Lokadata.ID
Lika-liku ojek syariah di Indonesia
Sejumlah pengemudi ojek daring (online) menunggu penumpang di depan Stasiun Pondok Cina, Kota Depok, Jawa Barat, Selasa (11/6/2019). Yulius Satria Wijaya/Antara Foto

Lika-liku ojek syariah di Indonesia

Di sela gelombang pengojek online berseragam hijau, muncul ojek-ojek spesial. Anak-anak muda di berbagai kota besar mengusung ojek sepeda motor berkonsep syariah.

Sepekan lebih usai Lebaran, masalah tahunan Dinni Kustina Putri muncul. Aktivitas warga kota dirasanya belum normal. "Penumpang dan orderan sepi," katanya Sabtu (15/6/19).

Perempuan mantan guru berusia 29 tahun itu pengojek. Tinggal bersama suaminya di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Wilayah operasinya di Jakarta Selatan. Sejak 2018 ia bergabung Shejek, ojek syariah asal Bandung.

Dulu ketika pengojeknya masih sedikit, pesanan Dinni menumpuk. Sehari kantongnya bisa terisi Rp150 ribu. Kini dengan 30 pengojek aktif dari 80 anggota di Jakarta, penghasilannya sekitar upah minimum Jakarta. Sebulan hampir Rp4 juta.

"Daripada nganggur, lumayan buat nambah-nambah," ujarnya. Suaminya menolak jika Dinni jadi pengojek yang membonceng lelaki.

Di sela gelombang pengojek online berseragam hijau, muncul ojek-ojek spesial. Anak-anak muda di berbagai kota besar mengusung ojek sepeda motor berkonsep syariah di jalan raya. Berpusat seperti di Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Bandar Lampung, pengojeknya khusus muslimah dan berpakaian tertutup.

Segmentasi penumpangnya pun kalangan khusus, yaitu bocah yang belum pubertas dan perempuan. Konsumen bisa tidak berkerudung dan beda agama. Pesanan ojeknya lewat panggilan langsung atau cara berlangganan ke nomor layanan.

Fenomena menarik ini muncul lima tahun belakangan. Bermain di pasar berpenduduk muslim yang besar, pun jumlah muslimahnya, ceruk mereka tergolong sempit karena beberapa kondisi. Belasan operatornya timbul-tenggelam. Sebagian aplikasinya telah rontok hingga tinggal artefak di dunia maya.

Tapi start up ojek syariah baru terus bermunculan, seperti di Jambi hingga Banjarmasin. Sementara segelintir pengelola yang bertahan tengah berkutat dengan masalah teknologi digital, suntikan finansial, dan sempat mengalami konflik internal.

Dua perempuan pengemudi ojek daring, shejek.
Dua perempuan pengemudi ojek daring, shejek. Shejekindonesia / Instagram

Misi dakwah dan melindungi perempuan

Dari semangat juang pendirinya, roda ratusan pengemudi ojek syariah kini terus berputar. Tanpa berambisi menyalip ojek online multinasional berseragam hijau, mereka punya kesamaan tujuan.

Lebih dari sekedar uang dan bisnis, ada misi dakwah plus upaya melindungi kaum perempuan. Mereka pun membangun ekonomi sosial bersama kaum hawa secara guyub.

Bagi Lina Amana, ojek syariah menjadi solusi moda untuk bepergian ketika suami dan anaknya berhalangan mengantar. Walau berjeda 30 menit dari sejak pemesanan, ia rela menunggu. "Driver wanita lebih hati-hati berkendara," katanya akhir Mei lalu. Selama perjalanan pun mereka asyik mengobrol dan tertawa.

Adapun pengakuan penumpang lainnya, kehadiran ojek syari membebaskan istri dari larangan ketat suami; tidak boleh pergi bersama pengojek lelaki yang bukan muhrim.

Pengalaman itu juga yang mendorong Yofi Cahya Subangga dan istri serta tiga rekannya mendirikan Shejek pada Desember 2017. "Biasanya saya selalu antar kalau istri mau pergi, tapi susah juga kalau pas nggak bisa," ujar lelaki kelahiran Cianjur, 5 Maret 1983 itu.

Merintis dengan 20 pengemudi, Shejek yang artinya mengacu pada ojek perempuan muslimah, kata Yofi terinspirasi Ojesy, Ojek Syariah Indonesia yang berbasis di Surabaya.

Pendirinya Evilita Adriani dan Reza Zamir, baru-baru ini menamakan usahanya sebagai Syari Hub di bawah bendera PT. Ojek Syari Indonesia. Nama Ojesy tak lagi dipakai setelah kasus konflik dengan seorang pendiri lainnya yang kini telah keluar.

Evilita merintisnya pada Maret 2015, sekitar tiga bulan sebelum Go-Jek hadir di Surabaya. Saat itu mahasiswi Universitas Pembangunan Nasional Surabaya itu masih 19 tahun. Ia menjadi pengojek sepeda motor dan kurir barang secara lepasan (freelance).

Menggaet Reza untuk manajemen dan aplikasinya, selama tiga bulan awal Evilita menjadi pengojek single fighter. "Setelah itu banyak yang minta jadi driver, jadi dibuka lowongan," katanya.


Di Yogyakarta, Agustus 2015, Dzikri Asykarullah bersama empat rekannya di kampus Universitas Gadjah Mada juga membuat layanan jasa serupa. Namanya Fatimah Safety Ojek (FSO). Kemunculannya diwarnai guyon yang berujung serius.

Semula mereka iseng mengerjai seorang kawan kelompoknya saat kuliah kerja nyata. Nomor kawannya itu disebar ke media sosial untuk melayani jasa ojek sepeda motor khusus perempuan. "Lebih dari 50 kontak telepon atau WhatsApp masuk," ujar Dzikri (1/6/19).

