Lokadata.ID

Lebaran di tengah pandemi, jatuh bangun bisnis kue kering

Seorang ibu rumah tangga membuat kue kering lebaran pesanan pembeli di Pekanbaru, Riau, Minggu (3/5/2020).
Seorang ibu rumah tangga membuat kue kering lebaran pesanan pembeli di Pekanbaru, Riau, Minggu (3/5/2020). Rony Muharrman / ANTARA FOTO

Momen Ramadan dan Idulfitri biasanya membawa berkah bagi pengusaha kue kering. Masyarakat kerap berlomba membeli kue dan kudapan untuk disajikan di kediamannya. Tak jarang pula kue dibeli untuk dibagi-bagikan ke kerabat dan kolega kerja.

Akan tetapi, keberkahan itu tak mampir di Ramadan tahun ini. Pandemi Covid-19 yang melanda kala Ramadan berdampak pada turunnya omzet penjualan kue kering sejumlah pengusaha.

Fenomena turunnya pendapatan ini dialami salah satu artisan bakery di Jakarta, Beau. Senior Public Relations & Marketing Beau Desi Hapan berkata, penjualan kue kering dan hamper—bingkisan berisi kue kering—tahun ini menurun dibandingkan Ramadan 2019.

Nilai penurunannya tidak main-main. “Hampir 50 persen,” ujar Desi kepada Lokadata.id, Jumat (22/5/2020).

Penurunan omzet ini disinyalir terjadi akibat minimnya perusahaan yang membeli kue atau hamper tahun ini. Menurut Desi, di Ramadan kali ini pembelian kue dan hamper lebih banyak dilakukan individu daripada perusahaan.

Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi setahun lalu. Desi bercerita, pada Ramadan tahun lalu Beau tak jarang mendapat order ratusan kue dari berbagai perusahaan. “Kalau sekarang, pelanggan paling banyak beli sekitar 20 buah,” ujarnya.

Desi beranggapan penurunan ini disebabkan oleh melemahnya daya beli masyarakat akibat pandemi Covid-19. Pelemahan ini membuat masyarakat dan pengusaha lebih banyak mengalokasikan uangnya untuk pemenuhan hal lain alih-alih membeli kue Lebaran.

Akibat penurunan omzet ini, Beau lantas mengurangi biaya operasionalnya. Artisan bakery ini hanya menyisakan satu dari empat outlet yang dibuka. Itu pun hanya melayani pesan antar serta jasa pengiriman (delivery).

Penyesuaian pola layanan ini diakui Desi turut mempengaruhi tingkat penjualan Beau. Tak heran, biasanya Beau kerap mendulang pembelian hamper atau kue Idulfitri dari pelanggan yang dine-in di Ramadan tahun-tahun sebelumnya. “Sekarang nggak bisa,” tuturnya.

Penurunan penjualan kue kering juga dialami Sajen (@sajenjakarta), salah satu toko makanan daring yang berlokasi di Jakarta. Founder Sajen, Steven mengatakan, penurunan penjualan nastar klepon— signature dish Sajen—mencapai 70 persen jika dibandingkan tahun lalu.

Ramadan tahun lalu, Sajen berhasil menjual sekitar 1.000 toples nastar klepon. Tahun ini berarti hanya ada sekitar 300 toples yang laku diserap pasar.

Steven mengakui bahwa tantangan terbesar berjualan kue pada Ramadan kali ini adalah pelemahan perekonomian yang tengah terjadi. Baginya, tak ada masalah jika pemesanan kue harus dilakukan secara daring. Toh, selama ini layanan tersebut sudah menjadi senjata Sajen dalam melayani pelanggan.

Tapi, cerita akan berbeda jika pengiriman bisa dilakukan, namun tak ada pembeli yang datang. “Ini karena daya beli masyarakat yang rendah. Mereka lebih memilih fokus mengisi stok makanan berat ketimbang membeli kue saat Ramadan,” ujar Steven kepada Lokadata.id.

