logo-lokadata
Membaca isyarat langit lewat hati binatang
Suasana kampung adat Wainyapu, Sumba Barat Daya, NTT, Februari 2018. Di kampung ini hanya tersisa satu orang yang masih menganut Marapu. Wisnu Agung Prasetyo/Beritagar.id

Membaca isyarat langit lewat hati binatang

Penganut Marapu di Pulau Sumba, NTT, diminta untuk memilih salah satu dari enam agama yang ada. Akankah mereka bertahan atau malah akan punah?

Lelaki paruh baya itu berjalan tergopoh-gopoh. Sambil mengunyah sirih pinang, ia membanting tubuhnya di beranda rumah adat Kampung Tarung. Jari-jarinya memencet-mencet telepon genggam.

Mulutnya terus nyerocos dengan bahasa suku setempat. "Rato tak bisa dihubungi. Dua nomor teleponnya tak aktif," kata Klinton Uma Rapuh Manu (40), Sabtu (17/2/2018) sore itu. Rato (kepala suku) yang dimaksud adalah Lado Regi Tera (42) kepala kampung adat Tarung.

Ia memberikan dua nomor kontak Rato Lado itu ke saya. Ia meminta saya menghubungi Rato Lado. Benar, dua nomor kontak itu tak aktif. Ia kembali nyerocos. Wajahnya terlihat gelisah.

Ia khawatir, Rato Lado lupa Jumat malam itu harus menghadiri ritual siri lattu (pembersihan roh) yang bakal diselenggarakan di rumahnya. Ritual pembangunan rumah itu rencananya diselenggarakan mulai pukul 20.00 WITA.

Menurut kepercayaan setempat, sebelum pembangunan rumah dimulai, ritual harus dilakukan untuk mengusir roh-roh jahat dan memanggil roh-roh baik.

Beruntung ada Lidda Mawo Mude (70). Ibu sang Rato Lado ini mencoba menenangkannya. "Tenang saja. Kan ini kewajiban dia. Dia pun sudah berjanji," ujarnya.

Ia tampak tenang. Ia beranjak pulang ke rumahnya yang berjarak hanya 25 meter dari rumah Rato Lado. "Rato pasti tidak lupa," kata Lidda kepada kami.

Sekitar pukul 19.00, warga kampung adat Tarung ---mulai anak-anak hingga orang tua--tumplek blek di rumah itu. Kaum perempuan terlihat sibuk di dapur. Sementara sebagian kaum laki memenuhi ruang tengah. Lainnya duduk di beranda dan jalanan.

Pukul 19.20, Rato yang ditunggu-tunggu muncul. Ia langsung masuk ke ruang tengah berbaur dan ngobrol dengan warga yang ada di situ. Tak lama setelah itu, ia mempersilakan pemimpin ritual membacakan mantra-mantra. Setelah mantra dibaca, rato dan beberapa kaum laki memainkan sejumlah alat musik mengiringi pemotongan ayam jantan.

Batu kubur dan ritual pemanggilan arwah nenek moyang oleh pengikut Marapu di kampung Tarung, Sumba Barat, NTT, Februari 2018. Ajaran Marapu menganggap roh leluhur merupakan perantara mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Batu kubur dan ritual pemanggilan arwah nenek moyang oleh pengikut Marapu di kampung Tarung, Sumba Barat, NTT, Februari 2018. Ajaran Marapu menganggap roh leluhur merupakan perantara mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa. Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id

Di luar rumah, sejumlah warga mengikat babi yang disiapkan untuk upacara. Setelah ditikam, mereka membakar babi itu untuk dibersihkan bulu-bulu halusnya. Babi itu dibersihkan lalu membelah perutnya. Bagian hati babi diambil untuk diberikan ke rato. "Bagus," kata rato setelah membolak-balik hati babi itu.

Hati hewan itu menjadi media bagi mereka untuk melihat apakah ada gejala-gejala tidak baik dalam melaksanakan suatu laku. Jika hati hewan itu dianggap baik, berarti laku yang akan dilaksanakan bisa diteruskan. Namun jika menurut penglihatan pemimpin ritual hatinya jelek, laku harus ditunda. "Yang bisa tahu hati hewan itu baik atau buruk hanya rato," kata Lidda.

Aliran Marapu memang lekat dengan hewan persembahan. Mereka selalu memotong hewan --entah ayam, babi, atau kerbau-- dalam setiap ritualnya.

