Lokadata.ID

Masih ada warga bandel, sanksi sosial diperlukan

Aktivitas pusat perbelanjaan di jalan HZ Mustofa, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (7/5/2020).
Aktivitas pusat perbelanjaan di jalan HZ Mustofa, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (7/5/2020). Adeng Bustomi / ANTARA FOTO

Mayoritas masyarakat dilaporkan sudah mematuhi imbauan pemerintah agar beribadah di rumah selama Ramadan di tengah pandemi Covid-19. Akan tetapi, masih ada warga yang menyebut lingkungannya tidak mendukung penerapan imbauan ibadah dari rumah.

Kesimpulan ini didapat dari hasil survei Komisi Nasional HAM (Komnas HAM) pada 29 April-5 Mei lalu. Dari survei ini diketahui, 94,5 persen warga memilih untuk beribadah di rumah karena pandemi Covid-19.

Meski mayoritas warga sudah beribadah di rumah, namun ada sebagian dari mereka yang mengaku sulit mematuhi isi Surat Edaran Kementerian Agama Nomor 6 Tahun 2020. SE ini mengatur tentang panduan ibadah Ramadan dan Idulfitri di tengah Pandemi Covid-19.

Ada 21,9 persen dari 669 responden survei yang menyatakan hal tersebut. Salah satu halangan yang diungkap adalah, masih adanya kegiatan ibadah berjamaah di rumah ibadah.

Menurut 47,3 persen responden, rumah ibadah di lingkungan mereka masih kerap menggelar ibadah berjamaan pasca SE 6/2020 terbit. Karena itu, muncul pandangan agar penerapan sanksi sosial harus dilakukan terhadap warga yang membandel beribadah di rumah ibadah kala pandemi.

Warga yang tidak mengindahkan imbauan ibadah di rumah beralasan, lebih suka beribadah di rumah ibadah karena faktor kekhusyukan (28,4 persen). Kemudian, ada 11,9 persen warga yang mengaku tidak mengetahui keberadaan SE 6/2020.

“Penerapan sanksi sosial dan/atau denda patut untuk dipertimbangkan bagi mereka yang

melanggar protokol kesehatan khususnya selama bulan Ramadan 1441 H. Hal ini bisa

dilakukan setelah didahului dengan pendekatan dialog dan komunikasi yang konstruktif,” tulis Komnas HAM dalam hasil survei yang dirilis Jumat (8/5/2020).

Sanksi urgen diperlukan

Menurut Komisioner Komnas HAM Choirul Anam, sosialisasi imbauan agar masyarakat tidak beribadah di rumah ibadah kala pandemi harus lebih diintensifkan. Hal ini terutama bagi mereka yang berada di zona merah, atau kawasan di mana terdapat pasien positif Covid-19.

Anam menyebut, pelarangan tegas masyarakat untuk beribadah berjamaah di rumah ibadah harus dilakukan, jika sudah ada salah satu warga di lingkungan sekitar yang positif terpapar Covid-19.

“Ekspresi keagamaan bisa diatur. Jadi bukan membatasi orang beragama,” ujar Anam kepada Lokadata.id.

Komnas HAM memandang sanksi berupa penerapan denda atau kerja sosial menjadi pilihan paling tepat yang bisa dikenakan terhadap warga yang membandel. Kedua jenis sanksi ini dianggap lebih dapat diterima masyarakat, daripada langsung menjatuhkan hukuman pidana kepada pelanggar ketentuan ibadah di rumah ibadah.

Anggapan bahwa sanksi kerja sosial atau denda lebih bisa diterima masyarakat tercermin dalam survei Komnas HAM tersebut.

Ada 33,1 persen warga yang menyatakan setuju dengan ide penerapan sanksi kerja sosial terhadap orang yang tidak mengindahkan imbauan. Kemudian, 24,4 persen setuju bentuk sanksi yang diberikan adalah denda dan kerja sosial. Hanya 13,3 persen warga yang menyatakan setuju opsi sanksi berupa denda. Sisanya, menganggap sanksi tak perlu diberikan.

“Komnas HAM berharap semua masyarakat bisa memilki kesadaran penuh akan hal ini. Agar pandemi korona ini segera berakhir, dan bisa kembali normal dalam kehidupan biasa, termasuk beribadah di tempat ibadah,” ujarnya.

Sebagai catatan, sejak awal Ramadan telah ada sejumlah kejadian masyarakat yang berupaya dan memaksa pelaksanaan ibadah di rumah ibadah tetap digelar.

Pada akhir April lalu contohnya, ada seorang warga yang rumahnya diserbu masyarakat sekitar. Kejadian ini menimpanya lantaran warga terkait diduga melaporkan pelaksanaan ibadah berjamaah di rumah ibadah pada lingkungannya ke Pemprov DKI Jakarta.

Kejadian lain terjadi di Lombok Barat, NTB. Warga di sana dilaporkan menentang penutupan rumah ibadah selama Ramadan. Mereka ingin kegiatan ibadah di rumah ibadah tetap berjalan meski pandemi belum selesai.