Lokadata.ID

Laba Tesla meroket di tengah krisis chip, mobil listrik Cina incar Eropa

Pengunjung memotret mobil listrik Tesla Model X yang dipamerkan dalam IIMS Hybrid 2021 di JiExpo Kemayoran, Jakarta, Minggu (18/4/2021).
Pengunjung memotret mobil listrik Tesla Model X yang dipamerkan dalam IIMS Hybrid 2021 di JiExpo Kemayoran, Jakarta, Minggu (18/4/2021). Sigid Kurniawan / ANTARA FOTO

Krisis chip semikonduktor yang sempat menghambat semua produksi otomotif di dunia ternyata tak menyurutkan laju keuntungan Tesla. Menurut BBC, Senin (26/7/2021), raksasa industri mobil listrik ini telah melaporkan keuntungan yang melonjak hingga 10 kali lipat dibanding tahun lalu.

Perusahaan milik miliarder Elon Musk ini mencatat, laba pada triwulan II/2021 mencapai AS$ 1 miliar. Keuntungan itu naik hampir 1.000 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, yakni sebesar AS$104 juta. Laba besar itu ditopang oleh penjualan sedan Model 3 dan Model Y yang harganya lebih murah.

Tahun lalu, saat hampir semua pabrik otomotif di AS tutup karena kekurangan chip, penjualan Tesla tercatat sebesar AS$6 miliar. Namun tahun ini, sampai akhir Juni saja, angka penjualan sudah menyentuh angka AS$12 miliar, dengan pengiriman mobil sebanyak 200 ribu unit.

"Sentimen publik dan dukungan untuk kendaraan listrik tampaknya berada pada titik balik yang belum pernah terlihat sebelumnya. Kami terus bekerja keras untuk menekan biaya dan meningkatkan tingkat produksi kami untuk membuat kendaraan listrik dapat diakses oleh sebanyak mungkin orang," kata Tesla dalam pernyataan kepada investor, Senin (26/7/2021).

Tesla menambahkan, kecepatan produksi mobil pada sisa tahun ini akan bergantung pada pasokan suku cadang utama, termasuk bagaimana kelanjutan krisis chip semikonduktor. Hal ini diungkapkan CEO Tesla, Elon Musk, yang menyebut kekurangan pasokan chip global adalah masalah serius karena industri manufaktur sangat bergantung padanya.

“Saya pikir semua orang setuju, kendaraan listrik adalah satu-satunya jalan ke depan. Tetapi chip ini adalah bagian paling lambat dari rantai pasokan,” kata dia dalam perbincangan dengan analis.

Di tengah kekacauan pasokan chip ini, Tesla menargetkan untuk segera memulai produksi di "gigafactory" Berlin. Pabrik tercanggih dan terbesar ini diharapkan dapat membantu produksi di pabrik pusat California. Musk juga dilaporkan terlihat mengunjungi Luton awal tahun ini, memicu desas-desus bahwa dia mungkin mempertimbangkan pabrik Tesla di Inggris.

U5
U5 / carscoops.com

Cina incar AS dan Eropa

Ketika Tesla sedang mematangkan rencana produksi di Berlin, pada saat yang sama startup mobil listrik Cina mulai berani menantang raksasa di Eropa dan Jepang. Menyimak kesuksesan industri gawai Cina yang mendunia, produsen mobil Cina Aiways tidak melihat alasan mengapa hal yang sama tidak berlaku untuk kendaraan listrik.

Startup yang berbasis di Shanghai ini meluncurkan model terbarunya – SUV U5 serba listrik – untuk pasar Prancis dalam sebuah acara online bulan lalu. "Kami memiliki beberapa tantangan, tetapi secara keseluruhan, saya akan mengatakan itu cukup positif bagi kami, dan kami telah melihat pengakuan yang cukup positif," kata Alexander Klose, Wakil Presiden Eksekutif Aiways kepada Nikkei Asia.

Aiwyas telah mengirimkan mobilnya melalui mitra lokal ke pelanggan di Eropa dari pabriknya di provinsi Jiangxi, Cina timur. Aiways telah menemukan mitra di Israel dan Italia bulan lalu. Italia adalah pasar Eropa keenam setelah Prancis, Jerman, Belanda, Belgia, dan Denmark.