Usai acara melihat hati babi itu, mereka menggelar acara makan bersama. Semua yang hadir di situ makan ramai-ramai dengan daging bagi sebagai menu utamanya.

Mikael Keraf, Direktur Yayasan Pengembangan Kemanusiaan Donders, punya cerita. Suatu hari lembaganya pernah mengundang seorang rato ke lembaganya untuk berbicara tentang adat istiadat Marapu.

Sebelum pergi, rato melakukan ritual memotong hewan untuk dilihat hatinya. Apakah mereka diizinkan untuk memenuhi undangan Donders atau tidak. Dari hati hewan itu terbaca tanda baik.

Saat mereka hadir malam itu, ada banyak burung --mereka menyebut burung keila-- beterbangan. "Menurut mereka, kehadiran mereka memenuhi undangan kami direstui," kata Mikael yang sudah beberapa tahun ini mendampingi komunitas Marapu.

Penganut Marapu sedang membakar babi untuk ritual pemanggilan kembali arwah yang telah pergi di desa Tarung, Sumba Barat, NTT, Februari 2018. Dalam ritual ini hati babi digunakan untuk melihat petunjuk dari Tuhan.
Penganut Marapu sedang membakar babi untuk ritual pemanggilan kembali arwah yang telah pergi di desa Tarung, Sumba Barat, NTT, Februari 2018. Dalam ritual ini hati babi digunakan untuk melihat petunjuk dari Tuhan. Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id

Dalam kepercayaan setempat arwah-arwah leluhur itu disebut Marapu. Marapu berarti "yang dimuliakan" atau "yang dipertuan." Arwah para leluhur punya tempat yang sangat istimewa bagi para penganut aliran ini.

Bagi mereka, arwah lelulur merupakan mediator untuk berkomunikasi dengan Ama Wulu Ama Rawi (Yang Maha Kuasa). Atau kadang mereka menyebutnya Ina Duka Ina: ibu dari segala ibu atau bapak dari segala bapak. "Mereka tidak boleh menyebut langsung nama Tuhan. Bagi mereka Yang Maha Kuasa itu kudus," kata Mikael.

Mereka mendeskripsikan Tuhan dengan metafor Mabokulu Wua Matana Na Mambalaru (Dia yang bermata besar dan bertelinga lebar).

***

Dari kiri: Umbu Dange (70) dan Umbu Makdanga (80) rato di desa adat Wae Pakoja, Sumba Tengah, NTT,  Februari 2018.
Dari kiri: Umbu Dange (70) dan Umbu Makdanga (80) rato di desa adat Wae Pakoja, Sumba Tengah, NTT, Februari 2018. Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id

Marapu merupakan satu jenis aliran kepercayaan khas Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Di Pulau Sumba, para penganut Marapu tersebar di empat kabupaten: Sumba Timur, Sumba Barat, Sumba Tengah, dan Sumba Barat Daya. Pertengahan Februari lalu, kami sempat mengunjungi beberapa kampung adat di daerah itu.

Di Sumba Barat Daya, kami mendatangi kampung ada yang ada di Desa Wainyapu, Kecamatan Kodi Balaghar. Kampung ini terletak di tepi pantai Wainyapu. Di kampung ini terdapat lebih dari 30 rumah adat (uma kalada). Beberapa rumah tampak sudah rusak bahkan ada yang roboh.

Ruben Rangga Winnyo (60), warga kampung itu menyebut kampung ini dihuni sekitar 100 orang. Di sini, meski budaya Marapu masih lekat namun sebagian besar warganya sudah banyak yang menanggalkan kepercayaan Marapu. "Yang menganut kepercayaan Marapu tinggal Rato," kata Ruben, Senin (19/2/2018). Rato yang dimaksud adalah Wora Ledda (80). Selebihnya memilih enam agama yang dianut mayoritas penduduk Indonesia.

Ruben sendiri mengaku sebagai penganut Kristen. Di keluarganya, yang menganut Marapu hanya almarhum ayahnya. Sedangkan ibu dan saudara-saudaranya memilih Kristen.

Kenapa tak menganut Marapu? "Karena kebutuhan dan biar aman," katanya. Kebutuhan yang dimaksud yakni menyangkut layanan pendidikan anak-anaknya dan juga layanan administrasi kependudukan. Tak sekedar "agama KTP" tapi ia juga selalu datang di acara-acara gereja. Meski begitu, ia dan keluarganya mengaku tak menanggalkan budaya leluhurnya.

