Lokadata.ID

Baru saja melaju, dunia usaha terbentur pembatasan kegiatan

Warga berbelanja makanan dan minuman di salah satu minimarket Kota Bogor, Jawa Barat, (11/12/2020).
Warga berbelanja makanan dan minuman di salah satu minimarket Kota Bogor, Jawa Barat, (11/12/2020). Arif Firmansyah / ANTARA FOTO

Kinerja dunia usaha menjanjikan pemulihan ekonomi lebih cepat di awal tahun ini. Pada kuartal terakhir 2020, kinerja membaik dengan mendekati fase ekspansi. Namun meningkatnya angka penderita Covid-19 yang memaksa pemerintah kembali melakukan pengetatan terutama di Jawa dan Bali, dikhawatirkan menjadi penghambat.

Perbaikan aktivitas dunia usaha ini terekam dalam hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia (BI) pada kuartal IV/2020. Nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) mencapai minus 3,90 persen, tumbuh dari minus 5,97 persen pada kuartal sebelumnya.

“Kegiatan dunia usaha membaik meskipun masih dalam fase kontraksi,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan pers, Rabu (13/1/2021).

Sebagai gambaran, SBT merupakan indikator yang mengukur saldo bersih dunia usaha dengan bobot sektor ekonomi masing-masing. SBT dengan persentase positif mengindikasikan dunia usaha dalam fase ekspansi, dan sebaliknya jika negatif berarti terkontraksi.

Menurut bank sentral, perbaikan aktivitas di dunia usaha ini didorong oleh kinerja sejumlah sektor yang positif, di antaranya: pengangkutan dan komunikasi (SBT 0,76 persen); keuangan, real estate, dan jasa perusahaan (0,79 persen); dan listrik, gas, dan air bersih (0,19 persen).

Sektor usaha lain tercatat mengalami kontraksi yang lebih rendah, seperti: industri pengolahan (minus 0,47 persen); konstruksi (minus 0,23 persen); dan perdagangan, hotel dan restoran (minus 0,80 persen). Triwulan sebelumnya masih di atas minus 1 persen.

BI juga menyebut, di periode yang sama, kondisi keuangan perusahaan mengalami perbaikan secara signifikan. Saldo Bersih (SB) Likuiditas tercatat mencapai 8,59 persen, naik dari kuartal sebelumnya sebesar minus 2,82 persen. Sedangkan SB rentabilitas yang menunjukkan kemampuan mencetak laba mencapai 5,66 persen, membaik dari sebelumnya minus 6,34 persen.

Perbaikan kinerja ini salah satunya dialami sektor makanan-minuman, yang tergabung dalam industri pengolahan atau manufaktur. Dalam survei BI, SBT industri makanan, minuman, dan tembakau mencapai 0,13 persen, naik dari sebelumnya minus 0,50 persen.

Menurut Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi S. Lukman, sektor usahanya pada kuartal akhir 2020 membaik sejalan dengan pulihnya permintaan terutama dari kelas menengah dan menengah atas. Permintaan dari kelas ekonomi ini, katanya, memiliki kontribusi terbesar terhadap total permintaan di industri makanan dan minuman.

“Dengan kelas menengah dan menengah atas ini sudah mulai ada kegiatan dan berani konsumsi, saya kira ekonomi terus membaik,” kata Adhi kepada Lokadata.id, Kamis (14/1).

Namun demikian, perbaikan permintaan tersebut belum mampu mengerek kenaikan profit. Dia menyebut, sepanjang tahun ini sebagian besar pelaku usaha di industri ini berada di fase bertahan. “Yang penting kami tetap bisa jalan, meskipun sebagian pasti ada yang rugi juga,” katanya.

Adhi memproyeksikan industri makanan minuman pada kuartal IV/2020 bisa tumbuh di kisaran 1 sampai 2 persen. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, industri ini pada sepanjang kuartal III/2020 tumbuh 0,66 persen dibanding periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy).

