Lokadata.ID

Lesunya pasar mobil dan perubahan perilaku konsumen

Penjualan mobil lesu. Sektor lain seperti industri karet, logam dasar, perdagangan besar akan ikut terseret. Konsumen mulai meninggalkan sedan kecil, beralih ke mobil keluarga.
Penjualan mobil lesu. Sektor lain seperti industri karet, logam dasar, perdagangan besar akan ikut terseret. Konsumen mulai meninggalkan sedan kecil, beralih ke mobil keluarga. Salni Setyadi / Lokadata.id

Penjualan mobil wholesale –dari pabrikan ke dealer– pada 2020 mencatat angka terburuk sejak 1998. Penyerapan kendaraan roda empat juga mulai diwarnai dengan sejumlah perubahan perilaku konsumen.

Pada September 2020, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan mobil di tingkat wholesale mencapai 48.554 unit, lebih rendah 50,7 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019. Kondisi terburuk tahun ini terjadi pada Agustus, ketika pertumbuhannya minus 51,1 persen.

Persoalannya, lesunya pasar mobil tak hanya menjadi persoalan industri otomotif. Kontribusi sektor ini kepada Produk Domestik Bruto (PDB) yang pada 2019 sekitar Rp111,4 triliun, dipastikan akan tergerus. Ditambah lagi, sejumlah sektor usaha terkait, seperti sektor perdagangan, industri karet dan sektor logam dasar, juga akan terseret.

Berdasarkan analisis dengan model Input Output yang dikembangkan Lokadata.id, total potensi output nasional yang hilang akibat lesunya sektor otomotif tahun ini mencapai Rp77,3 triliun. Nilai tersebut merupakan sumbangan dari tergerusnya total output sektor usaha yang terhubung dengan produksi mobil.

Menurut kalkulasi Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, penjualan mobil tahun ini akan turun hingga 50 persen ketimbang 2019. Gaikindo mencatat, tahun lalu total penjualan mencapai 1,03 unit di tingkat wholesale dan 1,04 juta unit di pasar ritel.

Untuk menggairahkan pasar otomotif, Menteri Gumiwang sempat mengusulkan pembebasan pajak mobil baru. Namun usulan ini ditolak Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Analisis statistik memang menunjukkan, penurunan harga akibat subsidi pajak ternyata tak mendorong penjualan mobil secara signifikan. Pasar mobil lebih banyak digerakkan oleh kenaikan pendapatan masyarakat melalui pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan penjualan mobil tingkat ritel.
Pertumbuhan penjualan mobil tingkat ritel. Fadhlan Aulia / Lokadata.id

Dalam kondisi kritis seperti sekarang, tampaknya wajar jika Agen Pengguna Merek juga tak bermimpi untuk mendorong penjualan setinggi-tingginya. PT Honda Prospect Motor (HPM), produsen mobil merek Honda, misalnya. Kepada wartawan, Direktur Pemasaran & Penjualan HPM Yusak Billy mengatakan, mempertahankan pangsa pasar justru lebih penting.

Daripada bicara target penjualan tiap bulan, katanya, “Kami memilih bicara target market share, yaitu sekitar 14,4 persen.”

Perubahan pilihan konsumen

Penurunan penjualan mobil kali ini, sebagian besar datang dari segmen mobil tipe harga terjangkau atau Low Cost Green Car (LCGC). Tipe mobil yang mulai digalakkan sejak 2013 itu, penjualannya di tingkat ritel mengalami kontraksi, tumbuh minus 62,4 persen sepanjang Januari-September 2020, dibandingkan dengan periode yang sama 2019.

Tiga jenis kendaraan lainnya, yaitu truk, sedan dan 4x2 juga melorot lebih dalam ketimbang kinerja penjualan mobil, secara umum.

Penjualan truk yang minus 56,5 persen (yoy) itu, sejalan dengan kondisi bisnis yang sedang lesu. Penurunan terbesar terjadi di kelas Gross Vehicle Weigh (GVW) atau berat bruto –mobil dan muatan- lebih dari 24 ton yang minus 71,5 persen.

Sementara itu, penjualan kendaraan tipe 4x2 yang selalu menjadi pemimpin pasar penjualan mobil, telah terkontraksi sejak tahun lalu. Tahun ini, pertumbuhannya minus 48,1 persen. Sementara pertumbuhan penjualan sedan lebih tragis: telah terkontraksi sejak 2014.

Konsumen mobil jenis sedan agaknya juga mengalami perubahan minat. Sejak 2019, porsi kendaraan dengan kapasitas mesin 1.501-3.000 cc kian dominan. Tahun ini, tipe sedan menengah itu bahkan mencapai 75,8 persen dari total penjualan sedan. Sebelumnya terjadi persaingan ketat dengan sedan kecil berkapasitas di bawah 1.500 cc. Kedua tipe kendaraan ini mendominasi pasar sedan secara bergantian.

Sebaliknya pada kendaraan tipe 4x2, dominasi kendaraan dengan kapasitas di bawah 1.500 cc mencapai 78,6 persen. Pada mobil tipe ini, tak banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan produsen mobil, karena proporsi masing-masing tipe cenderung stabil.

Namun untuk sedan, selain telah tumbuh minus sejak tujuh tahun silam, perubahan perilaku konsumen yang lebih memilih sedan di atas 1.500 cc juga perlu sering diintip.

Proporsi penjualan sedan.
Proporsi penjualan sedan. Fadhlan Aulia / Lokadata.id
Catatan Redaksi: artikel ini merupakan bagian pertama dari tiga artikel LokadataReport tentang industri otomotif. Bagian dua bisa dibaca di sini, sedangkan bagian tiga ada di sini.