Lokadata.ID

Melihat kinerja Archi Indonesia, perusahaan emas Peter Sondakh

Karyawan memotret layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (25/6/2021).
Karyawan memotret layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (25/6/2021). Reno Esnir / ANTARA FOTO

Harga saham PT Archi Indonesia Tbk mulai kembali naik setelah sempat turun sekitar 15 persen (115 poin) pada pertengahan Juli lalu. Kamis (22/7), harga saham perusahaan Peter Sondakh ini sudah di posisi Rp690, delapan persen lagi baru balik ke posisi harga saat IPO (initial public offering) pada 28 Juni lalu.

Pasar saham memang sangat bergejolak sejak awal tahun. Pemegang saham berkode ARCI ini tak banyak mendapatkan gain pada saat masuk bursa. Harga saham ARCI ditutup tipis ke posisi Rp755 per lembar. Namun, IPO ini menghasilkan Rp2,79 triliun dari IPO dengan melepas 3,72 miliar lembar saham, setara dengan 15 persen.

Capaian tersebut merupakan yang tertinggi selama enam bulan pertama 2021. Dari daftar 25 perusahaan yang telah IPO pada sepanjang tahun ini, nilai IPO Archi Indonesia ini jauh mengungguli emiten-emiten sebelumnya, antara lain: PT Bank Multiarta Tbk sebesar Rp625,5 miliar dan PT Indointernet Tbk (Rp595,9 miliar).

Sebanyak 95 persen dana IPO ini akan dipakai untuk membayar utang. Posisi utang Archi memang cukup besar. Dalam laporan keuangan per Desember 2020, total utang (liabilitas) perusahaan yang memiliki tambang emas Toka Tindung di Sulawesi Utara ini mencapai AS$505,89 juta

Dengan total ekuitas sebesar AS$94,34 juta, maka rasio utang terhadap modal (Debt to Equity Ratio/DER)mencapai 5,36 kali. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang memiliki usaha yang sama seperti PT Aneka Tambang Tbk. Perusahaan tambang pelat merah ini memiliki DER hanya 0,67 kali.

Mayoritas saham (84,99 persen) Archi Indonesia dimiliki PT Rajawali Corpora. Sisanya, 0,01 persen dimiliki PT Wijaya Anugerah Cemerlang dan 15 persen telah dilepas ke publik. PT Rajawali Corpora merupakan perusahaan investasi milik konglomerat Peter Sondakh.

Melansir Forbes, Peter Sondakh tercatat sebagai orang terkaya ke 18 dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia. Selain ARCI, Peter juga mengelola sejumlah bisnis lain, seperti: Rajawali Televisi dan bisnis properti St.Regis Bali dan The Four Seasons Hotel Jakarta. Dulu Peter pernah memiliki saham Semen Gresik, dan Bentoel.

Krisis akibat pandemi ternyata tak terlalu banyak mempengaruhi kinerja Archi. Laporan keuangan menunjukkan, pada tahun lalu, perusahaan ini meraih pendapatan sebesar AS$393,3 juta atau setara Rp5,70 triliun (asumsi kurs AS$1 sama dengan Rp14.500). Angka itu tumbuh 2,5 persen dari pendapatan tahun sebelumnya AS$383,7 juta.

Jika dilihat berdasarkan segmen operasinya, pendapatan utama perusahaan dari penambangan emas pada 2020 lalu yang tumbuh tipis 0,8 persen menjadi AS$386,4 juta. Setelahnya, pendapatan perdagangan dan pengolahan emas juga naik 1.323,9 persen menjadi AS$6,9 juta dari sebelumnya hanya AS$485,2 ribu.

Archi Indonesia pada periode yang sama juga meraih kenaikan laba sebesar 32,7 persen menjadi AS$123,3 juta atau setara Rp1,78 triliun. Laba perusahaan ini konsisten tumbuh setidaknya sejak 2014. Kecuali, pada 2019 perusahaan ini mencatatkan penurunan laba sebesar 10,7 persen.

Jika melihat kinerja ARCI, perusahaan ini tentu bukan satu-satunya yang mencatatkan kenaikan laba terutama di tahun pandemi. Sebagai perbandingan, perusahaan emas lain seperti PT Aneka Tambang Tbk pada tahun lalu bahkan mampu mencatatkan pertumbuhan laba sampai 492,9 persen menjadi Rp1,15 triliun.

Menurut Analis Senior dari CSA Research Institute, Reza Priyambada, kinerja perusahaan emas termasuk Archi Indonesia ini utamanya sangat dipengaruhi oleh sentimen harga komoditas emas.

Berdasarkan data Investing, harga emas per Rabu (21/7) lalu tercatat sebesar AS$1.803 per troy ounce. Harga tersebut turun 5,2 persen secara dibandingkan awal tahun (year to date) ini yang mencapai AS$1.901 per troy ounce.

Menurut Reza, naik-turunnya harga emas tak serta merta berdampak pada kinerja keuangan perusahaan emas. Pasalnya, kata Reza, perusahaan dalam mengerjakan proyek pengolahan emas ini berdasarkan kontrak harga yang biasanya sudah ditetapkan secara jangka panjang dengan pelanggan.

“Harga komoditas sifatnya fluktuatif. Tapi harga kontraknya biasanya jangka panjang untuk beberapa tahun dengan harga yang sama. Perusahaan mungkin masih akan memperoleh margin keuntungan meskipun harga jualnya di bawah harga pasarnya,” kata Reza kepada Lokadata.id, Kamis (22/7).

Mantan Head of Research Nonghyup Korindo Securities ini mengatakan, sentimen terhadap perusahaan emas juga datang dari permintaan masyarakat terkait aset tersebut. Selain itu, lanjut Reza, perkembangan peraturan undang-undang mineral dan tambang (minerba) juga bisa menjadi sentimen terhadap kinerja mereka.

Pada perdagangan Kamis (22/7) ini, saham Archi Indonesia ditutup menguat 3,76 persen menjadi Rp690 per saham. Akan tetapi, saham perusahaan ini tercatat sudah menurun sebesar 8,61 persen dari posisi IPO.