Berbeda dengan pengakuan Ama Lado (48) warga kampung adat Tarung, Kelurahan Sobabwawi, Kecamatan Loli, Sumba Barat. Meski masih menjunjung tinggi budaya leluhur namun demi alasan pragmatis dia mencantumkan agama Katolik di KTPnya. "Ya mau bagaimana lagi. Di situ tidak ada pilihan kepercayaan Marapu," ujarnya. "Jadi saya disuruh pilih yang ada saja."

Pengakuan serupa juga dilontarkan Bura Ana Nisa (16), warga Kampung Tarung. Bura yang masih berstatus pelajar SMA setempat mengaku saat masuk sekolah diminta memilih salah satu agama yang ada. "Akhirnya saya pilih Katolik," katanya. Alasannya, karena di sekolah itu tak ada pelajaran khusus untuk penganut aliran kepercayaan Marapu.

Pun Leda Tera Wiri (14). Warga Kampung Tarung yang masih pelajar SMP ini juga mengaku memilih agama Katolik agar ia bisa mengikuti pelajaran agama di sekolah.

Meski mencantumkan status agamanya, ketiga warga Kampung Tarung ini mengaku itu hanya sebatas "agama KTP" saja. Sebab, selama ini mereka mengaku tak pernah datang ke gereja. "Begitu di kampung ya kami Marapu," kata Ama Lado tersenyum.

Kuatnya sikap mempertahankan adat leluhur itu membuat Mikael Keraf yakin, penganut Marapu di Sumba tidak akan punah. Toh kalau pun mereka mencantumkan agama lain di KTP itu hanya sekedar alasan administrasi saja. "Tapi ketika mereka ke rumahnya, ia menjalankan doa-doa leluhur," katanya.

Soal ini Mikael Keraf punya cerita. Katanya, dulu ada seorang anak keturunan rato yang masuk Kristen dan terpilih menjadi anggota DPRD. Ketika kampung asal anggota Dewan ini melakukan pemilihan rato, namanya salah satu yang disodorkan. Dan benar. Dari beberapa nama yang disodorkan, sang anggota Dewan ini terpilih menjadi rato. "Ya akhirnya dia menanggalkan agama Kristen yang sudah dianutnya," ujar Mikael.


Pemotongan hewan ternak dalam acara kematian di Sumba, NTT, Februari 2018. Tradisi menyumbang kerbau, babi atau binatang lain kepada mereka yang mendapat kesusahan masih terjaga.
Pemotongan hewan ternak dalam acara kematian di Sumba, NTT, Februari 2018. Tradisi menyumbang kerbau, babi atau binatang lain kepada mereka yang mendapat kesusahan masih terjaga. Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id

Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Sumba Barat, Yeremia Ndapa Doda yakin sikap kuat keturunan Marapu itu akan membuat Marapu sebagai kepercayaan masih akan terus ada di wilayahnya. Dari data Juni 2017 yang dilakukan Dinas Dukcapil, jumlah penganut Marapu di Sumba Barat mencapai 11.733 jiwa atau 8,8 persen dari 145.061 jiwa total penduduk wilayah ini. Jumlah penganut Marapu di wilayah ini menempati urutan ketiga di bawah penganut Kristen dan Katolik.

"Hak-hak sipil mereka kami penuhi. Hanya memang untuk kolom agama masih tanda setrip," katanya. Ia berharap dengan adanya putusan MK itu, pihaknya akan bisa memberikan hak-hak sipil penganut Marapu secara penuh.

Banyaknya jumlah penganut Marapu ini juga terlihat di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD). Menurut Kepala Bidang Dukcapil Aflianna Kartika Niha, jumlah penganut Marapu berdasarkan data 2015 mencapai 9.517 jiwa dari 303.347 jiwa penduduk wilayah itu. Jumlah penganut Marapu ini berada diurutan ketiga setelah Katolik dan Kristen.

Masih banyaknya jumlah penganut Marapu ini membuat Mikael Keraf tergerak untuk melakukan pendampingan sejak 2011. Pendampingan dilakukan agar komunitas Marapu yang ada di Sumba tidak punah. Pendampingan yang dilakukan di antaranya menanamkan kesadaran akan budaya leluhur, meningkatkan kapasitas Rato, mendata jumlah penganutnya, hingga mendokumentasikan semua tradisi lisan komunitas Marapu ini dalam bentuk tulisan.

Mikael berharap dengan adanya putusan MK itu keberadaan penghayat Marapu di Sumba makin eksis.

Marapu, perantara komunikasi manusia dengan Tuhan