Kondisi berbeda dialami The Harvest Indonesia. Alih-alih menurun, penjualan kue dari tokok ini meningkat selama Ramadan 1441 Hijriah.

Toko kue yang memiliki cabang di 19 kota ini mencatatkan kenaikan penjualan cake, kukis, dan hamper dibandingkan ramadan tahun lalu hingga 8 sampai 10 persen. Meski naik, namun ada tren unik yang dialami Harvest Indonesia.

CEO The Harvest Group Edison Manalu menyebut, tahun ini banyak orang yang lebih memilih produk seharga Rp1,5 juta ke bawah untuk dibawa pulang. Hal ini beda dengan tren tahun-tahun sebelumnya.

“Tahun lalu, orang lebih memilih membeli produk yang dibanderol harga Rp2 juta-Rp2,5 juta,” ujar Edison.

Peningkatan penjualan selama Ramadan di tengah pandemi juga diakui Founder Kue Kering Jakarta Homemade (@kuekering.jkt) Eka Faisah. Dia mengaku tak menyangka akan ada kenaikan penjualan kue karena Ramadan kali ini dirayakan berbeda akibat keberadaan virus korona.

Rata-rata konsumsi kue kering di setiap rumah tangga menurut wilayah
Rata-rata konsumsi kue kering di setiap rumah tangga menurut wilayah Lokadata / Lokadata.id

“Saat ini kami berhasil menjual 1.400 toples, lebih tinggi dibandingkan penjualan tahun lalu 1.000 toples,” tutur Eka yang berjualan kue secara daring sejak 2016.

Meski begitu, tren kenaikan penjualan kue tidak diikuti dengan produk bingkisan atau hamper. Dia menyebut, sepanjang Ramadan tahun ini hanya 50 hamper yang berhasil dijual. Padahal, tahun lalu ada 200 hamper yang berhasil dijual Kue Kering Jakarta kepada pelanggan.

Strategi bertahan

Saat ini Ramadan dan Idulfitri akan lewat. Akan tetapi, pandemi Covid-19 masih betah berada di Indonesia.

Beragam strategi pun harus dimiliki para pemilik toko kue, jika ingin dagangannya tetap dibeli selama pandemi. Satu yang jamak dilakukan adalah menggencarkan iklan melalui platform daring, dan menyediakan layanan pesan-antar melalui layanan via Grab maupun Gojek.

Penetrasi pasar melalui media sosial menjadi cara Beau untuk bertahan selama pandemi. Menurut Desi, iklan produk Beau via Instagram dan penyediaan layanan di Tokopedia cukup manjur untuk memperluas pasar toko ini.

“Selama ini customer kami kebanyakan dari Jakarta, tetapi melalui sosial media bisa menjangkau lebih luas lagi hingga mereka yang di luar pulau. Kami fasilitasi opsi pengiriman dengan boks kayu untuk (pemesanan) yang jauh,” kata Desi.

Penetrasi pasar ke luar ibu kota dan Pulau Jawa layaknya memang harus dilakukan toko-toko kue di DKI Jakarta dan sekitarnya. Alasannya, berdasarkan SUSENAS 2019 diketahui konsumsi kue rumah tangga di daerah-daerah luar Pulau Jawa cukup besar per tahunnya.

Upaya lain dilakukan Sajen. Steven mengatakan, sejak awal virus korona melanda, tokonya mulai turut menjajakan produk-produk makanan beku seperti bakso dan gohiong ayam. “Kami mengikuti tren saja. Momentum hari raya untuk penjualan kue kering maupun hamper, sudah nggak dapat. Karena pandemi, susah juga untuk promosi offline,” katanya.

Sementara itu, The Harvest mengaku fokus pada data yang mereka miliki untuk meningkatkan penjualan produk-produk yang digemari masyarakat. Toko ini akan menjadikan data-data pegangan merekauntuk pengembangan produk.

“Misalnya kita kembangkan varian 4 rasa untuk 1 produk dengan harga yang sama serta mengembangkan produk-produk yang bisa dikonsumsi harian seperti pastry,” kata Edison.