Sebagai pertanggungjawaban kejahilan itu, dalam tempo tiga hari kelima pendirinya menyiapkan ojek syariah. Nama Fatimah dicomot karena ada rekan mereka yang bernama Ali. Mereka teringat kisah putri Nabi Muhammad SAW yaitu Fatimah Az Zahra yang dipersunting Ali bin Abi Thalib.

Hari pertama Dzikri dan kawan-kawannya berkumpul rapat koordinasi membuat sistem awal. Hari kedua rekruitmen, hari ketiganya wawancara pengemudi.

"Hari keempat langsung beroperasi, mulai dengan 13 riders," ujar lulusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan UGM 2015 itu. Sasaran ojek mereka para mahasiswi baru yang akan menjalani orientasi pengenalan kampus.

Sementara di Bandar Lampung, Rani Musodah dan tiga rekan kuliahnya meluncurkan Ojek Akhwat (wanita) Salimah yang disingkat Ojesa. Dirintis sejak 25 September 2015, inspirasinya Ojesy juga. Kondisi lain yang melatarinya yaitu kasus kriminalitas seperti pelecehan dan tindak kekerasan terhadap perempuan di negeri ini.

"Visi misinya berdakwah melalui jasa ojek," kata Rani. Mereka memulainya dengan empat orang pengojek yang sekaligus pendiri.

Sedari awal FSO tidak membuat aplikasi pesanan ojek. Sementara Ojesa dan Shejek pernah membuat namun bermasalah di tengah jalan. Penyebabnya kebijakan Google, kata Rani, yang mewajibkan pengguna peta membayar setelah jatah gratis pakainya tandas.

"Pas kuotanya habis aplikasi jadi nggak jalan," ujar Yofi. Mereka pun menjadikan media sosial sebagai ruang pemesanan sekaligus promosi.

Keterbatasan pengojek perempuan

Muncul sporadis di berbagai kota, ada irisan kesamaan dan perbedaan ojek syariah. FSO lebih fokus ke sistem langganan, sementara yang lain berkutat dengan pesanan langsung.

Kondisi jumlah pengemudi yang sedikit membawa konsekuensi. Jeda waktu pesanan dan penjemputan ada yang berselang 15-30 menit.

Sebaran pengojek syariah di suatu daerah juga belum merata. "Makasar, Pekanbaru banyak yang tidak terlayani," kata Yofi.

Selain ada yang bisa dijemput, konsumen bisa gagal memesan karena pengojek aktif semuanya tengah mengantar. "Bisa juga karena jarak jemput lebih jauh dari jarak antarnya," ujar Rani.

Solusinya, Shejek, Ojesa, dan Syari Hub membuka lowongan pengojek muslimah setiap hari juga berkala. Tujuannya agar armadanya kuat melayani banyak pesanan.

Menurut Yofi, ada keterbatasan pengojek wanita terkait tugasnya mengurus rumah dan anaknya. Diantaranya ada anak yang berkebutuhan khusus. Apalagi kebanyakan pengojek merupakan orang tua tunggal.

"Buat kami itu wajar karena juga ini bukan murni bisnis, hanya saling membantu," ujar Yofi.

Pengojek lainnya di Ojesa, FSO, juga Syari Hub, berasal dari kalangan mahasiswi dan istri yang menambah penghasilan suami. Umurnya kebanyakan dari 25 hingga 40-an tahun. Pengojek berusia 55 tahun yang sudah bercucu juga ada.

"Ibu-ibu ini waktunya tidak fleksibel sebagai pengojek, tapi bisa mengatur waktunya untuk keluarga," kata Dzikri.

Shejek, FSO, dan Ojesa misalnya membangun suasana kekeluargaan dengan para mitra kerjanya. "Kepercayaan menjadi landasan kuat kami," ujar Dzikri.

Kegiatan seperti kumpul bersama secara berkala dan aksi sosial seperti pembagian makanan berbuka puasa di jalan menghangatkan keguyuban.

Interaksi pengojek dengan penumpang juga akrab. "Tiap tahun selalu ada konsumen yang kasih THR atau bingkisan Lebaran ke pengemudi." ujar Rani.

Sering juga pengojek mendapat uang kembalian. Lucunya ada pengemudi yang lugu. "Ketika sampai tujuan, konsumen diajak keliling lagi supaya uangnya pas," kata Yofi. Cerita lain ada pengojek yang digaet ikut mengaji dan makan bersama.

Trio generasi awal ojek syariah tersebut kini terus mengembangkan usaha baru selain ojek. Layanan bekam khusus muslimah, katering, menyediakan pengasuh anak, juga membuat koperasi pengojek.

Berbeda dengan Shejek yang membuka cabang di banyak kota, ketiga operator itu fokus ke kota asalnya. "Terlalu banyak kurang fokus, di kota (Surabaya) ini dulu supaya besar dan fondasinya kuat," kata Evilita.

Meskipun ada keinginan dan berupaya mencari investor, sejauh ini umumnya mereka masih ingin mandiri. Alasan kebanyakannya yaitu belum menemukan calon penyuntik dana yang sama visi dan misinya. Shejek pun mengaku gamang karena merasa belum siap manajemennya.

Seorang pengojeknya seperti Dinni, melihat peluang pasar ojek syariah berpotensi besar. "Insyaallah setahun antusias konsumen tinggi," katanya. Sesama pengojek dari operator lain memuji ojek online syariah sambil menyelipkan celoteh, "Nanti customer perempuan pada pindah." Dinni kerap bilang, rezeki sudah ada yang mengatur.