Pelaku usaha di sektor hotel dan restoran juga mengakui ada perbaikan kinerja. Pada survei BI, kegiatan usaha sektor perdagangan, hotel dan restoran terindikasi membaik dengan sebesar minus 0,80 persen, dari sebelumnya minus 2,30 persen.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran mengatakan, jika dibandingkan dengan kuartal III/2020 jelas terlihat perbaikan kinerja.

Pada periode ini terjadi peningkatan mobilitas masyarakat melalui momentum libur Natal 2020 dan Tahun Baru 2021. Hanya saja, Maulana mengatakan pemulihan yang terjadi pada periode ini tidaklah signifikan dibanding koreksi kinerja hotel dan restoran akibat pandemi Covid-19.

“Kalau secara kuartal jelas pasti ada kenaikan, karena memang dibantu momentum liburan dan memang termasuk high season. Tapi kalau dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya jelas tidak ada apa-apanya,” kata Maulana kepada Lokadata.id.

Ia juga mengatakan, indikasi torehan laba bagi perusahaan pada periode ini seperti yang dilaporkan BI juga tidak terjadi. Sebab, meski ada peningkatan okupansi pada hotel dan restoran hanya berada di kisaran 30 sampai 35 persen saja.

Rata-rata pendapatan pelaku usaha di sektor ini pun dikatakan Maulana paling tinggi hanya mencapai 50 persen sampai 55 persen dari level sebelum pandemi Covid-19 atau pada 2019 lalu. “Mana bisa kami sudah memperoleh laba, ada peningkatan kunjungan iya, tapi bukan berarti kamu langsung untung begitu,” jelasnya.

Dampak pengetatan

Survei bank sentral memproyeksikan kinerja positif dunia usaha akan berlanjut pada kuartal I/2021 ini dengan SBT mencapai 7,68 persen. Namun, perkiraan ini disinyalir belum mempertimbangkan dampak dari Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di sejumlah wilayah di Jawa-Bali yang dimulai pada Senin (11/1) lalu sampai 25 Januari.

Pada industri makanan dan minuman, misalnya, diperkirakan SBT di sepanjang Januari-Maret ini tumbuh 0,54 persen. Menurut Adhi Lukman, sektor ini tidak terlalu terpengaruh pengetatan pembatasan kegiatan. Dia optimistis tahun ini bisa tumbuh signifikan.

“Optimisme dari industri mamin sebenarnya masih cukup tinggi. Bahkan, kami sekarang ini sedang mempersiapkan untuk puasa dan lebaran. Di mana pada tahun lalu itu boleh dikatakan tidak ada puasa dan lebaran, dan banyak yang memperkirakan tahun ini orang cenderung lebih euforia untuk merayakan lebaran sehingga akan lebih meriah,” katanya.

Sementara pada sektor perdagangan, hotel, dan restoran diproyeksikan bisa bangkit dari fase kontraksi dengan SBT tumbuh positif mencapai 0,87 persen. Namun, Maulana Yusran mengaku pesimistis karena pasca momentum libur Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 ini akan memasuki musim low season sehingga dorongan untuk kembali meningkat pada periode ini semakin kecil.

Penyelenggaraan sektor meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) dari pemerintah pun dirasanya tidak akan banyak. Biasanya sektor ini baru mengalami peningkatan permintaan pada akhir Maret atau awal April.

Di sisi lain, kebijakan pembatasan mobilitas di Jawa dan Bali, menurut Maulana, juga sedikit banyak bakal berpengaruh terhadap kinerja tiga bulan pertama di 2021.

“Karenanya menurut saya angka itu terlalu optimistis. Sebab sektor ini tidak bisa dipukul rata akan selalu naik seperti sektor lainnya. Dengan berbagai kondisi tersebut, bukan tidak mungkin justru akan kembali turun dari capaian di akhir 2020,” tuturnya.