Lokadata.ID

Lonjakan Covid-19 makin terasa, pemerintah perlu segera bersiap

Warga antre belanja di pintu masuk salah satu tempat belanja busana di Pekalongan, Jawa Tengah, Minggu (9/5/2021).
Warga antre belanja di pintu masuk salah satu tempat belanja busana di Pekalongan, Jawa Tengah, Minggu (9/5/2021). Harviyan Perdana Putra / ANTARA FOTO

Lonjakan kasus Covid-19 pasca Lebaran Idul Fitri 2021 diperkirakan bakal tetap terjadi meskipun pemerintah telah menerapkan kebijakan larangan mudik. Pelbagai pihak pun meminta pemerintah segera menyiapkan langkah antisipasi.

Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19 per Senin (10/5/2021), jumlah kasus aktif Covid-19 di Indonesia mencapai 98.395 orang. Data Satgas menyebutkan, tambahan kasus baru di sejumlah daerah juga tercatat masih tinggi selama sepekan terakhir.

Lima daerah dengan tambahan kasus tertinggi dalam sepekan terakhir adalah Jawa Barat, DKI Jakarta, Riau, Jawa Tengah, dan Sumatera Barat. Dalam data yang sama, diketahui juga tren kasus kematian selama sepekan terakhir cenderung meningkat, berada diatas 147 kasus tiap harinya.

Selain itu, mengacu kepada data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), telah terjadi peningkatan pasien yang membutuhkan fasilitas rawat inap sebesar 1,28 persen dalam sepekan terakhir.

Data Kemenkes juga menunjukkan, dalam periode yang sama, rasio kasus positif (positivity rate) kembali meningkat ke level 13 persen. Angka ini lebih tinggi hampir tiga kali lipat dari standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang hanya sebesar lima persen.

Penting diketahui, rasio kasus positif ini menunjukkan banyaknya penularan Covid-19 yang belum terdeteksi. Selain itu, rasio ini juga berhubungan dengan kecukupan jumlah pemeriksaan. Banyak kalangan yang khawatir kasus positif akan kembali meningkat drastis usai Lebaran.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Daeng M. Faqih memperkirakan, peningkatan kasus aktif Covid-19 akibat klaster Idul Fitri 2021 baru akan terlihat usai arus balik. Dia melihat, meski sudah dilarang mudik, masyarakat tetap saja mencari celah aturan dengan pulang kampung sebelum larangan diberlakukan.

Karena itu, PB IDI meminta agar pemerintah dapat memperkuat perilaku surveilans masyarakat melalui pelacakan dan tes untuk mengungkap kasus Covid-19 dalam kurun waktu tersebut hingga sebulan setelah lebaran. “Klaster Lebaran ini baru akan terlihat dua pekan setelah arus balik," katanya kepada Lokadata.id, Senin (10/6/2021).

Berkaca pada kejadian serupa di tahun lalu, Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Infeksi dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Erlina Burhan menilai, pemerintah perlu segera memitigasi kemungkinan lonjakan kasus aktif Covid-19 usai lebaran nanti.

Potensi lonjakan kasus tersebut, kata Erlina, semakin menguat seiring dengan munculnya klaster-klaster baru di sejumlah daerah. Selain itu, bertambahnya pasien di rumah sakit dan meningkatnya kematian akibat Covid-19 juga menjadi indikator yang perlu diwaspadai pemerintah.

"Sejak minggu keempat April 2021 telah terjadi peningkatan kasus positif dan jumlah yang dirawat akibat melemahnya kembali penerapan protokol kesehatan dan munculnya klaster baru," katanya. Erlina khawatir situasi ini menjadi kian memburuk setelah Lebaran. Apalagi, sudah terjadi transmisi lokal varian virus baru di sejumlah daerah.

Menurutnya, pemerintah saat ini juga perlu menyiapkan seluruh fasilitas kesehatan yang ada guna menghadapi kemungkinan lonjakan kasus. Mulai dari menambah kapasitas ruang rawat, ruang ICU, dan tenaga medis di Rumah Sakit (RS), hingga menyediakan berbagai peralatan medis dan obat-obatan untuk pasien.

Tidak ketinggalan, kata Erlina, para tenaga medis pun juga perlu bersiap menghadapi lonjakan dan menangani varian-varian baru virus SARS-CoV-2. “Harus dari sekarang dipersiapkannya, karena setiap ada peningkatan kasus maka peningkatan kebutuhan layanan kesehatan bisa mencapai 20-100 persen,” ujarnya.

Bila berkaca pada kasus-kasus pada tahun lalu, momentum libur panjang memang terbukti menyumbang kenaikan kasus nasional Covid-19 secara signifikan.

Tercatat, dua pekan usai momentum Idul Fitri pada 22-25 Mei tahun lalu, penambahan jumlah kasus positif Covid-19, baik secara harian maupun kumulatif mingguan melonjak hingga 93 persen.

