Lokadata.ID
Kyatmaja Lookman: Saya tidak yakin pungli hilang sepenuhnya
Ketua Umum Asosiasi Keamanan dan Keselamatan Indonesia untuk perusahaan truk dan logistik (Kamselindo) Kyatmaja Lookman saat ditemui di kantornya, Ancol, Jakarta Utara, pada Jumat sore (18/6/2021). Aminudin Azis/Lokadata.id

Kyatmaja Lookman: Saya tidak yakin pungli hilang sepenuhnya

Ia mengatakan “stiker perlindungan” seharga Rp100 ribu bikin situasi Priok carut marut. Truk kontainer yang tanpa kir dan STNK lewat begitu saja saat pemeriksaan.

Kyatmaja Lookman terus menarik kedua sudut bibirnya ke atas, tampak semringah. Begitu duduk, ia langsung menyampaikan kabar perubahan di Pelabuhan Tanjung Priok yang belakangan disorot. “Sekarang Asmoro dan pungli sedang tiarap. Semoga situasi ini terus berlanjut,” tutur Ketua Umum Asosiasi Keamanan dan Keselamatan Indonesia untuk perusahaan truk dan logistik (Kamselindo) ini.

Sentimentalitas Kyatmaja tidak mengejutkan. Ia tahu benar momok premanisme dan pungli bagi sopir truk serta pengusaha ekspedisi sepertinya. Sebab itu, ia begitu senang ketika isu ini jadi berita utama yang dibahas serius, bahkan langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Dus, pria berusia 40 ini bukanlah pendatang baru di dunia bisnis ekspedisi dan logistik. Ia merupakan Direktur Utama PT Lookman Djaja Logistics yang memulai kariernya sejak 2005—meneruskan perusahaan keluarganya itu—yang berdiri 36 tahun silam.

“Awalnya kami hanya mengirim buah dari Surabaya ke Jakarta. Kemudian berkembang menjadi ekspedisi dan sekarang punya 306 truk,” ujar Kyatmaja saat wawancara dengan Heru Triyono dan fotografer Aminudin Azis di kantornya, Ancol, Jakarta Utara, pada Jumat sore (18/6/2021).

Selama pertemuan, ia banyak sekali cerita mengenai pungli, yang sudah ia anggap sebagai musuh bebuyutan. Syahdan, ia merekonstruksi bagaimana Asmoro layaknya perusahaan asuransi hingga terkecoh oleh Presiden Jokowi saat acara vaksinasi. Berikut tanya jawabnya:

Ketua Umum Asosiasi Keamanan dan Keselamatan Indonesia untuk perusahaan truk dan logistik (Kamselindo) Kyatmaja Lookman saat ditemui di kantornya, Ancol, Jakarta Utara, pada Jumat sore (18/6/2021).
Ketua Umum Asosiasi Keamanan dan Keselamatan Indonesia untuk perusahaan truk dan logistik (Kamselindo) Kyatmaja Lookman saat ditemui di kantornya, Ancol, Jakarta Utara, pada Jumat sore (18/6/2021). Aminudin Azis / Lokadata.id

Sebagai pemimpin perusahaan ekspedisi, apakah penangkapan pelaku pungli di Priok dirasa berdampak signifikan?
Ya signifikan kalau penangkapan itu dilakukan konsisten dan terus menerus. Karena selalu ada orang baru yang berpotensi melakukannya lagi. Begitu kan?

Pungli tidak akan bisa hilang sampai ke akarnya?
Saya tidak yakin hilang sepenuhnya. Karena bentuk-bentuk pungli itu bisa berubah. Orangnya pun bisa ganti-ganti.

Untuk bisa hilang, pemantauan berkala dan penerapan aturan secara konsisten adalah kunci. Kalau tidak, ya akan terjadi lagi.

Anda bicara soal pengawasan yang tidak konsisten?
Bukan cuma butuh pengawasan saja, tapi juga butuh pendekatan sosial. Karena yang terjadi ya problematika sosial kawasan itu.

Jadi, jangan cuma polisi yang turun. Tapi juga dinas sosial agar pendekatannya juga lebih humanis.


Dugaan Anda, warga sekitar Priok yang melakukan premanisme dan pungli itu?

Saya tidak mau berpikir negatif dan menuduh. Ini sebatas dugaan. Saya sih sangsi ada orang luar kota datang ke Priok hanya untuk mengambil aki truk kontainer. Tidak masuk akal.