Kini semakin banyak pembuat EV Cina seperti Aiways yang mengarahkan pandangan mereka ke pasar luar negeri, terutama Eropa dan AS. Salah satunya BYD, pembuat mobil listrik Cina yang didukung Warren Buffett, yang telah mengincar Norwegia.

BTD Tang
BTD Tang / bydeurope.com

Dilansir Inside EVs, BYD telah mengirimkan 100 SUV spesifikasi Eropa pertamanya ke diler di Norwegia pada bulan Juni ini. Selanjutnya, mereka berencana mengirimkan 1.500 unit lagi pada akhir tahun. Seperti Aiways, BYD ingin memanfaatkan persepsi konsumen luar negeri yang meningkat terhadap produk-produk Cina.

"Kami tidak akan membuat kesalahan yang sama seperti yang dilakukan merek Cina lainnya lebih dari 10 tahun yang lalu di Eropa. Mereka mencoba meluncurkan kendaraan dengan harga sangat murah dan terburu-buru, tanpa sepenuhnya siap," kata juru bicara BYD kepada Nikkei Asia.

Startup Cina lainnya yang mengincar Eropa adalah Nio. Pembuat mobil yang terdaftar di AS ini berencana untuk mulai menjual mobil ke Norwegia mulai September. "Sebagian besar merek Cina memasuki Norwegia karena memiliki undang-undang impor yang ramah, dan mereka juga menawarkan subsidi atau insentif tertinggi kepada warganya," kata Le Tu, direktur pelaksana Sino Auto Insights yang berbasis di Beijing. Norwegia adalah negara pertama di mana EV mencapai 50 persen dari penjualan mobil baru.

Tahun lalu, 23.800 mobil listrik Cina terjual di Eropa Barat, naik 1.290 persen dari tahun sebelumnya, menurut laporan Januari oleh Schmidt Automotive Research yang berbasis di Berlin. Hampir setengah dari penjualan itu terjadi di kuartal keempat saja. Total untuk lima bulan pertama tahun 2021 mencapai 13.000 unit, menurut Matthias Schmidt, pendiri perusahaan riset.

Hingga saat ini, pasar EV Eropa masih dikuasai Zoe, yang dibuat oleh Renault Prancis, dengan penjualan mencapai 100 ribu unit pada tahun lalu. Di posisi kedua ada ID.4 dari Volkswagen Jerman. Tesla dari AS menempati urutan ketiga. Belum ada satupun perusahaan Cina yang masuk dalam lima besar.

Selama beberapa dekade, persaingan di industri otomotif bergantung pada investasi besar dalam mesin, transmisi, dan sistem powertrain yang kompleks, menimbulkan hambatan masuk yang signifikan bagi pendatang baru.

Target ekspor EV Cina ini datang ketika persaingan di dalam negeri menjadi sengit. Tesla datang dari AS dan menggandakan penjualannya di Cina tahun lalu. Sementara AS mungkin merupakan target yang sulit bagi perusahaan rintisan Cina.

Meski sulit, produsen mobil Cina yang terdaftar di AS, Li Auto Inc telah lulus tinjauan dan siap untuk listing sekunder di pasar saham Hong Kong, menurut dokumen yang dirilis oleh Hong Kong Exchanges and Clearing (HKEX) Senin. Ini akan menjadikan Li Auto sebagai merek kendaraan listrik Cina (EV) pertama yang terdaftar di AS, dan kedua yang terdaftar di pasar modal Hong Kong setelah XPeng Motors.

"Tindakan keras AS terhadap perusahaan Cina dan peluncuran Holding Foreign Companies Accountable Act, yang memungkinkan akses ke kertas kerja audit perusahaan Cina, telah meningkatkan risiko regulasi untuk saham Cina yang terdaftar di AS," kata Dong Dengxin, direktur Keuangan dan Institut Sekuritas Universitas Wuhan, kepada Global Times.

Sementara itu, pemerintah Cina berusaha untuk memastikan produsen di seluruh rantai pasokan mobil menyimpan data di dalam negeri dan lulus evaluasi keamanan pemerintah jika dikirim ke luar negeri. Menurut Taipei Times, lebih dari 100.000 individu, yang secara luas didefinisikan sebagai data penting diwajibkan untuk melaporkannya kepada regulator, pemerintah provinsi, dan sejumlah badan resmi lainnya.