Hal serupa juga terjadi pada libur panjang Agustus 2020 lalu. Penambahan jumlah kasus positif Covid-19, baik secara harian maupun kumulatif mingguan akibat libur panjang pada 20-23 Agustus tersebut, bahkan melonjak hingga 119 persen.

Kondisi ini lantas kembali terulang usai libur panjang yang terjadi pada 28 Oktober-1 November 2020. Peningkatan kasus harian Covid-19 kala itu, mencapai 95 persen dari kondisi normal.

Terakhir, pada momentum libur akhir tahun lalu yang terjadi sejak 24 Desember 2020 hingga 3 Januari 2021, mengakibatkan terjadi peningkatan kasus aktif baru sebesar 78 persen.

Persiapkan Rumah Sakit

Juru Bicara sekaligus Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengklaim, pihaknya sudah mengambil langkah antisipasi terkait lonjakan kasus positif Covid-19 pasca libur Lebaran.

Melalui Surat Edaran (SE) Menteri Kesehatan Nomor 2/2021, tentang Peningkatan Kapasitas Perawatan Pasien Covid-19 pada RS, Nadia mengatakan, Kemenkes telah menginstruksikan penambahan ruang rawat inap bagi pasien Covid-19 di seluruh RS. Penambahan dapat dilakukan melalui alih fungsi dari ruangan-ruangan yang sudah ada.

Lebih lanjut, bagi RS UPT Vertikal yang berada di zona 1, alih fungsi ruangan untuk kapasitas rawat inap dilakukan minimal 40 persen dari total kapasitas tempat tidur yang dimiliki. Dari konversi tersebut, 25 persen diantaranya kemudian akan digunakan sebagai fasilitas ICU.

Untuk RS Unit Pelaksana Teknis (UPT) Vertikal yang berada di zona 2, diwajibkan mengonversi minimal 30 persen dari total tempat tidur yang dimiliki. Kemudian 15 persen dari konversi tersebut akan digunakan untuk ICU.

Sementara untuk RS UPT vertikal yang berada di zona 3, penambahan kapasitas ruang rawat dilakukan minimal 20 persen dari total kapasitas tempat tidur yang dimiliki. Sedangkan untuk ruangan ICU diambil dari 10 persen kapasitas tempat tidur yang telah dikonversikan.

“Saat ini kami meminta RS dan tempat isolasi untuk menyiapkan dan terus memantau tren peningkatan untuk mengantisipasi bila terjadi lonjakan kasus 2-3 minggu setelah Idul Fitri,” katanya ketika dikonfirmasi.

Selain itu, Nadia mengatakan saat ini Kemenkes terus mengkaji kesiapan RS untuk menghadapi kemungkinan terburuk yang dapat terjadi. Mulai dari ketersediaan oksigen, ventilator, dan obat-obatan bagi pasien, serta bahan medis habis pakai hingga kesiapan para tenaga medis.

Mengenai tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) di rumah sakit, Nadia mengatakan saat ini rata-rata BOR secara nasional berada di level 35 persen. Diakuinya memang sudah mulai ada peningkatan BOR RS di 16 provinsi Indonesia.

Peningkatan BOR tersebut terjadi di Riau, Sumatera Utara, Aceh, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, Lampung, Papua, DI Yogyakarta, Sulawesi Tengah, Papua Barat, Maluku Utara, Sumatera Selatan, Maluku, Sulawesi Tenggara, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Poin pentingnya adalah satgas di daerah tidak boleh lengah. Tiap minggu harus evaluasi penambahan kasus konfirmasi, ketersediaan BOR, dan kematian lalu diambil intervensi dengan penguatan protokol kesehatan, penguatan 3 T dan memastikan kesiapan fasilitas kesehatan,” tuturnya.

Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat, terpantau mulai menyiapkan beberapa langkah antisipasi lonjakan pasien usai Lebaran 1442 Hijriah. Koordinator RSDC Wisma Atlet Kemayoran, Mayor Jenderal TNI Tugas Ratmono mengatakan, salah satunya adalah dengan mempertahankan jumlah tenaga kesehatan yang bertugas.

Meskipun, katanya, saat ini angka pasien Covid-19 yang sedang dirawat sudah turun hingga di bawah 30 persen dari total kapasitas tempat tidur sebanyak 5.994 kamar. Faktor mobilitas warga yang tinggi serta munculnya mutasi virus korona dari India, Inggris, dan Afrika Selatan menjadi pertimbangan bagi Tugas untuk segera mengambil langkah antisipasi tersebut.

Apalagi, berdasarkan pengalaman sebelumnya, pasca momentum libur panjang, terjadi lonjakan pasien Covid-19 secara drastis. Sebagai contoh pada 27 September 2020 dan 24 Januari 2021 lalu, usai libur panjang jumlah pasien di RSDC Wisma Atlet Kemayoran melesat hingga di atas 5.000 pasien.

Tugas khawatir, apabila tidak bersiap dari sekarang maka akan berisiko dan berbahaya di kemudian hari. "Kami tidak ingin kejadian tersebut terulang kembali setelah libur Lebaran," ujarnya melalui keterangan tertulis yang diterima Lokadata.id.