Lokadata.ID

Layanan pesan-antar makanan naik tajam, ini tips bagi mitra usaha

Pengemudi ojek daring menunggu pesanan makanan di sebuah restoran di Malang, Jawa Timur, Kamis (15/7/2021).
Pengemudi ojek daring menunggu pesanan makanan di sebuah restoran di Malang, Jawa Timur, Kamis (15/7/2021). Ari Bowo Sucipto / ANTARA FOTO

Pandemi Covid-19 rupanya membuat bisnis layanan pesan antar makanan meningkat. Pembatasan sosial dalam berbagai bentuknya, mulai pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang diterapkan di awal pandemi hingga pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat belakangan ini mendorong bisnis ini berkali-kali lipat.

Paling tidak, fenomena ini terekam dalam hasil riset GrabFood bertajuk Laporan Tren Makanan dan Minuman Indonesia 2020/2021. Penelitian ini menemukan bahwa omzet bisnis makanan yang dipesan menggunakan layanan pesan antar meningkat empat kali lipat sepanjang 2020. Pembatasan sosial mulai diberlakukan 10 Maret 2020.

“Kami juga melihat jumlah pengguna aktif yang naik 2 kali lipat dan volume pemesanan yang naik 4,5 kali lipat per bulan di 2020. Hal ini dipengaruhi pola perubahan perilaku konsumen yang lebih banyak beraktivitas dari rumah” kata Head of Marketing GrabFood Grab Indonesia Hadi Surya Koe dalam konferensi pers daring, Jumat (6/8/2021).

Laporan itu juga menemukan omzet bisnis makanan dan minuman yang bergabung dengan layanan pengiriman makanan ini naik sampai 50 persen. “87 persen konsumen, terutama mereka yang berusia 25-44 tahun, menyatakan mereka akan tetap memakai layanan pesan antar makanan di masa mendatang,” tulis laporan grab.

Laporan tren makanan dan minuman tersebut merupakan data internal Grab di 2019 dan 2020 serta penelitian yang dilakukan oleh Nielsen untuk Grab di beberapa negara di Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam termasuk Indonesia.

Selain itu, riset Eurmonitor International yang dikutip dalam laporan ini juga menemukan total pengeluaran untuk pesan antar di enam negara di Asia Tenggara tersebut pada 2020 mencapai AS$9,4 miliar (Rp136,3 triliun). Pengeluaran untuk pengiriman makanan di Indonesia menyumbang AS$3,3 miliar (Rp47,85 triliun).

Tips bagi merchant

Grab membagikan tips untuk mendongkrak penjualan makanan di tengah pandemi Covid-19 seperti menawarkan harga yang yang tepat. “Dengan memiliki lebih banyak barang dengan harga yang lebih rendah dapat membuat konsumen belanja lebih banyak dalam satu transaksi,” tulis Grab.

Kemudian, menggunakan promosi. Restoran yang menjalankan promo di Grab, penjualannya meningkat 30-50 persen. Selain itu, menghadirkan paket kombo dengan menyertakan beberapa menu pelengkap seperti minuman dan makanan pencuci mulut, sehingga konsumen bisa mendapatkan paket yang lengkap.


Yang juga penting, menurut Grab, pengelola restoran harus memperhatikan tampilan dengan menempatkan menu item terpenting di bagian paling atas disertai dengan deskripsi singkat tentang makanan atau minuman yang dijual. Menampilkan foto menu juga menjadi penarik konsumen.

Pengiriman makanan tepat waktu dan persis seperti yang dipesan juga faktor yang penting. “Pahami maksimal jumlah pesanan yang dapat ditangani. Konsumen yang memiliki masalah dengan kualitas makanan memiliki kemungkinan 70 persen tidak akan kembali memesan,” demikian hasil riset Grab.

Selain itu, restoran disarankan menggunakan kemasan ramah lingkungan. Berdasarkan riset Grab, 40 persen konsumen rela membayar lebih hingga Rp4.500 per pesanan jika restoran menggunakan kemasan ramah lingkungan. Trend ini, terutama di kalangan kaum muda, memang meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Pesanan yang digemari

Dari sisi pesanan, Head of Marketing GrabFood Grab Indonesia Hadi Surya Koe menyampaikan, waktu sarapan yang didefinisikan sebagai pesanan antara pukul 05.00-10.00 merupakan waktu makan yang mencatatkan pertumbuhan pesanan paling tinggi selama 2020.

Rata-rata anggaran konsumen di waktu sarapan sebesar Rp25.000-Rp27.000. “Sebaiknya penjual membuka toko online sebelum pukul 09.00 karena permintaan pada jam-jam itu tinggi. Selain itu, menu sarapan sebaiknya dibuat sederhana sehingga cepat disajikan,” katanya.

Menu yang paling banyak dipesan untuk sarapan GrabFood antara lain bubur ayam, perkedel, brownies, bakwan, dan soto ayam. Sedangkan, untuk minuman yang paling banyak dipesan waktu sarapan adalah es teh, kopi susu, dan es jeruk.

GrabFood juga mencatat 10 kategori makanan yang paling banyak dicari oleh masyarakat Indonesia selama 2020 adalah makanan cepat saji, martabak, pizza, bakso, ayam, nasi goreng, burger, seblak, mie, dan sate.

Layanan pesanan antar makanan lainnya yaitu GoFood juga mencatatkan menu kuliner terlaris sepanjang 2020 didominasi ayam goreng dan kopi susu. ”Dua menu tersebut menjadi menu favorit selama masyarakat beraktivitas dari rumah,” kata Rosel Lavina, VP Corporate Affairs Food and Groceries Gojek kepada Lokadata.id, Jumat (30/7).

GoFood mencatatkan dalam empat tahun terakhir pendapatan GoFood meningkat 20 kali lipat. “Sehingga walaupun dihadapkan situasi pandemi Covid-19, GoFood berhasil mencatatkan kontribusi margin positif pada 2020. Berkaca pada pengalaman PSBB sebelumnya dan hasil sepanjang 2020 kami percaya ekosistem GoFood terus menjadi andalan pelanggan hingga kini,” kata Rosel.

Perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan usaha baru (venture building) yang berbasis di Singapura, Momentum Works mencatat Gross Merchandise Value (GMV) atau nilai transaksi kotor GrabFood di Asia Tenggara mencapai AS$5,9 miliar. Jumlah itu yang tertinggi di dunia pada 2020.

Urutan kedua ditempati startup Jerman, FoodPanda dengan AS$2,5 miliar. Perusahaan rintisan ini beroperasi di beberapa negara. Kemudian, disusul oleh Gojek dengan GMV AS$2 miliar. “Total GMV pesan-antar makanan di Asia Tenggara naik 183 persen secara tahunan menjadi AS$11,9 miliar pada 2020,” demikian laporan Momentum Works.

Dari riset yang sama, nilai GMV industri pesan antar makanan Indonesia mencapai AS$3,7 miliar di 2020. Nilai itu paling tinggi dibandingkan negara di Asia Tenggara lainnya. Thailand di posisi kedua dengan AS$2,8 miliar, Singapura AS$2,4 miliar, dan Filipina AS$1,2 miliar.