Lokadata.ID

Letak geografis tak pengaruhi tingkat kematian Covid-19

Perawatan intensif pasien Covid-19 di RS Paliambuanza, Italia
Perawatan intensif pasien Covid-19 di RS Paliambuanza, Italia Filippo Venezia / EPA-EFE

Jumlah korban meninggal akibat Covid-19 di Italia dan Spanyol telah melampaui Tiongkok. Data John Hopkins CSSE pada Kamis (26/3/2020) menunjukkan Italia dan Spanyol melaporkan masing-masing 8.215 dan 4.365 kematian, sedangkan Tiongkok hanya 3.291.

Tingkat kematian (fatality rate) Italia mencapai 9,86 persen, sedangkan Spanyol 7,21 persen, dan Tiongkok 4,04 persen. Rata-rata global, menurut WHO, berada di kisaran 3,4 persen.

Mengapa jumlah dan tingkat kematian akibat Covid-19 di negara-negara tertentu lebih besar dari yang lain? Apakah letak geografis (tropis/non-tropis), dan mungkin juga ras, ikut menentukan?

Laporan The New York Times menunjukkan salah satu indikator yang mempengaruhi tingginya tingkat kematian di Italia adalah usia penduduk. Italia tercatat memiliki populasi lansia tertinggi di Eropa, sekitar 23 persen penduduknya berusia 65 tahun.

Penelitian dari The Local menyatakan masyarakat yang berusia dalam rentang 80 sampai 90 tahun menjadi kelompok yang paling rentan terhadap komplikasi akibat Covid-19. Kelompok ini menyumbang angka kematian yang banyak.

Senada dengan laporan di atas, peneliti bidang mikrobiologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sugiyono Saputra mengatakan risiko fatal akibat Covid-19 akan bertambah linear dengan pertumbuhan usia pasien.

"Kebanyakan mereka yang sudah berusia 50 tahun ke atas dan akan semakin berisiko fatal seiring bertambahnya usia," jelas Sugiyono, Kamis (26/3/2020).

Selain faktor usia, riwayat penyakit bawaan menurutnya juga menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan fatality rate. Begitu juga dengan kemampuan fasilitas kesehatan dan penanganan pasien.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Institute Amin Soebandrio mengatakan tiap orang punya potensi terinfeksi dari Covid-19. Apakah infeksi itu fatal atau tidak akan ditentukan oleh dosis dan keganasan virus serta kekebalan tubuh individu.

Menurut Amin, dosis dapat dilihat dari seberapa sering individu terpapar virus Covid-19. Makin sering terpapar, kemungkinan positif Covid-19 makin tinggi.

"Jika ada komunitas yang terinfeksi, dan mereka berkumpul berulang, jumlah yg tertular jadi lebih banyak. Makanya disarankan untuk social distancing atau physical distancing," paparnya.

Keganasan virus akan ditentukan ada atau tidaknya riwayat penyakit dalam tubuh yang terinfeksi. Sementara itu, kekebalan tubuh akan menentukan apakah Covid-19 dapat berakibat fatal atau tidak.

Seiring bertambahnya usia, kekebalan tubuh jadi menurun "Kalau kekebalannya rendah, otomatis risiko terinfeksinya menjadi tinggi," katanya.

Tidak terpengaruh kondisi geografis

Sugiyono menilai tingkat penyebaran dan kematian pandemi ini tidak dapat dibatasi oleh kondisi geografis maupun ras manusia. Ia mengatakan siapa saja dan di mana saja tetap memiliki resiko terpapar Covid-19.

Ia mengatakan belum ada bukti pasti mengenai kemungkinan daya tahan dan daya bunuh virus yang berbeda-beda antar negara. Sugiyono membenarkan apabila virus Covid-19 sudah bermutasi atau mengalami perubahan pada material genetiknya dibandingkan ketika pecah di Wuhan.

Kendati demikian, dirinya mengatakan hal tersebut belum diketahui secara pasti apakah perubahan tersebut juga mengubah karakteristik virusnya. "Karena ini pandemi, tidak ada batasan negara atau ras atau hal lainnya," tegasnya.

Senada dengan Sugiyono, Amin mengatakan sampai saat ini belum ada laporan spesifik apakah karakteristik virus di berbagai negara mengalami penyesuaian dan berpengaruh terhadap tingkat kematian.

Menurutnya terdapat berapa mutasi terhadap virus SARS-CoV-2. Akan tetapi belum menunjukkan perubahan virulensi--kemampuan virus untuk menyebabkan penyakit dan berakibat fatal--yang drastis.

Mengenai pernyataan negara tropis cenderung lebih aman lantaran virus tidak akan bertahan lama dalam cuaca panas, menurut Amin, juga perlu ditinjau ulang. Ia tidak menampik apabila faktor lingkungan seperti suhu; kelembapan; dan sinar matahari; menjadi faktor yang mempengaruhi ketahanan virus.

Akan tetapi menurutnya faktor tersebut lebih berpengaruh apabila virus berada di luar inang atau di lingkungan. Ini berbeda jika virus sudah masuk ke dalam tubuh penderita Covid-19.

Amin menegaskan, yang paling berpengaruh adalah kontak langsung dengan penderita. Ini yang akan membuat transmisi virus berlangsung cepat. sedangkan lingkungan tak berpengaruh terlalu banyak.