Oke. Apa yang menjadi solusi Anda atas isu ini?
Pernah saya sampaikan, yaitu tombol darurat di dalam truk yang terhubung ke internet. Apalagi semua truk itu ada GPS-nya, sehingga mudah untuk dilacak kalau sopir mengalami pemalakan atau pungli.

Saat ini saya terus mendorong itu. Akan saya sampaikan tombol darurat ini kepada kepala otoritas pelabuhan dan Dirlantas.

Apakah tombol darurat di dalam truk ini pernah diterapkan?
Pernah. Tapi tidak efektif karena beberapa laporan ternyata hoaks. Sekarang teknisnya akan berbeda.

Kalau tombol dipencet, maka akan terhubung ke perusahaan si pengemudi dan Kamselindo. Nanti diverifikasi dulu sebelum diteruskan ke polisi.

Bagaimana mengukur tombol darurat ini bisa efektif?
Tentu kita sudah melakukan simulasi. Kita hitung response time-nya berapa dan teknis laporannya bagaimana dengan Korlantas.

Hasilnya cukup baik. Para pengemudi truk merasa terlindungi.

Apakah pengemudi perusahaan Anda juga bersuara ketika beraudiensi dengan Presiden Joko Widodo?
Kebetulan enggak ada. Tapi, driver-driver yang menyampaikan keluhan pungli itu memang nyata adanya. Termasuk keberadaan Asmoro, yang sekarang lagi gencar ditangkepin.

(Asmoro merupakan sebutan para pelaku kejahatan seperti begal hingga bajing loncat yang biasa beraksi di Tanjung Priok).

Kapan dan di mana sebenarnya terjadi pungli itu, di depo-depo?
Panjang rentetannya. Pertama adalah premanisme dari Asmoro, yang terjadi di luar pelabuhan. Itu sebagian masalah utama.

Kemudian ada pungli di dalam jabatan. Maksudnya, bisa orang pemerintah atau swasta. Misalnya di depo, tempat penimbunan boks kontainer.

Nah, dalam aktivitas bongkar muat atau taruh barang di sana, suka terjadi pungli.

Kalau tidak bayar sejumlah uang, ya dilamain, dan enggak sesuai antrean. Itu seperti sudah membudaya saja.

Jangan-jangan memang pengusahanya yang ingin cepat sehingga membayar?
Bisa juga. Saya enggak memungkiri. Kadang pengusahanya juga memberi sesuatu agar lancar. Ya it takes two to tango, ada pemberi dan penerima.

Makanya diperlukan kepastian aturan. Kalau aturannya bisa dibelok-belok, ya akan terus berpotensi adanya pungli.

Pungli seperti ini bukannya sudah lama terjadi?
Iya. Karena ekosistemnya memberi ruang untuk itu.

Kenapa para pengusaha diam saja selama ini?
Kami sudah pernah mengadu tapi enggak ada tanggapan. Mengadu lagi, juga enggak ada tanggapan.

Ya lama-lama terbiasa dengan ekosistem seperti itu.

Hingga kemudian para sopir yang mengeluh dan direspons oleh Presiden. Baru heboh dan ada perubahan.

Bagaimana para pengusaha menyiasati pungli-pungli itu?
Ya akhirnya hal itu jadi bagian dari permasalahan kita terus. Makanya tiga bulan lalu saya dan teman-teman di beberapa perusahaan membuat Kamselindo.

Niatnya adalah untuk mengatasi persoalan-persoalan seperti pungli ini. Karena persoalan pengusaha truk ya cuma dua. Keselamatan dan kecelakaan.

Anda tidak melapor ke Satgas Saber Pungli saja?
Sepertinya satgas itu sudah tidak bunyi lagi. Berubah pimpinan, maka berubah juga prioritasnya.

Kapolres Tanjung Priok saja ganti tiap satu atau dua tahun. Sehingga beberapa programnya juga berubah-ubah.

Nama timnya macam-macam. Ada tim macan, elang laut, ganti terus. Tapi kalau bicara premanisme dan punglinya ya konsisten. Belum berubah.

Kalau melapor, biasanya barang buktinya dianggap kurang kuat. Foto kurang jelas atau angle-nya enggak dapat.

Ya dengan adanya Kamselindo ini, tiap muncul persoalan di lapangan, akan kami jembatani dengan pihak yang berwenang. Khususnya perhubungan dan polisi.


