Lokadata.ID

Masyarakat makin yakin ekonomi pulih tahun ini

Pengunjung memilih pakaian saat Bali UMKM Expo 2020, di Denpasar, Bali, Jumat (18/12/2020). Indeks Keyakinan Konsumen di denpasar termasuk yang tertinggi.
Pengunjung memilih pakaian saat Bali UMKM Expo 2020, di Denpasar, Bali, Jumat (18/12/2020). Indeks Keyakinan Konsumen di denpasar termasuk yang tertinggi. Nyoman Hendro Wibowo / ANTARA FOTO

Masyarakat semakin optimistis terhadap kondisi perekonomian nasional dan yakin bahwa ekonomi dapat pulih dari dampak pandemi Covid-19 pada tahun ini.

Optimisme publik tersebut terekam dalam survei Bank Indonesia tentang kepercayaan konsumen yang tertuang Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). Bank sentral mencatat, IKK pada Desember 2020 mencapai 96,5, meningkat dari bulan sebelumnya sebesar 92,0.

“Keyakinan konsumen yang membaik pada Desember 2020 didorong oleh menguatnya persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi ke depan,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono, Senin (11/1/2020).

Indeks Kepercayaan Konsumen merupakan salah satu indikator yang mengukur gairah terhadap perekonomian dari sudut pandang konsumen. IKK di atas 100 menandakan adanya optimisme, dan sebaliknya di bawah 100 menunjukkan pesimisme.

Indeks pada Desember ini merupakan yang tertinggi sejak April 2020. Namun, belum bisa menyentuh level pada tiga bulan pertama 2020 ketika pandemi belum masuk ke Indonesia.

Menurut bank sentral, persepsi terhadap ekonomi saat ini membaik karena didukung oleh sejumlah aspek seperti ketersediaan lapangan kerja, penghasilan, dan ketepatan waktu pembelian barang tahan lama.

Bank sentral juga menyebutkan bahwa ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan meningkat, terutama karena persepsi mereka tentang ketersediaan lapangan kerja setelah pandemi.

Bank sentral mengatakan, secara spasial, keyakinan konsumen membaik di 14 kota yang disurvei. Kenaikan IKK tertinggi di sejumlah kota seperti Bandar Lampung, DKI Jakarta, dan Denpasar.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, kenaikan IKK pada Desember ini diduga tidak lepas dari program vaksinasi Covid-yang akan dilaksanakan secara gratis oleh pemerintah. Sebelumnya, pemerintah berencana membagi dua vaksinasi, yang gratis dan yang berbayar (mandiri).

Pada 16 Desember 2020, Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa pemerintah memutuskan bagi warga yang mengikuti program vaksinasi virus korona gratis atau tidak dikenakan biaya sama sekali. Keputusan ini menganulir kebijakan sebelumnya.

“Pengadaan vaksin yang dijanjikan gratis tersebut mendorong peningkatan ekspektasi masyarakat terhadap pemulihan ekonomi, terutama dalam hal ini, ketersediaan pekerjaan di masa mendatang,” kata Josua kepada Lokadata.id, Selasa (12/11).

Menurut Josua, berdasarkan komponen pada survei BI, terlihat bahwa kenaikan IKK tertinggi berasal dari keyakinan terhadap kondisi saat ini, yakni 68,6 dari sebelumnya 60,6. Sebagai perbandingan, indeks ekspektasi konsumen juga naik menjadi 124,3 dari sebelumnnya 123,9.

“Peningkatan ini menunjukkan bahwa kondisi perekonomian Desember mulai berangsur-angsur membaik,” katanya.

Survei bank sentral juga menyebut, IKK pada masyarakat kelompok pengeluaran Rp4,1-5 juta dan di atas Rp5 juta telah mencapai level optimistis, yaitu masing-masing sebesar 100,6 dan 102,9.

Sementara itu, IKK masyarakat kelompok pengeluaran di bawahnya masih berada di zona pesimistis, yakni kelompok pengeluaran Rp1-2 juta sebesar 91,1, kelompok Rp2,1-3 juta sebesar 95,2 dan Rp3,1-4 juta masih di angka 95,3.

“Hal itu menandakan bahwa sebagian masyarakat berpendapatan tinggi mulai menunjukan optimisme,” katanya.

Josua menyebut, IKK pada Januari ini diprediksi akan menurun karena pemerintah kembali memberlakukan pembatasan kegiatan di sejumlah wilayah Jawa-Bali. Namun, penurunannya cenderung terbatas atau tidak jauh berbeda dengan level September-Oktober 2020 karena seiring dengan perkembangan vaksin Covid-19.

“Hingga ada kepastian soal distribusi vaksin Covid-19, diperkirakan IKK masih akan berada kisaran 90 hingga 100,” katanya.

Warga yakin ekonomi pulih tahun ini

Selain semakin optimistis, warga juga yakin ekonomi dapat pulih dari pukulan pandemi Covid-19 pada tahun ini. Keyakinan ini terekam dalam survei Inventure Knowledge-Alvara.

Berdasarkan survei yang dilakukan terhadap 1.121 responden pada Agustus-September 2020 , ditemukan fakta bahwa 51,4 persen warga yakin kondisi keuangan dan ekonomi pulih pada akhir 2020. Sisanya, 27,0 persen warga yakin kondisi keuangan dan ekonomi pulih pada pertengahan 2021, 10,1 persen pada akhir 2021, dan 11,5 persen setelah 2021

Managing Partner Inventure, Yuswohady mengatakan, keyakinan warga terhadap pemulihan ekonomi ini dipengaruhi oleh sejumlah sentimen, di antaranya: hasrat untuk memperbaiki kondisi keuangan, pelonggaran pembatasan kegiatan, dan vaksinasi Covid-19.

Pada sisi hasrat memperbaiki keuangan misalnya, kata Yuswohady, muncul karena konsumen mengalami penurunan pendapatan dan tabungan yang kian menipis. Survei Inventure-Alvara juga menemukan, 67,6 persen responden mengaku pendapatannya menurun, dan 57,6 persen menyatakan tabungannya sudah menyusut.

“Kenapa mereka optimistis karena sudah tidak ada pilihan lain. Jadi sudah pada kondisi bahwa mereka harus kerja,” kata Yuswohady kepada Lokadata.id.

Pelonggaran pembatasan sosial juga memicu kepercayaan publik terhadap pemulihan ekonomi. Sedangkan vaksinasi Covid-19 juga diharapkan dapat mempercepat upaya tersebut. “Yang menarik adalah bahwa even secara real vaksinnya belum datang itu mereka sudah seoptimis itu,” katanya.

Senada dengan Josua, Yuswohady bilang, keyakinan warga diduga bakal tertahan pada Januari ini karena ada pengetatan pembatasan sosial. Namun, dia memprediksi, masyarakat pada tahun ini akan terbiasa dengan pengetatan atau pelonggaran tersebut.

“Masyarakat sudah mulai terbiasa dengan buka tutup. Buka tutup ini saya kira akan jalan terus sepanjang 2021. Konsumen yakin ini karena mereka sudah merasa mumpuni atau mengerti medannya. Tidak seperti (buka tutup) pada 2020 yang betul-betul menakutkan dan membingungkan,” katanya.