya.

Lalu saya mengajak dokter Dian Kesumapramudya yang sudah pernah kerja sama dengan saya, dan akhirnya terbentuk tim yang terdiri dari enam orang.

Selanjutnya GeNose lolos komite etik UGM, kemudian mendapat izin edar dari Kemenkes.

Apa arti desain logo pada alat GeNose itu?
Itu ada filosofinya. Tapi enggak usah saya jelaskan.

Kalau enggak Anda jelaskan berarti memang tidak ada filosofinya?
Karena enggak perlu dijelaskan. Pokoknya ada logo. Begitu. Itu misteri, yang tahu hanya saya.

Lalu, kenapa mereknya bernama GeNose?
Yang itu juga hanya saya yang tahu. Ha-ha.

Oke. Saya mau tanya hasil tes saya: NEGATIVE with high probability (0.64, 88.08%), apa artinya?
Itu artinya Anda sehat sekali. Di dalam saluran napas Anda enggak ada tanda-tanda senyawa yang mengindikasikan Covid-19. Bagus.

Bagaimana penjelasan angka 0.64, 88.08% itu?
Enggak usah dipikirin nanti malah pusing.

Saya merasa enggak pusing...
Soalnya malah membingungkan masyarakat nantinya.