Kalau pasang-pasang stiker di badan truk agar dapat “perlindungan” dari Asmoro itu masih terjadi?
Itu juga bukan barang baru. Mereka persis perusahaan asuransi. Kalau ada barang hilang, ya mereka ganti. Asal ada stikernya di truk. Stiker itu harganya Rp100 ribu.

Jika enggak pasang stiker?
Ya dikerjain. Tapi kalau ada stiker ya ada perlindungan.

Nah, karena merasa sudah ada perlindungan, ada beberapa pengusaha yang merasa enggak perlu melakukan kir atau perpanjang STNK.

Karena mereka merasa aman dan merasa di atas hukum. Akhirnya terjadilah carut marut ini. Pemeriksaan ya lewat saja. Mereka seperti dilindungi untuk melanggar.

Ketua Umum Asosiasi Keamanan dan Keselamatan Indonesia untuk perusahaan truk dan logistik (Kamselindo) Kyatmaja Lookman saat ditemui di kantornya, Ancol, Jakarta Utara, pada Jumat sore (18/6/2021).
Ketua Umum Asosiasi Keamanan dan Keselamatan Indonesia untuk perusahaan truk dan logistik (Kamselindo) Kyatmaja Lookman saat ditemui di kantornya, Ancol, Jakarta Utara, pada Jumat sore (18/6/2021). Aminudin Azis / Lokadata.id

Berapa alokasi dana para pengusaha untuk pungli itu dalam sebulan?
Enggak ada alokasi khusus untuk pungli. Bicaranya itu uang jalan, dan pengelola anggaran itu kan sopir. Mereka paling paham anggaran itu untuk apa saja.

Apa pernah ditemukan ada sopir yang bermain dengan Asmoro atau pelaku pungli?
Bisa saja. Saya enggak menutup kemungkinan itu. Tapi mendeteksinya sulit. Salah satu yang kita temukan adalah pungli bongkar muat, tapi tipnya dimasukin ke dalam kuitansi.

Jadi, kuitansi ini sengaja digelembungkan. Misalnya dari Rp1 juta jadi Rp1,2 juta.

Siapa yang harus bayar?
Ya costumer-nya juga. Tapi, saat pandemi begini, costumer pasti enggak mau bayar, karena sedang kesulitan.

Makanya yang kena dampak awalnya ya pengusaha--yang harus memenuhi uang jalan pengemudi itu.

Tapi pascapenangkapan para pelaku pungli tersebut, situasi Tanjung Priok sudah berubah?
Oh saat ini sudah. Mereka tiarap semua kan. Sekarang enggak ada. Semoga situasi ini terus berlanjut.

“It takes two to tango, ada pemberi dan penerima.”

Kyatmaja Lookman

Menurut Anda, sistem untuk truk kontainer yang keluar masuk Pelabuhan Tanjung Priok sudah bagus?
Sudah oke. Tindak lanjut teman-teman di pelabuhan atas perintah Presiden juga sudah oke. Sehingga sudah mulai terlihat ada perubahan.

Kenapa Presiden ujug-ujug ya menyoroti pungli di Priok. Apa yang Anda lihat?
Sepertinya beliau benar-benar memantau media sosial. Sebelumnya kan ada video viral dari sopir yang minta Presiden menertibkan tiga depo, yaitu G Fortune, Dwipa dan New Priok Container Terminal One (NCPT 1). Ternyata langsung ditindaklanjuti.

Pihak Istana berkoordinasi dengan pengusaha ekspedisi sebelumnya untuk audiensi dengan para sopir itu?
Enggak ada. Saya tahunya justru acara vaksinasi. Karena isunya ya Covid-19. Bukan pertemuan dengan para sopir. Ya beliau punya kecenderungan belok begitu kan.

Tiba-tiba saja di lapangan membahas pungli. Tapi saya sangat senang karena keluhan kami diperhatikan.

Semoga, situasi di pelabuhan-pelabuhan ke semakin membaik ke depannya.

Terakhir, sejak kapan Anda terjun ke dunia bisnis ekspedisi ini?
Begini. Lookman Djaja kan perusahaan keluarga ya. Berdiri pada tahun 1985. Saya sendiri mulai berperan dari tahun 2005 setelah menyelesaikan pendidikan di Australia.

Saya lahir dan besar di Surabaya dan merasakan bagaimana perusahaan keluarga ini berkembang dari kirim-kirim buah saja menjadi perusahaan ekspedisi.

Bahkan saya beberapa kali ikut ekspedisi itu dengan naik truk bersama keluarga. Jadi saya tahu betul di lapangan bagaimana.